7 Fenomena Langit Oktober 2026, Catat Tanggalnya!

- Oktober 2026 dibuka dengan oposisi Saturnus pada 4 Oktober dan pertemuan Mars-Bulan pada 5 Oktober, menawarkan kesempatan mengamati kedua planet di langit.
- Puncak hujan meteor Draconid terjadi 8-9 Oktober dengan sekitar 10 meteor per jam, disusul Orionid yang melintas sekitar 10-20 meteor per jam.
- Pengamatan lain mencakup inti Bimasakti pada 10 Oktober, elongasi timur terbesar Merkurius pada 12 Oktober, serta Hunter’s Moon pada 25-26 Oktober.
Langit gak pernah berhenti memberi penduduk Bumi kejutan-kejutan baru. Gimana gak, setiap bulannya manusia bisa menyaksikan berbagai fenomena langit yang berbeda. Gak jarang beberapa di antaranya merupakan fenomena langka yang hanya bisa dilihat puluhan atau bahkan ratusan tahun sekali.
Memasuki bulan Oktober 2026, kita juga akan disuguhi berbagai fenomena langit. Mulai dari oposisi planet-planet tetangga, hujan meteor yang melintas hingga fenomena bulan baru yang akan berlangsung di akhir bulan. Berikut ini daftar fenomena langit Oktober 2026 beserta jadwalnya yang gak boleh kamu lewatkan!
1. Oposisi Saturnus dengan Bumi (4 Oktober 2026)

gambar penampakan Saturnus dari teleskop NASA (unsplash.com/NASA) Oposisi Saturnus dengan Bumi akan jadi fenomena pertama yang menyambut kita di bulan Oktober. Oposisi ini sendiri hanya bisa terjadi saat Bumi berada di antara Matahari dan Saturnus, membuat ketiganya membentuk satu garis lurus. Dilansir Earthsky, posisi ini akan membuat Saturnus berada dalam jarak terdekatnya dengan Bumi kita. Tentu dekat di sini, bukan berarti kita bisa melihat Saturnus sejelas seperti yang kita lihat di foto-foto.
Sebaliknya, kedua planet ini akan terpaut jarak sekitar 1,26 miliar kilometer atau 200 juta kilometer lebih dekat dari jarak rata-rata yang bisa mencapai 1,4 miliar kilometer. Jika diamati dengan mata telanjang, Saturnus akan tampak seperti bintang putih kecil yang terbit sesaat setelah Matahari terbenam. Sedangkan dengan teleskop kecil, kamu bisa menyaksikan planet ini sedikit lebih jelas dalam bentuk aslinya. Buat kamu yang penasaran ingin melihat cincin Saturnus, oposisi yang terjadi pada 4 Oktober akan menjadi waktu terbaik untuk melihatnya.
2. Pertemuan Mars dengan Bulan (5 Oktober 2026)

gambar penampakan Mars yang muncul di dekat Bulan (nasa.gov) Satu hari setelah oposisi Bumi dan Saturnus, giliran Planet Mars menyambangi langit Bumi. Dari Jakarta, Mars akan terbit sekitar pukul 01.30 WIB di rasi bintang Cancer. Untuk fenomena ini, kamu seharusnya gak akan kesulitan untuk menemukan Mars di langit.
Selain karena warna merahnya yang mencolok, Mars juga akan berada di dekat Bulan yang membuatnya jadi mudah untuk ditemukan. Dilansir In The Sky, setelah kemunculannya, Mars akan bergerak hingga ke ketinggian 46 derajat di atas cakrawala timur laut sebelum akhirnya menghilang dari pandangan sekitar pukul 05.03 WIB. Jadi, pastikan kamu gak bangun kesiangan, ya!
3. Puncak hujan meteor Draconid (8-9 Oktober 2026)

gambar hujan meteor di malam hari (unsplash.com/Clay Banks) Hujan meteor memang cukup sering terjadi di Bumi, tetapi fenomena ini tetap saja menarik untuk disaksikan. Pada tanggal 8-9 Oktober 2026, Bumi kita akan melewati jejak debu yang dihasilkan oleh komet 21P/Giacobini-Zinner. Komet 21P/Giacobini-Zinner sendiri merupakan komet periodik yang mengorbit Matahari setiap 6,6 tahun sekali.
Dilansir Space, saat Bumi melewati jalur ini dan berpapasan dengan puing-puing berupa batuan dan fragmen es. Gravitasi Bumi kemudian akan menarik mereka mendekat, terbakar di atmosfer, dan menciptakan fenomena yang kita kenal dengan istilah hujan meteor. Untuk hujan meteor Draconid sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak tanggal 6 Oktober, tetapi puncaknya akan terjadi pada tanggal 8-9 Oktober 2026 di mana kita bisa melihat setidaknya 10 meteor setiap jamnya.
4. Pengamatan inti Galaksi Bimasakti (10 Oktober 2026)

gambar seorang pria menyaksikan indahnya Galaksi Bimasakti (unsplash.com/Nathan Jennings) Musim gugur jadi waktu yang tepat untuk mengamati Galaksi Bimasakti. Berbeda dengan musim semi di mana Galaksi Bimasakti baru bisa terlihat menjelang pagi, di musim gugur galaksi tempat Bumi bernaung ini dapat dilihat segera setelah malam tiba. Dilansir National Geographic, fenomena ini jadi lebih istimewa karena di bulan Oktober ini kita bisa melihat inti dari galaksi yang sebelumnya tersembunyi di balik matahari. Dari Bumi, inti galaksi akan terlihat seperti cahaya terang di antara jutaan bintang. Bukan cahaya biasa, inti Galaksi Bimasakti sendiri dihuni oleh sebuah lubang hitam supermasif bernama Sagitarius A* yang memiliki massa 4-4,3 juta kali massa Matahari.
5. Merkurius mencapai elongasi timur terbesarnya (12 Oktober 2026)

gambar penampakan Merkurius dari teleskop (nasa.gov) Memiliki jarak rata-rata 57,9 juta kilometer, Merkurius merupakan planet terdekat dari Matahari. Mengingat lokasinya yang berdekatan, membuat Merkurius seharusnya bisa dilihat dengan mudah dari Bumi. Kenyataannya, lokasi yang terlalu dekat ini justru kerap membuat keberadaan Merkurius terhalangi sinar matahari sehingga sulit untuk diamati.
Namun beda ceritanya pada tanggal 12 Oktober mendatang. Dilansir Earthsky, pasalnya di tanggal tersebut, Merkurius akan berada di jarak terjauhnya dengan Matahari (elongasi) sehingga membuatnya dapat diamati. Selain itu, jarak yang jauh dari Matahari juga membuat planet satu ini tampak lebih terang daripada kebanyakan bintang di sekitarnya. Buat kamu yang penasaran, planet ini akan muncul dari arah Barat hanya sesaat setelah Matahari terbenam.
6. Hujan meteor Orionid (21-22 Oktober 2026)

gambar penampakan hujan meteor dari langit (unsplash.com/Am) Di bulan Oktober ini, Bumi kita bukan hanya melewati puing-puing komet 21P/Giacobini-Zinner, melainkan juga melewati jalur debu yang dihasilkan oleh Komet Halley dalam perjalanannya mengorbit matahari. Dilansir In The Sky, hujan meteor Orionid sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak awal bulan Oktober dan baru akan berakhir pada 7 November mendatang. Namun fenomena ini akan mencapai puncaknya pada tanggal 21-22 November 2026.
Selama momen ini, sekitar 10-20 meteor akan melintas di rasi bintang Orion setiap jamnya. Dari Jakarta, fenomena ini baru akan dimulai pada pukul 22.20 WIB dan berakhir sebelum fajar pukul 05.05 WIB. Meski begitu, waktu terbaik untuk menyaksikannya justru jatuh pada pukul 04.00 WIB atau sekitar satu jam sebelum fajar menyingsing.
7. Hunter’s Moon (25-26 Oktober 2026)

gambar penampakan bulan purnama di langit malam (unsplash.com/Aron Visuals) Bulan purnama yang muncul di bulan Oktober kerap kali dijuluki sebagai Hunter’s Moon. Penamaan ini sendiri berasal dari budaya di belahan Bumi Utara. Di masa itu, orang-orang menjadikan bulan purnama sebagai pertanda untuk memulai persiapan musim dingin. Untuk memastikan stok makanan tetap aman selama musim dingin, orang-orang mulai berburu hewan di hutan. Dilansir National Geographic, pada tanggal 25 Oktober nanti, Bulan akan muncul sesaat setelah Matahari terbenam. Meski gak sebesar Super Moon, bulan purnama ini tetap akan tampak besar dan terang di langit malam.
Buat kamu yang suka mengamati langit malam atau astrophile, bulan Oktober pasti menjadi waktu yang menyenangkan. Dengan banyaknya fenomena langit yang terjadi, kamu bisa memiliki banyak kesempatan menyaksikan dan mempelajari berbagai fenomena yang muncul. Jangan lupa, siapkan teleskop kecil untuk mendapatkan pemandangan terbaik.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















