Raja Siam pertama, Raja Mongkut, mengenakan jubah kenegaraan, Bangkok. (commons.wikimedia.org/J. Thomson)
Dikutip Britannica, Raja Mongkut dari Siam (mantan raja Thailand), yang memerintah dari tahun 1851 hingga 1868, sangat tertarik dengan astronomi. Obsesinya itu membawa dirinya melakukan perjalanan ke sebuah desa terpencil untuk menyaksikan peristiwa astronomi paling menarik dalam hidupnya, yaitu gerhana matahari total. Ia pun memprediksi waktu dan durasi gerhana dengan ketepatan yang luar biasa, bahkan mengungguli para astronom Prancis, yang meleset dua detik.
Mongkut menyaksikan peristiwa itu dengan kagum. Namun, ia digigit nyamuk selama perjalanan, dan meninggal karena malaria beberapa minggu kemudian. Meskipun gerhana itu sendiri tidak secara langsung memenuhi pertanda yang diperingatkan kepadanya oleh para astrolog kerajaan, ada kemungkinan "senja palsu" yang disebabkan oleh gerhana tersebut yang membingungkan hewan, termasuk nyamuk, yang menjadi penyebab munculnya banyak nyamuk pada malam itu, seperti yang dilansir Science History.
Kematian Raja Mongkut yang ironis di dekat gerhana tersebut semakin memperkuat takhayul seputar gerhana. Sebab, jika ia tetap berada di rumah, seperti yang disarankan oleh para astrolognya, bisa saja ia selamat dari gigitan nyamuk yang mematikan itu. Namun, bahaya gerhana lebih bersifat supranatural daripada biologis, dan peristiwanya selalu muncul dengan pola yang sama, serta selalu menimbulkan kehebohan. Bahkan kematian Raja Harald V dari Norwegia pada tahun 2026 pun memicu perbincangan para penganut takhayul, karena terjadi dalam waktu setengah jam setelah gerhana bulan.
Yap, prediksi kematian dan tragedi kini sebagian besar dianggap sebagai takhayul aja, nih. Seperti yang kamu tahu, satu-satunya bagian tubuh yang mungkin berada dalam bahaya selama gerhana adalah retina kita aja.