3 Fakta Aerosol Karhutla, Partikel Kecil yang Bikin Langit Merah

- Asap karhutla mengandung aerosol, termasuk PM2.5 berdiameter maksimal 2,5 mikrometer yang sangat kecil dan dapat terhirup hingga bagian dalam paru-paru.
- Interaksi partikel asap dengan cahaya Matahari dapat membuat langit tampak merah atau oranye, terutama saat Matahari dekat cakrawala dalam kondisi atmosfer tertentu.
- Paparan asap dapat memicu iritasi mata dan pernapasan, batuk, mengi, serta sesak; anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit jantung atau paru lebih rentan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dapat menimbulkan asap yang mengganggu kualitas udara di sekitarnya. Asap ini tidak hanya mengandung gas, tetapi juga partikel-partikel kecil yang melayang di atmosfer. Partikel padat atau tetesan cair yang melayang di udara tersebut dikenal sebagai aerosol.
Keberadaan aerosol bisa memengaruhi jarak pandang hingga cara cahaya Matahari melewati atmosfer. Dalam kondisi tertentu, interaksi antara partikel asap dan cahaya bisa membuat langit terlihat merah atau oranye. Lantas, bagaimana partikel sekecil itu bisa mengubah warna langit dan apa dampaknya bagi kesehatan? Simak selengkapnya di bawah ini!
1. Aerosol dalam asap karhutla mengandung partikel halus

ilustrasi asap karhutla (pexels.com/Alexander Popadin) Asap yang dihasilkan karhutla mengandung campuran gas, senyawa organik, dan materi partikulat atau particulate matter (PM). Mengutip dari Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), salah satu komponen yang menjadi perhatian kesehatan adalah PM2.5, yaitu partikel dengan diameter aerodinamis maksimal 2,5 mikrometer.
Ukurannya sekitar 30 kali lebih kecil daripada diameter rambut manusia. Karena sangat kecil, partikel ini dapat terhirup hingga mencapai bagian dalam paru-paru. Konsentrasi PM2.5 dapat meningkat selama kebakaran dan berkontribusi terhadap pencemaran udara. Oleh sebab itu, partikel halus dalam asap menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan saat karhutla terjadi.
2. Partikel aerosol membuat langit tampak merah

ilustrasi langit merah (pexels.com/Cara Denison) Warna langit yang berubah menjadi merah atau oranye saat terjadi kebakaran berkaitan dengan interaksi antara cahaya Matahari dan partikel asap. Dilansir NASA, partikel asap dapat memengaruhi cahaya yang melewati atmosfer sehingga warna merah dan oranye lebih terlihat dalam kondisi tertentu. Saat Matahari berada dekat cakrawala, cahaya melewati lapisan atmosfer yang lebih panjang, sehingga lebih banyak cahaya dengan panjang gelombang pendek terhamburkan.
Partikel asap juga dapat menyerap dan menghamburkan cahaya, bergantung pada ukuran serta karakteristiknya. Kombinasi proses tersebut dapat menghasilkan pemandangan langit kemerahan, meskipun efeknya tidak selalu muncul pada setiap peristiwa karhutla. Jadi, bukan satu zat tertentu yang otomatis membuat langit merah, melainkan interaksi antara asap dan cahaya dalam kondisi atmosfer tertentu.
3. Aerosol karhutla juga bisa membahayakan kesehatan

ilustrasi kabut asap (pexels.com/KoolShooters) Selain memengaruhi warna langit, partikel dalam asap kebakaran dapat menimbulkan gangguan kesehatan ketika terhirup. Menurut EPA, paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, batuk, mengi, serta kesulitan bernapas. PM2.5 menjadi perhatian khusus karena ukurannya memungkinkan partikel mencapai bagian terdalam paru-paru.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap. Tingkat risiko juga dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, durasi paparan, dan kondisi kesehatan masing-masing individu. Karena itu, warna langit saja tidak cukup untuk menentukan tingkat bahaya asap; data kualitas udara, termasuk konsentrasi PM2.5, juga perlu diperhatikan.
Aerosol dalam asap karhutla berperan dalam perubahan warna langit sekaligus memengaruhi kualitas udara yang kita hirup. Paparan partikel halus seperti PM2.5 juga perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Oleh sebab itu, saat karhutla terjadi di Kalimantan maupun wilayah lain, penting untuk memantau kualitas udara dan mengurangi paparan asap sebisa mungkin.


















