ilustrasi mamalia laut beruang kutub (pexels.com/Niklas Jeromin)
Semua karakteristik khusus bulu pelindung beruang kutub ini bekerja bersama dengan kekuatan cahaya untuk membuat beruang kutub tampak putih. Begini caranya:
Saat cahaya matahari mengenai bulu pelindung beruang kutub yang transparan, sebagian energinya masuk ke dalam helai bulu dan terjebak di sana. Cahaya tersebut kemudian terus memantul di dalam bagian bulu yang berongga hingga memicu reaksi bernama luminesensi, yaitu proses pemancaran cahaya kembali. Fenomena ini berlangsung secara terus menerus setiap kali cahaya mengenai bagian dalam bulu tersebut.
Pancaran cahaya ini dipercepat oleh partikel penghambur cahaya. Untuk lebih jelasnya, jika kamu mengamati bulu pelindung beruang kutub dengan sangat dekat melalui mikroskop super, kamu dapat melihat benjolan-benjolan kecil, di mana benjolan kecil ini adalah partikel penghambur cahaya.
Semua pantulan cahaya di dalam bulu pelindung ini menyebabkan cahaya keputihan dipancarkan oleh bulu tersebut, membantu beruang kutub tampak putih dan menyatu dengan lingkungan salju dan es Artik.
Partikel penyebar cahaya tidak hanya ditemukan di bagian dalam bulu, tetapi juga di bagian luarnya. Beruang kutub mengambil partikel garam dari berenang atau berada di dekat air laut asin. Partikel garam ini, bersama dengan permukaan bulu yang kasar, juga bertindak sebagai partikel penyebar cahaya yang menyebabkan lebih banyak cahaya memantul.
Cahaya merambat dalam bentuk gelombang atau disebut panjang gelombang. Setiap warna memiliki panjang gelombang yang sedikit lebih pendek daripada warna sebelumnya. Cahaya ini bagian dari spektrum tampak, tetapi ada lebih banyak bentuk cahaya yang tidak dapat kita lihat.
Cahaya tersebut disebut sebagai sinar ultraviolet atau sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang yang terlalu pendek untuk dilihat oleh manusia dan mamalia, tetapi masih ditemukan dalam sinar matahari.
Saat matahari menyinari beruang kutub, sinar UV dalam matahari menembus hingga ke pangkal bulu pelindung, di mana ia bersentuhan dengan kulit gelap beruang. Ketika sinar UV mengenai kulit, ia menghasilkan warna keputihan karena fluoresensi.
Keratin adalah protein paling umum dan ditemukan di kulit, kuku, dan rambut. Sama seperti manusia, beruang kutub juga memiliki keratin di rambutnya. Molekul protein ini memiliki sedikit warna putih kekuningan, yang semakin membuat bulu beruang kutub terlihat dominan putih.
Sebagai penutup, sejatinya bulu beruang kutub berwarna hitam pekat. Namun, karena adanya permainan cahaya seperti luminesensi, sinar UV, dan efek protein keratin, bulu-bulu beruang kutub terlihat memancarkan warna putih. Di mana perubahan warna ini juga membantu beruang kutub untuk berburu mangsa.