Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Ekosistem yang Paling Rentan Terdampak Kebakaran Hutan di Indonesia

4 min read
5 Ekosistem yang Paling Rentan Terdampak Kebakaran Hutan di Indonesia
Sabana (unsplash.com/Marcella Oscar)
  • Hutan rawa gambut rentan terbakar setelah dikeringkan; api dapat menjalar di bawah tanah, berlangsung lama, serta menghasilkan asap dan emisi karbon dioksida lebih besar.

  • Sabana, hutan tropis bermusim kering, serta semak dan alang-alang mudah terbakar saat kering; kebakaran dapat mengubah vegetasi, mengurangi regenerasi pohon, dan meluas tak terkendali.

  • Dataran rendah menghadapi paparan besar: hampir 80 persen kebakaran 2015–2016 terjadi di delapan provinsi rawan, dengan lebih dari 26.000 hektare mengalami kebakaran berulang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kebakaran hutan dan lahan dapat memengaruhi berbagai ekosistem di Indonesia dengan kondisi dan tingkat dampak yang berbeda. Faktor seperti kekeringan, jenis vegetasi, kondisi tata air, serta perubahan penggunaan lahan dapat berkaitan dengan munculnya dan meluasnya kebakaran di suatu kawasan.

Beberapa ekosistem memiliki kondisi yang membuat kebakaran menjadi persoalan penting, mulai dari gambut yang mengering hingga sabana yang didominasi rerumputan kering. Dampaknya juga dapat terlihat pada perubahan vegetasi dan kerusakan flora serta fauna di kawasan yang terbakar. Berikut lima ekosistem yang memiliki keterkaitan kuat dengan risiko kebakaran di Indonesia.

  1. 1. Hutan rawa gambut

    Hutan rawa gambut
    Hutan rawa gambut (flickr.com/Landscape Alliance)

    Hutan rawa gambut memiliki lapisan tanah yang terbentuk dari sisa tumbuhan yang menumpuk dalam kondisi tergenang. Gambut alami umumnya jenuh air sehingga sulit terbakar, sedangkan pengeringan untuk pertanian dan perkebunan membuatnya lebih rentan terhadap api. Perubahan tata air tersebut meningkatkan kerentanan ekosistem gambut terhadap kebakaran.

    Kebakaran pada gambut dapat berpindah dari permukaan menuju lapisan di bawah tanah. World Bank menjelaskan pembakaran gambut menghasilkan asap lebih banyak dan emisi karbon dioksida lebih besar dibandingkan kebakaran pada tanah mineral. Api di lapisan gambut juga dapat berlangsung lama sehingga penanganannya lebih sulit.

  2. 2. Sabana

    Sabana
    Sabana (unsplash.com/David Clode)

    Sabana merupakan ekosistem yang didominasi rerumputan dengan pepohonan yang tersebar tidak merata. Menurut BRIN, sebagian besar Taman Nasional Baluran berupa sabana yang sering mengalami kebakaran karena faktor alami maupun aktivitas manusia. Musim kemarau panjang dan suhu tinggi akibat El Nino juga dapat memicu kebakaran di kawasan tersebut.

    Api memiliki peran dalam dinamika sabana Baluran karena dapat mempertahankan dominasi rumput dan mengurangi pembentukan hutan atau semak belukar. Namun, BRIN mencatat kebakaran yang tidak terkendali dapat menyebar ke seluruh kawasan. Pada 2018, luas area terbakar di dua wilayah pengelolaan Baluran tercatat mencapai 1.798,92 hektare.

  3. 3. Hutan tropis yang mengalami musim kering

    Ilustrasi hutan tropis yang mengalami musim kering
    Ilustrasi hutan tropis yang mengalami musim kering (unsplash.com/Andrus Lukas)

    Hutan tropis yang mengalami musim kering merupakan tipe hutan dengan musim kering panjang yang salah satunya terdapat di Taman Nasional Baluran. Penelitian menunjukkan ekosistem ini memiliki tutupan pohon tinggi serta berdampingan dengan sabana. Kebakaran menjadi gangguan yang memengaruhi struktur dan komposisi vegetasinya.

    Penelitian tersebut menemukan bahwa kebakaran hutan mengurangi kepadatan semai dan anakan pohon, sementara rumput serta tumbuhan herba justru tumbuh lebih banyak. Hutan dapat pulih melalui pertumbuhan kembali dari bagian tanaman tersisa dan regenerasi biji. Struktur vegetasi dapat kembali dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, tetapi komposisi jenis tumbuhannya membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

  4. 4. Semak belukar dan padang alang-alang

    Semak belukar
    Semak belukar (unsplash.com/Levi Grossbaum)

    Semak belukar dan padang alang-alang memiliki tutupan vegetasi yang dapat menjadi bahan bakar ketika kondisi lingkungan mengering. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem mencatat sebagian kawasan Taman Wisata Alam Seblat memiliki semak belukar dan padang ilalang yang rawan terbakar. Kebakaran tercatat terjadi pada periode kering tahun 2017.

    Laporan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem mencatat kebakaran di sejumlah lokasi didominasi area dengan alang alang dan semak belukar. Sebagian kebakaran berupa kebakaran permukaan dan dapat merambat dari kawasan di luar kawasan konservasi. Tutupan vegetasi kering menjadi kondisi yang berkaitan dengan penyebaran kebakaran.

  5. 5. Ekosistem dataran rendah

    Dataran rendah
    Dataran rendah (pexels.com/Valentine Kulikov)

    Ekosistem dataran rendah mencakup berbagai tipe lahan yang menjadi bagian penting dari bentang alam Indonesia. Menurut World Bank, hampir 80 persen kebakaran pada 2015 dan 2016 terjadi di delapan provinsi rawan kebakaran yang mencakup 87 persen dataran rendah Indonesia. Data tersebut menunjukkan besarnya paparan kebakaran pada bentang alam dataran rendah.

    Kawasan dataran rendah tersebut mencakup lahan gambut dan tanah mineral dengan penggunaan lahan yang beragam. World Bank mencatat sekitar 79 persen area di provinsi tersebut terdampak berbagai kejadian kebakaran pada 2015 dan 2016. Lebih dari 26.000 hektare bahkan mengalami kebakaran berulang pada kedua tahun tersebut.

    Kelima lingkungan tersebut menunjukkan respons yang berbeda ketika menghadapi gangguan berupa kebakaran. Dampaknya dapat mengubah komposisi tumbuhan, kondisi habitat, serta hubungan antarorganisme di dalamnya. Proses pemulihan pun dapat berlangsung dengan tingkat dan pola yang berbeda.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More