Kenapa Gunung Berapi Bisa Tumbuh Lebih Tinggi?

- Letusan berulang menumpuk lava dan abu yang kemudian mengeras, sehingga gunung berapi dapat bertambah tinggi serta lebar. Jenis lava turut menentukan bentuknya, dari kerucut curam hingga kubah landai.
- Pertumbuhan tidak berlangsung selamanya: gunung yang membesar bisa makin tidak stabil, memicu longsor raksasa atau runtuh akibat letusan. Letusan Krakatau 1883 menghancurkan hampir seluruh pulaunya dan membentuk cekungan.
- Letusan besar juga dapat mengurangi ketinggian gunung. Tambora, setelah erupsi 1815, turun dari 4.300 menjadi 2.851 mdpl dan meninggalkan kaldera berdiameter 6 kilometer.
Jika melihat gunung berapi di kejauhan, kita gak akan melihat perbedaan apapun. Rasanya bentuk, ukuran, tampilan, bahkan ketinggiannya pun terlihat sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun ternyata, gunung juga bisa berubah, lho! Tentu aja perubahan ini gak terjadi dalam semalam.Â
Perubahan yang terjadi gunung hanya bisa terjadi ketika gunung tersebut mengalami letusan berkali-kali. Dilansir USGS, letusan ini bukan hanya mengubah penampilan gunung secara keseluruhan tapi juga bisa membuat gunung berapi tumbuh lebih besar dan tinggi. Kok bisa? Berikut penjelasannya!
1. Lava yang menumpuk membuat gunung semakin tinggi

gambar lava dari gunung berapi yang sedang erupsi (unsplash.com/Tetiana GRY) Magma terbuat dari batuan, kristal, gas, dan sejumlah bahan kimia yang melewati suhu sangat panas sehingga teksturnya menjadi cair. Batuan cair yang naik melalui lubang-lubang vulkanik disebut magma, tetapi setelah meletus batuan cair ini disebut lava. Dilansir Oregon State University, lava serta abu yang keluar akan melapisi permukaan gunung berapi, dan mengeras kembali menjadi batu setelah suhunya dingin. Jika sebuah gunung mengalami letusan berkali-kali, maka lapisan lava ini akan semakin tebal, membuat gunung jadi lebih tinggi, dan semakin lebar.
Aliran lava ini juga mempengaruhi bentuk gunung secara keseluruhan. Gunung stratovolcano misalnya, memiliki bentuk seperti kerucut dengan sis curam dan rata. Gunung seperti ini terbentuk dari lapisan-lapisan aliran lava kental, abu vulkanik, kerikil, dan bongkahan yang terus berulang, membuatnya tampak tinggi menjulang. Sedangkan gunung berapi berbentuk perisai terbentuk dari aliran lava cair yang dapat mengalir lebih jauh. Saat aliran lava tumpang tindih selama ribuan tahun, mereka akhirnya membentuk kubah yang lebar dan landai.Â
2. Pertumbuhan gunung berapi gak berlangsung selamanya

gambar semburan asap dan debu dari gunung berapi (unsplash.com/Gary Saldana) Melihat gunung yang begitu kokoh, sulit rasanya membayangkan bahwa gunung tersebut bisa runtuh. Namun hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil. Dilansir USGS, ketika sebuah gunung tumbuh semakin besar, gunung tersebut akan jadi semakin tidak stabil, dan akhirnya memicu keruntuhan. Keruntuhan di mulai dari tanah longsor raksasa, yang kemudian berubah menjadi longsoran puing dalam jumlah besar. Puing-puing yang terdiri dari batuan dan material vulkanik akan bergerak cepat menuruni lereng, dan membawa sebagian besar tubuh gunung.
Selain itu, sebuah gunung juga bisa hancur karena letusanya sendiri. Letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 misalnya. Ketika Krakatau meletus, suara letusan gunung itu begitu keras hingga terdengar dari jarak hampir 5.000 kilometer jauhnya. Letusan itu juga menghasilkan tsunami setinggi 40 meter, dan menerjang 300 desa yang berada di Selat Sunda. Saking dahsyatnya, letusan tersebut bahkan menghancurkan hampir seluruh Pulau Krakatau dan beberapa pulau lain di sekitarnya. Gunung Krakatau sendiri runtuh dan hanya menyisakan cekungan yang terbentuk setelah ruang magma kosong.Â
3. Gunung berapi juga bisa mengurangi ketinggiannya

gambar kaldera Gunung Tambora (commons.m.wikimedia.org/Jialiang Gao) Gak hanya bertambah tinggi atau hancur karena letusannya sendiri, ketinggian gunung berapi juga bisa berkurang setelah meletus. Hal ini juga terjadi pada Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, setelah meletus hebat pada 10 April 1815 Lalu. Dilansir NASA, saat Tambora meletus, gunung ini melontarkan begitu banyak abu vulkanik ke atmosfer sehingga matahari tak terlihat selama beberapa hari, menurunkan suhu rata-rata Bumi sebanyak 0,4 hingga 3 derajat Celcius di tahun berikutnya, dan membuat belahan Bumi utara mengalami apa yang mereka sebut dengan tahun tanpa musim panas.
Di Sumbawa, sepuluh ribu orang tewas dan lebih dari 80 ribu lainnya juga meninggal dunia karena penyakit, kelaparan, dan gagal panen. Namun letusan Tambora bukan hanya menyakiti dunia. Lebih dari itu, letusan besar ini juga menghancurkan sebagian besar tubuhnya dan mengurangi ketinggiannya dari 4.300 mdpl jadi 2.851 mdpl. Menyisakan kaldera raksasa berdiameter 6 kilometer dengan kedalaman 1.100 meter.
Pertumbuhan gunung jelas gak sama dengan pertumbuhan makhluk hidup. Pertumbuhan gunung sepenuh terjadi karena aktivitas vulkanis. Semakin sering sebuah gunung erupsi, maka ketinggiannya pun akan semakin bertambah. Di sisi lain, pertambahan tinggi ini juga membuat gunung berapi semakin gak stabil yang memicu kehancurannya sendiri.






















