Ikan trout atau ikan forel berenang di sungai dangkal. (unsplash.com/jackcharles)
Dampak letusan gunung berapi gak hanya terasa pada sistem sungai di wilayah tersebut. Pada skala lebih besar, letusan gunung berapi yang sangat dahsyat juga bisa mempengaruhi sungai-sungai di seluruh dunia. Sebuah studi yang dilansir Nature Geoscience 2015 lalu menemukan penurunan debit sungai signifikan pada sungai-sungai besar di dunia setelah beberapa letusan dahsyat, seperti Letusan Krakatau 1993, Letusan El Chicón 1982, dan Letusan Pinatubo 1991.
Mengutip laman Earth Magazine, saat Gunung Pinatubo di Filipina meletus hebat 1991 lalu, erupsi melontarkan lebih dari 20 juta ton abu dan sulfur ke alpisan stratosfer. Partikel tersebut menghalangi sinar matahari dan menurunkan suhu global 0,5 derajat Celsius selama tiga tahun. Curah hujan menurun di sebagian besar wilayah bumi, khususnya di wilayah tropis beriklim basah.
Efek curah hujan akibat letusan gunung berapi ini terlihat pada debit sungai di seluruh dunia. Di wilayah tropis, debit air beberapa sungai menjadi berkurang selama 1—2 tahun karena massa udara turun. Contohnya, debit Sungai Amazon dan Sungai Nil turun sekitar 10 persen setelah letusan besar.
Di wilayah kering, sungai justru mengalami peningkatan debit air akibat massa udara naik dan curah hujan tinggi. Contohnya, sungai Rio Negro dan Sungai Rio Colorado. Keduanya mengalami peningkatan sebesar 25 persen.
Jadi, letusan gunung berapi gak hanya merusak geometri sungai yang dilalui lahar dan awan panas. Abu vulkanik yang dihasilkan letusan gunung berapi juga turut mencemari sungai. Bahkan, letusan gunung berapi yang sangat dahsyat bisa berdampak pada sungai-sungai besar di seluruh dunia.