Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa El Nino Bisa Memengaruhi Ketersediaan Air Bersih?

5 min read
Kenapa El Nino Bisa Memengaruhi Ketersediaan Air Bersih?
ilustrasi air keran (freepik.com/freepik)
  • El Nino menghangatkan Pasifik tropis dan mengubah pola hujan; Indonesia umumnya lebih kering, sehingga pasokan sungai, waduk, dan air tanah menurun.

  • Penyusutan sumber air dapat meningkatkan konsentrasi mikroorganisme, limbah, dan bahan kimia, sekaligus menyulitkan kebutuhan sanitasi seperti mencuci, mandi, dan pengelolaan kebersihan.

  • Di wilayah lain, hujan ekstrem dan banjir dapat mencemari sumber air serta merusak infrastruktur air dan sanitasi; pemantauan sumber air dan informasi otoritas diperlukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika El Nino terjadi, perubahan cuaca yang muncul tidak hanya berkaitan dengan suhu udara atau musim kemarau yang terasa lebih panjang. Fenomena iklim ini juga dapat memengaruhi jumlah dan kualitas air yang tersedia untuk kebutuhan sehari-hari. Di satu wilayah, El Nino dapat membawa kondisi lebih kering dan mengurangi pasokan air. Di wilayah lain, curah hujan justru bisa meningkat hingga memicu banjir.

El Nino merupakan pola iklim alami yang ditandai oleh menghangatnya permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Perubahan suhu laut tersebut dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer dan pola curah hujan di berbagai belahan dunia. Indonesia termasuk wilayah yang umumnya mengalami kondisi lebih kering ketika El Nino berlangsung. Lantas, bagaimana fenomena yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia ini bisa memengaruhi ketersediaan air bersih?

  1. 1. Kekeringan mengurangi cadangan air tawar

    Salah satu dampak El Nino yang paling mudah dirasakan adalah berkurangnya curah hujan di wilayah tertentu. Di Indonesia dan Australia, El Nino sering berkaitan dengan kondisi yang lebih kering. Ketika hujan berkurang, sungai, danau, waduk, dan sumber air lainnya menerima lebih sedikit pasokan.

    Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengurangi jumlah air yang tersedia untuk masyarakat. Cadangan air tanah juga dapat ikut menurun karena lebih sedikit air hujan yang meresap ke dalam tanah.

    Masalahnya bukan hanya soal jumlah air. Ketika persediaan air tawar semakin sedikit, kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri, dan ekosistem harus dipenuhi dari sumber yang sama. Tekanan terhadap sumber daya air pun meningkat, terutama jika kondisi kering berlangsung dalam waktu lama.

  2. 2. Air yang sedikit belum tentu aman digunakan

    Berkurangnya volume air juga dapat memengaruhi kualitasnya. Ketika sungai, danau, atau waduk mengalami penyusutan, berbagai zat pencemar yang sebelumnya tersebar dalam volume air yang lebih besar dapat menjadi lebih terkonsentrasi.

    Artinya, air yang tersisa tidak otomatis menjadi lebih bersih hanya karena jumlahnya lebih sedikit. Dalam kondisi tertentu, konsentrasi mikroorganisme, bahan kimia pertanian, limbah, atau kontaminan alami dapat meningkat. Situasi tersebut membuat pengolahan air menjadi semakin penting, terutama bagi wilayah yang mengandalkan sumber air permukaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

  3. 3. Banjir juga bisa mengganggu ketersediaan air bersih

    ILUSTRASI_Banjir.pngIlustrasi Banjir.
    Ilustrasi Banjir. (IDN Times/Anjani Asra)

    El Nino tidak menyebabkan kekeringan di seluruh dunia. Perubahan pola atmosfer yang menyertainya dapat membuat beberapa wilayah mengalami curah hujan lebih tinggi dan risiko banjir meningkat. Misalnya, wilayah pesisir Ekuador dan Peru dapat mengalami hujan lebat dan banjir ketika El Nino berlangsung.

    Banjir dapat mengganggu ketersediaan air bersih dengan cara yang berbeda. Air yang meluap bisa membawa limbah domestik, kotoran hewan, pestisida, dan berbagai kontaminan lain ke sungai, sumur, waduk, maupun sumber air yang digunakan masyarakat.

    Infrastruktur air dan sanitasi juga dapat rusak akibat banjir. Pipa, sumur, fasilitas pengolahan air, hingga sistem pembuangan limbah berpotensi terdampak. Akibatnya, suatu daerah bisa saja memiliki air dalam jumlah melimpah setelah hujan besar, tetapi sebagian sumber tersebut tidak aman untuk langsung digunakan.

  4. 4. Kekurangan air menyulitkan sanitasi

    Air bersih tidak hanya diperlukan untuk minum dan memasak. Ketersediaannya juga penting untuk mencuci tangan, mandi, membersihkan rumah, serta menjalankan sistem sanitasi.

    Ketika kekeringan membuat persediaan air terbatas, masyarakat mungkin harus mengurangi penggunaan air untuk kebutuhan kebersihan atau mencari sumber alternatif. Jika sumber tersebut tidak terlindungi dan tidak diolah dengan baik, risiko kontaminasi dapat meningkat.

    Di sinilah muncul hubungan antara kelangkaan air dan kesehatan. Semakin terbatas air yang tersedia, semakin sulit pula mempertahankan praktik kebersihan dan sanitasi yang memadai.

  5. 5. Perubahan suhu dan air dapat memengaruhi mikroorganisme

    Perubahan kondisi laut dan atmosfer selama El Nino juga dapat memengaruhi lingkungan yang mendukung kehidupan mikroorganisme tertentu. Salah satu contohnya adalah bakteri dari kelompok Vibrio yang hidup di lingkungan laut. Penelitian yang dirangkum oleh NOAA menunjukkan terdapat hubungan antara episode El Nino dan kemunculan beberapa varian Vibrio patogen di wilayah Amerika Latin. Kondisi laut yang lebih hangat dan perubahan arus diduga dapat membantu perpindahan organisme tersebut.

    Namun, temuan ini terutama berkaitan dengan lingkungan laut dan pesisir, sehingga tidak berarti setiap kejadian El Nino otomatis membuat air minum di suatu daerah terkontaminasi bakteri.

    Yang lebih penting, perubahan curah hujan, suhu, banjir, dan kondisi lingkungan secara bersamaan dapat mengubah risiko terhadap kualitas air. Karena itu, keamanan air tetap perlu dipantau berdasarkan kondisi lokal.

  6. 6. Dampaknya bisa berbeda di setiap wilayah

    ilustrasi percikan air keran (unsplash.com/Edrin Spahiu)
    ilustrasi percikan air keran (unsplash.com/Edrin Spahiu)

    El Nino bukan fenomena yang memberikan dampak seragam di seluruh dunia. Pola cuaca yang muncul bergantung pada lokasi dan karakteristik masing-masing wilayah.

    Ketika Indonesia mengalami kondisi lebih kering, misalnya, beberapa wilayah di Amerika Selatan justru dapat menghadapi hujan lebih deras. National Geographic mencatat bahwa El Nino dapat menyebabkan kekeringan di Indonesia dan Australia, sementara wilayah seperti Ekuador dan Peru dapat mengalami peningkatan hujan dan banjir.

    Karena itu, dampak El Nino terhadap air bersih tidak selalu berarti air akan habis. Persoalannya bisa berupa jumlah air yang berkurang, kualitas air yang menurun, atau sumber air yang tercemar akibat banjir.

  7. 7. Menghadapi risiko kekurangan air bersih

    Dampak El Nino terhadap air bersih dapat dikurangi dengan memantau kondisi waduk, sungai, dan air tanah secara berkala. Perlindungan terhadap sumur dan sumber air juga penting, terutama ketika banjir berpotensi membawa kontaminan.

    Infrastruktur pengolahan air dan sanitasi perlu dipelihara agar tetap berfungsi ketika menghadapi kondisi ekstrem. Masyarakat juga perlu mengikuti informasi dari otoritas setempat mengenai keamanan air, khususnya setelah banjir atau ketika terjadi kekeringan panjang.

    Pada akhirnya, El Nino dapat memengaruhi ketersediaan air bersih melalui dua jalur utama. Kekeringan dapat mengurangi jumlah air tawar yang tersedia, sedangkan hujan ekstrem dan banjir dapat membuat sumber air yang ada menjadi tercemar atau sulit digunakan. Memahami kedua risiko ini penting agar pengelolaan air tidak hanya berfokus pada seberapa banyak air yang tersedia, tetapi juga apakah air tersebut aman digunakan.

    Referensi

    National Aeronautics and Space Administration. Diakses pada September 2026. El Nino
    National Geographic. Diakses pada September 2026. El Nino
    NOAA's Atlantic Oceanographic and Meteorological Laboratory. Diakses pada September 2026. Study Explores Role of El Nino in Transport of Waterborne Disease
    Woods Hole Oceanographic Institution. Diakses pada September 2026. El Nino
    World Resources Institute. Diakses pada September 2026. How Might a ‘Super El Nino’ Affect Food, Forests and Water?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More