Referensi:
"Mengulik Sejarah Angpau Lebaran". Universitas Airlangga. Diakses Maret 2025.
"Cash Spreads the Joy of Eid". Cash Matters. Diakses Maret 2025.
Asal-usul Berbagi Amplop Lebaran, Kapan Mulai Dilakukan?

- Tradisi berbagi amplop Lebaran diyakini berakar dari masa Kekhalifahan Fatimiyah yang membagikan uang dan hadiah pada hari pertama Idul Fitri sebagai bentuk kedermawanan.
- Budaya ini kemudian menyebar ke Indonesia melalui proses akulturasi, berkembang menjadi kebiasaan orang tua memberi uang saku kepada anak-anak sebagai tanda kasih dan apresiasi setelah berpuasa.
- Kebiasaan menggunakan uang baru muncul sekitar tahun 1990-an karena dianggap lebih pantas dan melambangkan kesucian Idul Fitri, sejalan dengan tradisi memakai baju baru saat Lebaran.
Idul Fitri terasa istimewa, terlebih bagi anak-anak. Bagaimana tidak, momen ini menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi dengan saudara yang tak pernah jumpa. Tak hanya bersalam-salaman, mereka yang lebih tua kerap kali menyelipkan amplop berisi uang saku kepada anak-anak. Tentunya menyenangkan, bukan?
Erat dengan momen Idul Fitri, bagaimana asal-usul berbagi amplop Lebaran ini dimulai? Ada berbagai pendapat terkait awal munculnya budaya tersebut di Indonesia. Salah satunya adalah hasil akulturasi dengan budaya lain. Begini penjelasannya.
Table of Content
Asal-usul berbagi amplop Lebaran
Konon, tradisi memberikan uang saku saat Lebaran dimula pada awal Abad Pertengahan. Pada masa itu, kekhalifahan Fatimiyah di Afrika Utara membagikan uang, pakaian, atau permen kepada rakyatnya pada hari pertama Idul Fitri.
Tradisi tersebut berlangsung hingga akhir era Ottoman atau sekitar 5 abad kemudian. Akan tetapi, kebiasaan ini mengalami sedikit perubahan. Bukan lagi pemberian ke rakyat, tetapi lebih seperti hadiah kepada keluarga.
Sementara itu, tradisi memberikan uang kepada sanak-saudara saat Lebaran merupakan bagian dari praktik sosial untuk memperkuat persaudaraan. Dalam Islam, ini juga menjadi wujud nilai kedermawanan.
Lantas, bagaimana tradisi tersebut bisa masuk ke Indonesia? Sayangnya, tidak ditemukan catatan sejarah mengenai pemberian angpau Lebaran di Indonesia. Akan tetapi, ada cerita sosok kaisar yang datang ke Jawa dan memberi uang sebagai tanda tali asih, sebagaimana penjelasan Moordiati, S.S., M.Hum., menjelaskan dalam situs Universitas Airlangga.
Hal tersebut lantas berkembang dan diadopsi menjadi kebiasaan orang tua untuk memberi uang saku kepada mereka yang lebih mudah sebagai tanda kasih sayang. Lantas, kenapa dilakukan pada momen Lebaran? Nah, pada momen ini, pemberian hadiah menjadi apresiasi bagi sang anak yang telah menjalankan puasa selama sebulan lamanya.
Akan tetapi, tradisi ini lantas berubah menjadi ciri khas Lebaran. Siapa saja bisa memberikan uang saku ke mereka yang lebih muda. Beberapa bahkan orang menganggapnya sebagai kewajiban.
Kenapa pakai uang baru?

Ada yang lebih unik dari tradisi memberikan uang saku saat Lebaran ini. Di Indonesia, uang yang diberikan kerap kali merupakan uang baru. Jasa penukaran pun laku. Bahkan ada yang menjajakannya di pinggir jalan. Pertanyaannya, kenapa harus uang baru?
Tren ini berkembang sekitar tahun 90-an. Alasannya pun sangat unik. Uang baru dianggap lebih pantas diberikan kepada orang lain. Bukan hanya itu, uang baru juga berkaitan dengan Idul Fitri yang identik dengan kesucian. Nah, sama seperti baju baru, anggapannya uang pun demikian.
Di sisi lain, besaran angpau Lebaran juga menjadi gambaran status sosial seseorang, lho. Makin tinggi status sosialnya, besaran nominal yang diberikan pun semakin besar.
Meski asal-usul berbagi amplop Lebaran tidak sepenuhnya bisa jelas ditelusuri, makna yang terkandung di dalamnya sangat bisa diamini. Bukan sebuah kewajiban, pemberian uang saku merupakan langkah baik untuk mempererat persaudaraan. Namun, kalau tidak ada juga tak perlu dipaksakan, ya.
FAQ seputar asal-usul berbagi amplop lebaran
| Apa kemiripan tradisi ini dengan budaya Tionghoa? | Konsep pemberian uang dalam amplop sangat identik dengan tradisi Angpao pada perayaan Imlek. Di Indonesia, masyarakat Muslim mengadaptasi cara praktis ini dengan mengganti warna amplop (biasanya hijau atau warna-warni khas Idulfitri) sebagai simbol berbagi rezeki. |
| Kapan tradisi pemberian uang mulai populer secara formal di Indonesia? | Tradisi ini semakin kuat dan meluas setelah adanya kebijakan Tunjangan Hari Raya (THR) yang diperkenalkan pada era 1950-an (masa kabinet Sukiman). Adanya uang ekstra di tangan para pekerja memicu kebiasaan berbagi kepada keluarga dan tetangga di kampung halaman. |
| Apa makna filosofis di balik berbagi amplop Lebaran? | Secara spiritual, tradisi ini dimaknai sebagai bentuk sedekah dan syukur atas kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Bagi anak-anak, ini juga berfungsi sebagai apresiasi atau hadiah karena telah belajar menjalankan ibadah puasa. |







![[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin, Kami Tahu Kamu Cocok Tinggal di Planet Mana](https://image.idntimes.com/post/20250530/img-20250530-205757-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-bbcab86100b55cd45d995c1c12e6c570.jpg)










