Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Risiko Karhutla Meningkat saat Kemarau, Kenapa Bisa Terjadi?

Risiko Karhutla Meningkat saat Kemarau, Kenapa Bisa Terjadi?
ilustrasi karhutla (magnific.com/pvproductions)
  • Kemarau dan minimnya hujan mengurangi kelembapan tanah serta vegetasi, sehingga rumput, daun, cabang, dan sisa tanaman kering menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
  • Angin mempercepat penyebaran api dan dapat memindahkan bara ke lokasi lain, membuat kebakaran kecil berpotensi meluas serta lebih sulit ditangani.
  • Aktivitas manusia, seperti pembakaran lahan atau membuang benda menyala, dapat memicu api; risikonya makin besar saat kondisi kering berlangsung lama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat musim kemarau datang, cuaca yang panas dan hujan yang makin jarang bukan cuma bikin tubuh gampang gerah. Kondisi ini juga membuat lahan dan vegetasi kehilangan banyak kelembapan sehingga lebih mudah terbakar ketika ada sumber api. Gak heran kalau risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla ikut menjadi perhatian, terutama ketika kemarau berlangsung cukup panjang.

Karhutla sendiri gak terjadi cuma karena satu penyebab, lho. Saat lahan makin kering, ditambah angin dan aktivitas manusia yang bisa memicu munculnya api, kondisi tersebut dapat membuat kebakaran lebih mudah meluas. Nah, kenapa musim kemarau bisa bikin risiko karhutla meningkat? Yuk, cari tahu penjelasannya di bawah ini.

  1. 1. Lahan dan vegetasi jadi lebih kering

    ilustrasi tanah kering
    ilustrasi tanah kering (magnific.com/jcomp)

    Ketika hujan jarang turun di musim kemarau, tanah secara bertahap mulai kehilangan kelembapannya dan tanaman di atasnya juga mengalami kekeringan. Daun, cabang, rerumputan, dan sisa-sisa vegetasi yang mengering dapat berfungsi sebagai bahan bakar alami saat terpapar api. Situasi ini menjadikan nyala api lebih mudah muncul dan meluas, lho.

    Masalahnya, lahan lahan yang kering gak memerlukan api besar untuk mulai terbakar. Cukup dengan percikan kecil atau sumber panas tertentu yang cukup bisa memicu kebakaran, apalagi kalau terdapat banyak material kering di sekitarnya. Jadi, semakin kering lahan tersebut, semakin besar kemungkinan api dapat menyebar dengan cepat.

  2. 2. Curah hujan yang rendah membuat kondisi makin rentan

    ilustrasi hujan
    ilustrasi hujan (magnific.com/pvproductions)

    Musim kemarau umumnya ditandai dengan penurunan curah hujan dibandingkan dengan periode hujan. Kalau kondisi kering ini berlangsung lama, kelembapan tanah dan tumbuhan akan terus berkurang sehingga lingkungan menjadi lebih mudah terbakar. Kondisi ini tentunya meningkatkan risiko terhadap kebakaran lahan dan hutan yang perlu perhatian lebih.

    Terlebih lagi kalau hujan gak juga jatuh dalam waktu yang cukup lama. Vegetasi yang seharusnya mendapatkan pasokan air secara teratur akan semakin mengering dan lebih mudah terbakar kalau ada sumber api. Jadi, tidak hanya suhu tinggi yang perlu kita cermati, tetapi juga lamanya periode kering yang terjadi.

  3. 3. Angin bisa membuat api lebih cepat menyebar

    ilustrasi kebakaran
    ilustrasi kebakaran (magnific.com/pvproductions)

    Api yang mulai menyala di area kecil bisa dengan cepat menjadi kebakaran yang lebih besar ketika kondisi angin mendukung. Tiupan angin dapat memfasilitasi pergerakan api dari satu wilayah ke wilayah lain, terutama kalau ada banyak rumput, semak-semak, atau bahan kering di sekelilingnya. Dalam situasi ini, api dapat bergerak lebih cepat dari yang kita duga, lho.

    Angin juga dapat memindahkan bara atau material yang terbakar ke lokasi lain, sehingga titik api baru berpotensi muncul. Oleh karena itu, memadamkan kebakaran di lahan kering gak selalu dapat dilakukan dengan hanya mengatasi satu titik. Jadi, kombinasi antara vegetasi yang kering dan angin membuat penanganan kebakaran lahan semakin sulit.

  4. 4. Aktivitas manusia bisa jadi pemicu munculnya api

    ilustrasi api
    ilustrasi api (magnific.com/jcomp)

    Meski kondisi cuaca berpengaruh besar terhadap peningkatan risiko karhutla, tetapi sumber api juga memiliki peranan penting yang tidak bisa diabaikan. Kegiatan seperti membakar lahan atau membuang benda yang masih menyala dapat menjadi pemicu, terutama saat lingkungan dalam keadaan kering. Bahkan, api yang tampak kecil pada awalnya bisa meluas apabila berada di area dengan banyak bahan yang mudah terbakar.

    Di sinilah kebiasaan manusia punya peran besar dalam mencegah terjadinya kebakaran, khususnya di musim kemarau. Api yang digunakan untuk aktivitas tertentu perlu diawasi secara ketat dan tidak boleh ditinggalkan tanpa pengawasan. Dengan demikian, memastikan lahan aman tidak hanya sebatas menunggu hujan, tetapi juga berupaya meminimalkan risiko munculnya sumber api.

  5. 5. Kondisi kering yang berlangsung lama meningkatkan potensi karhutla

    ilustrasi kekeringan
    ilustrasi kekeringan (magnific.com/wirestock)

    Satu atau dua hari panas mungkin belum tentu langsung menyebabkan karhutla, tetapi situasinya bisa berbeda ketika kondisi kering berlangsung dalam waktu yang panjang. Semakin lama hujan minim, semakin banyak vegetasi yang kehilangan kelembapan dan berubah menjadi material yang mudah terbakar. Akibatnya, lingkungan secara perlahan menjadi lebih rentan terhadap kebakaran, lho.

    Risiko karhutla bisa makin besar ketika lahan sudah kering, angin bertiup, dan ada sumber api di sekitarnya. Karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan saat kemarau berlangsung lama, terutama di wilayah yang banyak ditumbuhi rumput, semak, atau vegetasi kering. Nah, mencegah karhutla tentu lebih baik dilakukan sejak kondisi mulai rawan, bukan baru bergerak setelah api terlanjur muncul.

    Musim kemarau bisa meningkatkan risiko karhutla karena lahan dan vegetasi menjadi lebih kering, sementara angin dapat membantu api menyebar lebih cepat. Ditambah adanya sumber api dari aktivitas manusia, kondisi tersebut membuat kebakaran lebih mudah terjadi dan meluas. Nah, tetap waspada saat kemarau bukan cuma penting buat menjaga lingkungan, tetapi juga mencegah masalah kecil berubah jadi kebakaran besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More