National Aeronautics and Space Administration. Diakses pada Oktober 2026. NASA Campaign Explores Clouds Spawned by Wildfires
National Geographic. Diakses pada Oktober 2026. Wildfire Smoke is Transforming Clouds, Making Rainfall Less Likely
The Institute for Environmental Research and Education. Diakses pada Oktober 2026. Can Wildfires Cause Rain?
University of Texas at Arlington. Diakses pada Oktober 2026. 4 Ways Wildfires Generate Extreme Weather Events
Kenapa Karhutla Bisa Memengaruhi Pembentukan Awan?

Panas karhutla mendorong udara, uap air, asap, dan abu naik; pendinginan di ketinggian memicu kondensasi hingga membentuk awan pyrocumulus.
Pada kebakaran sangat intens dan atmosfer mendukung, awan dapat berkembang menjadi pyrocumulonimbus yang memicu petir, hujan, angin kencang, serta membawa asap ke stratosfer.
Partikel asap menjadi inti kondensasi, memperbanyak tetesan kecil dan dapat menghambat hujan; asap juga mengubah suhu, pertumbuhan awan, serta dampaknya dapat menyebar jauh.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan dan menurunkan kualitas udara. Asap serta panas yang dihasilkan juga bisa memengaruhi kondisi atmosfer, termasuk proses pembentukan awan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, kebakaran besar dapat memicu terbentuknya awan badai yang disertai petir dan angin kencang.
Lantas, bagaimana kebakaran yang terjadi di permukaan Bumi bisa memengaruhi awan di langit? Ternyata, ada beberapa proses yang menjelaskan hubungan antara karhutla dan pembentukan awan. Pengaruhnya pun tidak selalu sama karena bergantung pada suhu, kelembapan, jumlah partikel asap, dan kondisi atmosfer.
1. Panas dari kebakaran mendorong udara naik ke atmosfer
Kebakaran hutan menghasilkan panas dalam jumlah besar yang membuat udara di sekitarnya menjadi lebih hangat. Udara panas memiliki massa jenis lebih rendah dibandingkan udara dingin sehingga cenderung bergerak naik. Pergerakan ini membawa uap air, asap, dan partikel abu menuju lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Udara yang naik akan mengalami penurunan suhu seiring bertambahnya ketinggian. Ketika suhunya cukup rendah, uap air mulai mengalami kondensasi atau berubah menjadi tetesan air kecil. Jika kandungan uap air mencukupi, kumpulan tetesan tersebut dapat membentuk awan di atas area kebakaran.
Awan yang terbentuk akibat panas kebakaran dikenal sebagai pyrocumulus atau flammagenitus. Bentuknya menyerupai awan cumulus biasa, tetapi proses pembentukannya dipicu oleh panas yang sangat kuat dari permukaan.
2. Kebakaran besar bahkan bisa membentuk awan badai
Tidak semua awan akibat kebakaran memiliki ukuran dan karakteristik yang sama. Pada kebakaran yang sangat intens, udara panas dapat terus bergerak naik dan mendorong pertumbuhan awan hingga mencapai ketinggian yang jauh lebih besar. Dalam kondisi atmosfer yang mendukung, awan tersebut bisa berkembang menjadi pyrocumulonimbus.
Pyrocumulonimbus merupakan awan badai yang terbentuk akibat panas dari kebakaran. Awan ini dapat menghasilkan petir, hujan, dan angin kencang. Bahkan, pergerakan udara yang sangat kuat di dalamnya mampu membawa asap hingga ke stratosfer, yaitu lapisan atmosfer di atas troposfer.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi cuaca, tetapi juga dapat mengubah kondisi atmosfer di sekitarnya. Meski demikian, pembentukan awan badai seperti ini membutuhkan kombinasi panas, kelembapan, dan kondisi atmosfer tertentu.
3. Partikel asap menjadi tempat terbentuknya tetesan air

ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Matt Howard) Selain panas, asap kebakaran juga berperan dalam proses pembentukan awan. Asap mengandung berbagai partikel berukuran sangat kecil, seperti jelaga, abu, dan karbon organik. Sebagian partikel tersebut dapat berfungsi sebagai inti kondensasi awan atau cloud condensation nuclei.
Inti kondensasi merupakan partikel yang menjadi tempat uap air mengembun dan membentuk tetesan air. Dalam kondisi normal, partikel ini bisa berasal dari garam laut, debu, serbuk sari, maupun polusi udara. Kebakaran hutan dapat menambah jumlah partikel tersebut secara signifikan.
Banyaknya partikel asap dapat meningkatkan jumlah tetesan air di dalam awan. Namun, peningkatan jumlah tetesan tidak berarti jumlah air di dalam awan ikut bertambah. Jika jumlah air yang tersedia relatif sama, air akan terbagi menjadi lebih banyak tetesan sehingga masing-masing berukuran lebih kecil.
4. Asap karhutla bisa membuat awan lebih sulit menghasilkan hujan
Meskipun dapat membantu pembentukan tetesan awan, asap kebakaran tidak selalu meningkatkan peluang terjadinya hujan. Dalam kondisi tertentu, keberadaan partikel asap dalam jumlah besar justru dapat menghambat proses terbentuknya butiran hujan.
Tetesan air di dalam awan perlu saling bertabrakan dan bergabung hingga ukurannya cukup besar untuk jatuh sebagai hujan. Ketika asap menyebabkan terbentuknya banyak tetesan berukuran sangat kecil, proses penggabungan tersebut bisa berlangsung lebih lambat.
Akibatnya, awan dapat memiliki banyak tetesan air, tetapi tidak mudah menghasilkan hujan. Meski begitu, efek ini tidak terjadi pada semua kondisi. Awan yang terbentuk akibat kebakaran tetap dapat menghasilkan hujan, petir, dan angin kencang apabila kondisi atmosfer mendukung.
5. Asap mengubah suhu udara dan memengaruhi pertumbuhan awan
Pengaruh karhutla terhadap pembentukan awan juga berkaitan dengan perubahan suhu atmosfer. Partikel asap berwarna gelap dapat menyerap sinar Matahari dan menghangatkan udara di sekitarnya. Sementara itu, lapisan asap yang tebal dapat menghalangi sebagian sinar Matahari mencapai permukaan sehingga tanah di bawahnya menjadi lebih sejuk.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi perbedaan suhu antara permukaan dan udara di atasnya. Padahal, perbedaan suhu menjadi salah satu faktor yang mendorong udara hangat bergerak naik. Jika gerakan udara ke atas melemah, pertumbuhan beberapa jenis awan juga dapat terhambat.
Namun, pengaruh asap tidak selalu mengurangi pembentukan awan. Asap tebal menurunkan suhu di atmosfer bagian bawah dan mendorong peningkatan tutupan awan rendah. Asap juga mengubah karakteristik tetesan air di dalam awan sehingga awan dapat bertahan lebih lama.
6. Pengaruhnya dapat meluas hingga jauh dari lokasi kebakaran

ilustrasi suasana hutan setelah terjadi kebakaran (pexels.com/Vadim Braydov) Interaksi antara karhutla dan awan penting dipahami karena awan berperan dalam mengatur hujan, suhu, dan jumlah sinar Matahari yang mencapai permukaan. Asap yang terbawa angin juga dapat menyebar jauh dari sumber kebakaran sehingga pengaruhnya terhadap atmosfer tidak selalu terbatas di wilayah yang sedang terbakar.
Awan badai akibat kebakaran bahkan dapat membawa asap dan berbagai gas ke lapisan atmosfer yang sangat tinggi. Dari sana, material tersebut dapat terbawa mengikuti pergerakan atmosfer dan menyebar ke wilayah lain.
Jadi, karhutla dapat memengaruhi pembentukan awan melalui dua komponen utama, yaitu panas dan asap. Panas mendorong udara bergerak naik hingga memungkinkan terbentuknya awan, sedangkan partikel asap menjadi tempat uap air mengembun sekaligus mengubah ukuran tetesan di dalam awan. Dampak akhirnya bisa berbeda-beda, mulai dari perubahan karakteristik awan dan peluang hujan hingga terbentuknya awan badai di atas kebakaran.
Referensi























