Burung inca tern (commons.wikimedia/Olaf)
Pada abad ke-19, ilmuwan pertama kali mengusulkan bahwa burung berasal dari dinosaurus setelah penemuan fosil Archaeopteryx pada tahun 1861. Fosil ini memiliki ciri-ciri reptil dan burung, seperti gigi, ekor bertulang panjang, dan bulu, sehingga menjadi bukti kuat tentang spesies transisi. Namun, baru pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, penemuan fosil di Provinsi Liaoning, Tiongkok, mengkonfirmasi bahwa banyak dinosaurus non-burung memiliki bulu, tulang selangka, dan sistem pernapasan seperti burung.
Analisis filogenetik modern menempatkan burung dalam kland Theropoda, yakni kelompok yang mencakup dinosaurus karnivora terkenal seperti Tryannosaurus Rex dan Velociraptor. Lebih spesifiknya, burung termasuk dalam Sub kelompok Maniraptora, yang memiliki banyak adaptasi kerangka yang sama dengan burung yang biasa terbang dan tidak bisa terbang. Dalam hal ini termasuk tulang berongga, pergelangan tangan yang dapat berputar, dan tulang selangka yang menyatu.
Dinosaurus yang hidup di darat berevolusi menjadi burung yang bisa terbang melalui perubahan bertahap, seperti tubuh yang semakin kecil, tungkai depan yang memanjang, dan bulu terbang asimetris yang berkembang.