Bukan Singa atau Harimau, Capung Adalah Predator Paling Sukses di Alam

- Capung memiliki tingkat keberhasilan berburu hingga sekitar 95 persen, melampaui lumba-lumba, cheetah, serigala, singa, dan harimau.
- Keunggulannya berasal dari mata majemuk, neuron pelacak target, serta kemampuan memprediksi titik lintasan mangsa sebelum melakukan pencegatan.
- Empat sayap yang presisi mendukung manuver udara cepat, sementara kemampuan predator capung telah dimulai sejak fase nimfa di air dengan organ labium.
Kalau membayangkan predator mematikan, mungkin yang terlintas adalah singa, hiu, atau cheetah. Namun, siapa sangka, seekor capung yang ukurannya hanya beberapa sentimeter justru dapat memiliki tingkat keberhasilan menangkap mangsa hingga sekitar 95 persen, lebih tinggi daripada sejumlah predator besar.
Dalam dunia serangga, capung adalah predator paling efektif. Uniknya, predikat pemburu paling efektif tersebut didapat bukan karena ia adalah yang paling cepat atau paling kuat. Lantas, apa yang membuatnya menjadi pemburu paling efektif?
1. Tingkat keberhasilan berburu bisa mencapai 95 persen

ilustrasi capung (unsplash.com/Clement Falize) Dalam studi yang dirujuk IPB University, tingkat keberhasilan capung mencapai sekitar 95 persen. Sebagai perbandingan, tingkat keberhasilan lumba-lumba sekitar 90 persen, cheetah sekitar 50 persen, dan serigala sekitar 20 persen. Bahkan singa dan harimau, yang dikenal sebagai raja hutan, hanya memiliki tingkat keberhasilan 10-20%.
Menariknya, keberhasilan capung bukan karena ia memiliki kekuatan luar biasa. Capung justru mengandalkan kemampuan melihat, memproses gerakan, memprediksi arah mangsa, dan mengendalikan tubuhnya dengan sangat presisi.
2. Capung mengejar mangsanya dengan memprediksi masa depan

ilustrasi capung (unsplash.com/Mathijs de Koning) Capung tidak perlu mengandalkan tubuh besar, rahang kuat, atau kecepatan seperti cheetah untuk menangkap mangsa. Senjatanya justru adalah kemampuan membaca gerakan dan memprediksi ke mana mangsanya akan bergerak.
Dilansir Journal of Comparative Physiology, saat melihat mangsa terbang, capung tidak sekadar mengejar posisi mangsa saat ini. Penelitian menunjukkan capung mengarahkan tubuhnya menuju titik yang diperkirakan akan dilewati mangsa, sebuah strategi yang dikenal sebagai predictive interception.

ilustrasi mata capung (pexels.com/Mustafa Ozturk) Mata majemuk capung terdiri dari ribuan unit optik kecil yang disebut ommatidia. Struktur ini membantu capung mendeteksi objek bergerak dengan sangat baik dan memberikan bidang pandang yang sangat luas.
Dilansir Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, lebih menariknya lagi, sistem visual capung memiliki neuron khusus yang membantu mendeteksi dan melacak target bergerak. Informasi tersebut kemudian diteruskan ke sistem pengendali gerak untuk membantu menentukan arah penerbangan.
4. Empat sayap sangat presisi dan lincah

ilustrasi capung (unsplash.com/Andre Mouton) Dilansir Smithsonian Magazines, Capung memiliki empat sayap yang dapat dikendalikan dengan sangat presisi. Kemampuan ini membuatnya mampu melayang, mengubah arah dengan cepat, bahkan melakukan berbagai manuver di udara.
Kombinasi penglihatan dan kemampuan terbang tersebut membuat capung mampu menyesuaikan arah penerbangannya dengan gerakan mangsa. Tidak mengherankan jika mekanisme terbang capung juga dipelajari dalam pengembangan robot dan drone kecil.
5. Kemampuan predatornya sudah dimulai sejak hidup di air

ilustrasi nimfa capung (pexels.com/Jason Reid) Sebelum menjadi serangga bersayap, capung menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai nimfa di dalam air. Pada fase ini, nimfa juga merupakan predator dan menggunakan organ bernama labium untuk menangkap mangsa dengan gerakan sangat cepat.
Dilansir Natural History Museum, kemampuan berburu capung sebenarnya berlangsung dalam dua dunia: di dalam air saat menjadi nimfa dan di udara ketika dewasa. Inilah yang membuat siklus hidup capung begitu menarik dari perspektif ekologi.
Capung mungkin terlihat seperti serangga biasa yang terbang santai di sekitar kolam. Namun di balik tubuh kecilnya terdapat kombinasi penglihatan, sistem saraf, kemampuan memprediksi gerakan, dan manuver udara yang membuatnya menjadi salah satu predator paling efektif di alam.























