Peneliti BRIN, Eniya Listiani Dewi, menunjukkan bahan bakar hidrogen sebagai pengganti bahan bakar konvensional (Dok. BRIN/Yustantiana Azhar)
Selain bioetanol, hidrogen juga dilirik sebagai alternatif bahan bakar transportasi. Sejak 2003, Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN, Eniya Listiani Dewi, telah melakukan riset bahan bakar sel (fuel cell) berbasis hidrogen. Konversi hidrogen menjadi listrik dilakukan melalui proses transfer elektron.
Eniya dan tim sempat menggunakan fuel cell untuk menciptakan motor berkapasitas 500W. Bahkan, dua tahun belakangan, Eniya dan tim tengah mengembangkan mobil berbahan bakar hidrogen dengan kapasitas 1kW dan 2,5kW.
Dengan 1 liter gas hidrogen, mobil tersebut dapat menempuh jarak 1 kilometer (km). Akan tetapi, angka tersebut menunjukkan konsumsi daya yang lebih boros dibanding mobil berbahan bakar hidrogen komersial yang dengan 1 liter gas hidrogen bisa menempuh jarak 7,5km.
“Jadi riset punya saya ini masih lebih boros 7 kali lipat dibanding komersial, ini yang saya kejar untuk lebih efisien dan bisa dikembangkan sendiri di Indonesia,” tutur Eniya.
kereta bertenaga hidrogen di Jerman (nellionaire.com)
Menurut Eniya, kendaraan listrik berbasis baterai dan hidrogen dapat digunakan untuk menurunkan emisi dari sektor transportasi. Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan serta segmen pasarnya masing-masing.
Penggunaan bahan bakar hidrogen sebenarnya bergantung pada produk unggulan transportasi. Sebagai contoh, di Jepang dan Korea, mereka menggunakan hidrogen untuk mobil, sementara Jerman menggunakan hidrogen untuk menenagai kereta jarak jauh.
Salah satu kelebihan hidrogen adalah dapat digunakan jarak jauh dalam sekali pengisian bahan bakar. Waktu pengisian bahan bakar hidrogen hanya kurang dari 3 menit, seperti mengisi bensin. Hanya saja, saat ini, infrastruktur produksi hidrogen —seperti stasiun pengisian bahan bakar— membutuhkan investasi yang tak sedikit.
Jika menggunakan kendaraan listrik, pengisian bahan bakar cukup lama, bahkan dengan fast charging station memakan waktu hingga 1,5 jam. Karena itu, kendaraan listrik lebih cocok digunakan untuk transportasi jarak dekat.