Kendaraan peluncur yang membawa roket Artemis II Space Launch System (SLS) milik NASA dan pesawat ruang angkasa Orion yang terlihat di dalam Gedung Perakitan Kendaraan setelah pintu dibuka sebelum digeser ke Landasan Peluncuran 39B, pada Sabtu, (17/01/2026) di Kennedy Space Center Florida. (dok. NASA/Joel Kowsky)
Nah, rupanya, upaya peluncuran Artemis II sempat mengalami banyak kendala, lho. NASA terpaksa menunda misi ini beberapa kali untuk memastikan bahwa pesawat ruang angkasa tetap utuh dan beroperasi selama fase-fase awalnya. Penundaan Artemis II yang terakhir disebabkan oleh masalah tekanan helium. Sebab, banyak hal yang dipertaruhkan karena Orion akan membawa empat astronaut mengelilingi bulan untuk pertama kalinya sejak tahun 1972. NASA bahkan menarik sistem peluncuran Space Launch System (SLS) dari landasan peluncuran dan membawanya kembali ke Gedung Perakitan Kendaraan (VAB) yang terletak sejauh 6 kilometer lebih. Prosesnya bisa dibilang memakan waktu 8 hingga 12 jam, nih. Kenapa selama itu, ya?
Ternyata, kecepatannya bergantung pada mesin yang digunakan untuk memindahkan bagian-bagian pesawat ruang angkasa. Mesin pengangkutnya hanya dirancang untuk bergerak hingga 2 mil per jam saat tidak bermuatan atau maksimal 1 mil per jam saat bermuatan. Namun, karena jalur yang dilewatinya itu penuh dengan bebatuan, jadi mesin pengangkutnya hanya bergerak dengan kecepatan setengah mil per jam.
Dikutip BBC News, adapun, tim yang bertanggung jawab untuk memindahkan Artemis II di jalur pengangkut harus berhati-hati agar perjalanannya stabil karena membawa pesawat ruang angkasa tersebut. Bahkan, ada beberapa tim yang terlibat dalam proses ini, termasuk seorang pengemudi dan tim yang membantu mengelola mesin dan aspek penting lainnya, seperti sistem hidrolik. Selain itu, mesin yang membawa SLS dan pesawat ulang-alik Orion adalah pengangkut yang pernah digunakan NASA sejak zaman Apollo, lho.
Pertanyaannya, kenapa pengangkut pesawat Artemis II ini sangat lambat? Sebab, masing-masing mesin pengangkutnya terdiri lebih dari 16 motor listrik, serta dua generator daya yang bergantung pada bahan bakar diesel untuk beroperasi. Selain itu, mesin ini terdiri dari empat trek berbeda, yang bergerak di sepanjang jalur rel dengan kecepatan relatif. Namun, jika NASA ingin memiliki pengangkut yang bergerak lebih cepat, NASA harus menggunakan sistem pengangkut dan erektor seperti yang dimiliki SpaceX dan lembaga lainnya. Sayangnya, NASA tidak punya dan harus membangunnya terlebih dahulu.