Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fenomena Harvest Moon 26 September 2026, Bulan Penanda Musim Panen

3 min read
Fenomena Harvest Moon 26 September 2026, Bulan Penanda Musim Panen
ilustrasi harvest moon (pixabay.com/rogerp64)
  • Harvest moon pada 26 September 2026 adalah purnama terdekat dengan ekuinoks September, dinamai dari tradisi panen di belahan bumi utara dan bukan fase Bulan berbeda.
  • Bulan terbit sekitar 17.30 WIB hingga 05.42 WIB; pengamatan ideal berlangsung pukul 20.00 WIB sampai tengah malam, dengan posisi tertinggi sekitar 23.39 WIB.
  • Gaya tarik Bulan dan Matahari saat purnama dapat memicu pasang lebih tinggi serta surut lebih rendah, berpotensi meningkatkan risiko banjir rob di pesisir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bulan akan kembali mencapai fase purnama pada 26 September 2026. Kali ini, bulan purnama tersebut memiliki nama khusus, yaitu harvest moon. Nama tersebut secara tradisional digunakan untuk menyebut bulan purnama yang berdekatan dengan waktu ekuinoks September, ketika siang dan malam berlangsung hampir sama panjang.

Istilah harvest moon sendiri berasal dari tradisi masyarakat di belahan bumi utara yang mengaitkannya dengan masa panen. Meski namanya terdengar seperti fenomena astronomi khusus, harvest moon sebenarnya bukan jenis fase Bulan yang berbeda dari purnama pada umumnya. Jadi, apa yang membuat harvest moon 26 September 2026 menarik untuk diamati? Yuk, simak penjelasan lebih lengkapnya di bawah ini!

  1. 1. Asal usul nama harvest moon

    ilustrasi harvest moon
    ilustrasi harvest moon (unsplash.com/Ganapathy Kumar)

    Nama harvest moon berasal dari tradisi masyarakat di belahan bumi utara yang mengaitkan bulan purnama dengan masa panen. Mengutip dari Time and Date, sebutan tersebut merujuk pada bulan purnama yang waktunya paling dekat dengan ekuinoks September. Ekuinoks merupakan waktu ketika posisi Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa, sehingga durasi siang dan malam hampir sama.

    Pada periode ini, Bulan juga memiliki pola terbit yang sedikit berbeda dari biasanya. Bulan dapat terbit lebih cepat dari malam sebelumnya selama beberapa hari berturut-turut, sehingga langit menjadi terang lebih awal setelah Matahari terbenam. Kondisi tersebut dahulu memberikan tambahan waktu bagi para petani untuk bekerja dan menyelesaikan panen sebelum malam benar-benar gelap.

    Dilansir The Old Farmer’s Almanac, cahaya Bulan yang lebih lama inilah yang kemudian dikaitkan dengan aktivitas panen dan melahirkan istilah harvest moon. Menariknya, harvest moon tidak selalu muncul pada September karena penentu utamanya adalah kedekatan dengan ekuinoks September. Oleh karena itu, pada tahun tertentu, bulan purnama yang disebut harvest moon dapat muncul pada Oktober.

  2. 2. Waktu terbaik mengamati harvest moon

    ilustrasi harvest moon
    ilustrasi harvest moon (unsplash.com/Jonathan Marchant)

    Pada 26 September 2026, Bulan akan terbit sekitar pukul 17.30 WIB dan tetap terlihat di langit hingga 05.42 WIB keesokan harinya. Mengutip dari In-the-Sky, Bulan bakal berada dalam fase purnama penuh pada tanggal tersebut dan dapat diamati sepanjang malam. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah sekitar pukul 20.00 WIB hingga tengah malam, ketika Bulan sudah cukup tinggi di langit dan lebih mudah diamati.

    Bulan akan mencapai posisi tertingginya di langit sekitar 23.39 WIB, sehingga waktu tersebut menjadi salah satu momen yang baik untuk melihatnya. Saat mencapai fase purnama, seluruh sisi Bulan yang menghadap Bumi tampak diterangi Matahari sehingga terlihat bulat penuh. Pengamatan cukup dilakukan dengan mata telanjang dari tempat yang memiliki pandangan terbuka dan minim cahaya buatan.

  3. 3. Dampak harvest moon terhadap Bumi

    ilustrasi harvest moon
    ilustrasi harvest moon (unsplash.com/Davide Sibilio)

    Sebagai bulan purnama, harvest moon juga berkaitan dengan perubahan pasang surut air laut di Bumi. Dilansir NASA, ketika Bulan berada dalam fase purnama, gaya tarik Bulan dan Matahari terhadap Bumi saling memperkuat. Akibatnya, air laut dapat mengalami pasang yang lebih tinggi dan surut yang lebih rendah dibandingkan kondisi biasanya, yang disebut spring tide atau pasang purnama.

    Namun, seberapa tinggi air laut naik tetap berbeda-beda di setiap wilayah karena dipengaruhi kondisi pantai dan laut setempat. Cahaya Bulan yang lebih terang saat purnama juga dapat memengaruhi beberapa hewan yang aktif pada malam hari atau disebut hewan nokturnal. Sejumlah hewan dapat mengubah waktu atau tingkat aktivitasnya karena kondisi malam yang lebih terang, terutama untuk menghindari predator atau menyesuaikan perilaku mencari makanan.

    Selain itu, pasang purnama juga dapat meningkatkan risiko banjir rob di wilayah pesisir ketika air laut mencapai daratan lebih tinggi dari biasanya. Oleh sebab itu, masyarakat di kawasan pesisir perlu memperhatikan kondisi pasang surut, terutama ketika fenomena bulan purnama berlangsung. Dengan begitu, aktivitas di wilayah pesisir dapat disesuaikan untuk mengantisipasi naiknya permukaan air laut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More