5 Fakta Unik Owa Jawa, Primata Setia dari Tanah Jawa

- Nyanyian merdu owa jawa betina menjadi penanda teritori kekuasaannya
- Owa jawa adalah primata yang sangat setia pada satu pasangan seumur hidupnya
- Mereka adalah atlet akrobatik ulung di puncak-puncak pohon
Mendengar kata primata, mungkin yang terlintas di benak kita adalah monyet ekor panjang yang sering dijumpai di tempat wisata. Namun, di belantara hutan-hutan Pulau Jawa yang tersisa, hidup satu primata istimewa yang sering kali luput dari perhatian kita, dialah owa jawa (Hylobates moloch). Satwa yang punya nama lokal owa jawa ini bukanlah monyet, melainkan bagian dari keluarga kera yang membuatnya lebih dekat kekerabatannya dengan manusia.
Primata berwarna abu-abu keperakan ini merupakan satwa endemik yang hanya bisa ditemukan di bagian barat dan tengah Pulau Jawa, menjadikannya harta karun hayati kebanggaan Indonesia. Sayangnya, keberadaannya kini makin terimpit oleh aktivitas manusia yang mengubah habitatnya. Kehidupan owa jawa yang unik di pucuk-pucuk pohon hutan hujan tropis menyimpan banyak cerita, mulai dari cara mereka berkomunikasi hingga struktur sosialnya yang bisa jadi inspirasi. Yuk, kenali mereka lebih dekat!
1. Nyanyian merdu owa jawa betina menjadi penanda teritori kekuasaannya

Kalau kamu sedang menjelajah hutan di Jawa Barat dan mendengar alunan suara nyaring nan merdu di pagi hari, bisa jadi itu adalah "konser" dari seekor owa jawa betina. Dilansir New England Primate Conservancy, owa jawa memiliki cara unik untuk berkomunikasi dan mempertahankan wilayahnya, yaitu melalui nyanyian. Uniknya, tidak seperti spesies owa lain yang jantan dan betinanya sering berduet, pada owa jawa justru sang betina yang mengambil peran sebagai vokalis utama.
Nyanyian sang betina ini bukanlah sekadar alunan tanpa makna. Suaranya yang bisa terdengar hingga radius satu kilometer merupakan sebuah deklarasi kuat kepada kelompok owa lain bahwa area tersebut telah dimiliki. Sang jantan biasanya hanya sesekali menyahut dengan panggilan "hoot" yang lebih sederhana, atau akan bertindak lebih agresif jika ada penyusup yang nekat mendekat. Saat ada ancaman, pejantan akan berteriak, mengguncang dahan, dan tanpa ragu mengejar penyusup itu dengan gaduh.
2. Owa jawa adalah primata yang sangat setia pada satu pasangan seumur hidupnya

Di dunia yang serba kompleks ini, konsep kesetiaan seumur hidup mungkin terdengar seperti dongeng. Namun, bagi owa jawa, monogami adalah prinsip hidup yang mereka jalani dengan sungguh-sungguh. Dilansir Animal Diversity Web, owa jawa membentuk ikatan pasangan seumur hidup. Mereka hidup dalam kelompok keluarga kecil yang biasanya terdiri dari satu pasangan dewasa beserta satu atau dua anaknya yang belum mandiri.
Struktur keluarga yang erat ini menjadi inti dari kehidupan sosial mereka. Sang induk akan melahirkan satu anak setiap rata-rata tiga tahun sekali setelah periode kehamilan selama tujuh bulan. Anak owa jawa akan terus dirawat dan disusui oleh induknya hingga berusia sekitar 18-24 bulan dan akan tetap tinggal bersama keluarganya sampai mereka dewasa secara seksual pada usia delapan hingga sepuluh tahun. Setelah dewasa, barulah mereka akan meninggalkan kelompok untuk mencari pasangan dan memulai keluarga mereka sendiri.
3. Mereka adalah atlet akrobatik ulung di puncak-puncak pohon

Dengan lengan yang panjangnya bisa mencapai dua kali panjang tubuhnya, owa jawa adalah seorang ahli brachiation, yaitu teknik berayun dari dahan ke dahan menggunakan tangan. Kemampuan ini memungkinkan mereka bergerak dengan sangat cepat dan efisien di kanopi hutan, seolah sedang menari di udara. Dilansir New England Primate Conservancy, kecepatan gerak mereka saat berayun bisa mencapai 56 kilometer per jam dan mereka mampu melompat antar pohon sejauh 15 meter!
Gaya hidup mereka yang sepenuhnya arboreal atau di atas pohon membuat kemampuan ini sangat vital untuk bertahan hidup. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari makan, beristirahat, dan bersosialisasi di ketinggian. Owa jawa sangat jarang turun ke tanah. Untuk menunjang gaya hidup ini, anatomi tubuh mereka sangat mendukung, mulai dari pergelangan tangan yang fleksibel, bahu yang dapat berputar penuh, hingga jari-jari panjang dengan ibu jari yang lebih pendek untuk cengkeraman yang kuat.
4. Menu utama mereka adalah buah-buahan dan dedaunan pilihan

Sebagai primata frugivora, owa jawa adalah pencinta buah sejati. Berdasarkan data dari Palm Oil Detectives dan Animalia.bio, sekitar 61% dari makanan mereka adalah buah-buahan matang yang mereka temukan di kanopi hutan. Sisanya, sekitar 38%, adalah dedaunan muda, dan sesekali mereka juga akan memakan bunga atau serangga sebagai pelengkap nutrisi. Pola makan ini menjadikan mereka agen penyebar biji yang sangat penting bagi regenerasi hutan.
Karena buah-buahan di hutan sering kali tersebar dan tidak selalu tersedia di satu lokasi, owa jawa harus menjelajahi area yang cukup luas setiap harinya. Sebuah kelompok keluarga owa jawa bisa memiliki wilayah jelajah antara 17 hingga 60 hektar. Dengan memakan buah di satu pohon lalu berpindah ke lokasi lain dan membuang bijinya melalui kotoran, mereka secara tidak langsung membantu menanam pohon-pohon baru dan menjaga kesehatan ekosistem hutan tempat mereka tinggal.
5. Populasi owa jawa kini terancam punah akibat kehilangan rumah

Di balik semua keunikan dan peran pentingnya bagi alam, masa depan owa jawa diselimuti awan kelabu. Status konservasi mereka menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) adalah Terancam Punah (Endangered). Ancaman terbesar yang mereka hadapi adalah hilangnya habitat secara masif akibat deforestasi untuk pembukaan lahan pertanian, perkebunan kelapa sawit, dan penebangan liar.
Saat ini, diperkirakan hanya tersisa kurang dari 2.500 individu owa jawa dewasa di alam liar, dan jumlah ini terus menurun. Selain kehilangan rumah, perburuan liar untuk dijadikan hewan peliharaan juga menjadi ancaman serius. Para pemburu sering kali membunuh induknya untuk mengambil bayinya yang lucu, sebuah praktik kejam yang merusak struktur keluarga owa jawa. Tanpa upaya konservasi yang serius dan perlindungan habitat yang ketat, primata setia kebanggaan Jawa ini bisa benar-benar hilang selamanya.
Mengenal owa jawa lebih dekat membuka mata kita bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa namun juga sangat rapuh. Kesetiaan, keanggunan, dan peran ekologis mereka adalah pengingat betapa pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai rumah bagi mereka dan jutaan spesies lainnya. Mari bersama-sama meningkatkan kepedulian agar nyanyian merdu owa jawa tetap terdengar di hutan-hutan Pulau Jawa untuk generasi-generasi yang akan datang.


















