Kenapa Karhutla Sulit Dipadamkan meski Sudah Diguyur Hujan?

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan masih terus terjadi hingga hari ini. Berlangsung sejak Agustus 2026, sejumlah titik api masih terus berkobar di sejumlah provinsi dan menyebabkan kabut asap yang menyebar hingga ke negara tetangga. Dilansir Kementerian Kehutanan, di beberapa provinsi seperti Kalimantan Tengah dan Jambi, titik api bahkan mengalami peningkatan.
Membahas soal karhutla, awalnya banyak orang beranggapan bahwa datangnya hujan membuat karhutla padam. Kenyataan justru tak semudah itu. Lantas, kenapa karhutla sulit dipadamkan meski sudah diguyur hujan? Berikut penjelasannya!
1. Api karhutla bisa bertahan di bawah permukaan tanah

ilustrasi lahan gambut (unsplash.com/Pik Tresa) Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan berbeda dengan kebakaran lainnya. Salah satu alasannya karena kebakaran hutan dan lahan ini juga melibatkan lahan gambut yang sangat luas. Dilansir laman Peatlands, lahan gambut adalah ekosistem lahan basah darat dengan air yang menggenang mencegah tumbuhan terurai sempurna. Seiring waktu, sisa-sisa tanaman mati ini menumpuk di permukaan tanah dan akhirnya membentuk lapisan gambut.
Untuk iklim yang lebih dingin, vegetasi lahan gambut terdiri dari lumut, rumput, dan semak-semak. Sementara, untuk iklim yang hangat, lahan gambut terdiri dari rerumputan dan vegetasi berkayu. Masalahnya, ketika musim kemarau panjang terjadi, lahan gambut akan mengering. Situasinya diperparah dengan kebiasaan penggunaan api untuk pembukaan lahan. Ketika lahan gambut yang kering bertemu api, kebakaran besar dapat dengan mudah terjadi. Api kemudian menyebar, bukan hanya di atas permukaan, melainkan juga bagian bawah tanah. Saat menyambar lapisan gambut, ini menjadikannya bahan bakar yang gak ada habisnya.
2. Hujan tidak selalu bisa memadamkan kebakaran di lahan gambut

ilustrasi awan hujan (unsplash.com/Valentin Müller) Luas lahan gambut di Indonesia sekitar 14,91 juta hektare, dengan 4,78 juta hektare di antaranya berada di Kalimantan. Dilansir Wetlands International, gak hanya luas, lahan gambut di Kalimantan juga terdiri dari lapisan tebal. Umumnya, ketebalan lahan gambut ini berkisar antara 0,5 meter hingga 10–12 meter di tengah kubah gambut utama. Di beberapa bagian, ketebalannya bahkan bisa mencapai angka 16 meter.
Dengan lapisan gambut setebal ini, kebakaran jadi sangat sulit untuk dipadamkan. Bahkan, ketika hujan turun, hal itu gak lantas membuat kebakaran bisa dipadamkan. Hujan ringan gak bisa memadamkan api di lahan gambut. Di permukaan, api bisa aja padam. Namun, bara api dapat tetap bertahan di lapisan gambut dalam dan menyebar. Untuk memadamkan api di lahan gambut, hujan yang turun harus deras dengan intensitas minimum 4 mm/jam dan kedalaman curah hujan mencapai 13 mm.
3. Angin bisa membuat api menyebar lebih luas

ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (unsplash.com/Tom Gainor) Jika lapisan gambut membuat api sulit dipadamkan, embusan angin membuat kebakaran jadi sulit untuk dikendalikan. Gak banyak yang menyadari bahwa embusan angin memainkan peranan penting dalam perilaku api. Dilansir The Bureau of Meteorology, ketika angin berembus, embusan tersebut akan mengipasi api. Ini meningkatkan kadar oksigen sehingga api menyala lebih lama.
Di sisi lain, embusan angin juga membuat api menyebar lebih cepat. Ini karena angin dapat membawa bara api panas hingga jarak yang jauh. Bara api itu kemudian jatuh beberapa kilometer dari kobaran utama, yang memicu munculnya kobaran api baru. Gak hanya api, kecepatan dan arah angin juga dapat membuat asap hasil kebakaran menyebar hingga puluhan kilometer jauhnya.
Karhutla jelas bukan kebakaran biasa. Lapisan gambut tebal ditambah embusan angin dan cuaca panas membuat api menyebar dengan mudah serta semakin sulit untuk ditaklukkan. Bahkan, setelah hujan turun, gak berarti api bisa langsung padam.























