Kenapa Sepatu Running Bisa Membuat Lari Terasa Lebih Ringan?

Bantalan sepatu membantu meredam benturan saat kaki menyentuh tanah.
Foam responsif dapat mengembalikan sebagian energi sehingga langkah terasa lebih ringan.
Desain sol dan pelat karbon dapat membantu tubuh berlari lebih efisien.
Pernah merasa lari dengan sepatu tertentu terasa jauh lebih ringan, padahal jarak dan kecepatannya sama? Sensasi itu ternyata bukan sekadar sugesti. Desain sepatu running memang dapat memengaruhi bagaimana tubuh menerima benturan, menyimpan energi, hingga menggerakkan kaki saat berlari.
Sepatu running modern dirancang dengan berbagai teknologi, mulai dari bantalan tebal, foam yang lebih responsif, hingga pelat karbon. Kombinasi tersebut dapat membantu mengurangi energi yang dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan kecepatan tertentu. Lalu, bagaimana sepatu bisa membuat lari terasa lebih ringan?
1. Bantalan membantu meredam benturan

ilustrasi insole sepatu (pexels.com/Erik Mclean) Setiap kali kaki menyentuh permukaan tanah saat berlari, tubuh harus menerima gaya benturan yang cukup besar. Besarnya dapat mencapai beberapa kali berat badan, terutama ketika berlari dengan kecepatan tinggi. Di sinilah bagian midsole pada sepatu running berperan. Bagian ini biasanya terbuat dari material seperti EVA, TPU, atau jenis foam yang lebih modern. Ketika kaki mendarat, foam akan mengalami kompresi sehingga membantu menyerap dan menyebarkan sebagian energi dari benturan.
Bantalan tersebut tentu tidak menghilangkan benturan sepenuhnya. Namun, sepatu yang memiliki bantalan sesuai kebutuhan dapat membuat pendaratan terasa lebih halus dan nyaman. Efeknya semakin terasa ketika berlari dalam waktu lama. Saat otot mulai lelah, permukaan sepatu yang mampu memberikan rasa nyaman dapat membuat setiap langkah terasa tidak terlalu “menghantam” kaki.
2. Foam sepatu bisa mengembalikan energi

ilustrasi sepatu (pexels.com/Jens Mahnke) Selain meredam benturan, beberapa sepatu running modern juga dirancang untuk mengembalikan sebagian energi yang dihasilkan ketika kaki menginjak tanah. Ketika foam pada midsole tertekan saat kaki mendarat, sebagian energi mekanis tersimpan di dalam material tersebut. Saat foam kembali ke bentuk semula, energi itu dilepaskan kembali. Sensasi inilah yang sering digambarkan pelari sebagai rasa “memantul” atau bouncy.
Material foam dengan tingkat responsivitas tinggi, seperti PEBA atau Pebax, dapat mengembalikan energi lebih banyak dibandingkan beberapa jenis foam EVA konvensional. Dengan begitu, kaki tidak sepenuhnya harus menghasilkan energi dari kerja otot sendiri pada setiap langkah. Kendati terdengar seperti sepatu memberikan dorongan secara ajaib, sebenarnya tubuh tetap menjadi sumber utama tenaga saat berlari. Sepatu hanya membantu membuat proses tersebut menjadi lebih efisien.
3. Tubuh bisa menggunakan energi lebih sedikit

ilustrasi laki-laki sedang berlari (unsplash.com/Chander R) Bagian menariknya, efek sepatu tidak hanya terasa di kaki. Penggunaan sepatu yang lebih responsif juga dapat memengaruhi running economy, yaitu seberapa banyak energi yang dibutuhkan tubuh untuk berlari pada kecepatan tertentu. Jika seseorang bisa mempertahankan kecepatan yang sama dengan menggunakan energi lebih sedikit, lari biasanya akan terasa lebih ringan.
Penelitian yang dimuat dalam BMC Sports Science, Medicine and Rehabilitation tahun 2026 mengenai teknologi sepatu running menunjukkan bahwa sepatu dengan kombinasi foam yang sangat responsif dan desain tertentu dapat meningkatkan running economy sekitar 2,6–4,2 persen. Angka tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, bagi pelari yang menempuh jarak jauh, perbedaan kecil dalam penggunaan energi dapat menjadi cukup berarti. Tubuh bisa terasa lebih segar ketika memasuki bagian akhir lari.
4. Pelat karbon membantu mengatur gerakan kaki

ilustrasi sepatu (pexels.com/https://kaboompics.com/) Beberapa sepatu running berperforma tinggi juga dilengkapi pelat kaku, yang biasanya terbuat dari serat karbon. Pelat ini membuat sepatu lebih sulit ditekuk memanjang. Biasanya, teknologi tersebut dipadukan dengan rocker geometry, yaitu bentuk sol yang melengkung untuk membantu kaki bergulir dari tumit atau bagian tengah kaki menuju ujung kaki.
Kombinasi tersebut dapat mengurangi kebutuhan kaki untuk melakukan tekukan besar pada bagian depan kaki ketika melakukan push-off. Dengan kata lain, sepatu membantu menciptakan semacam tuas yang lebih kaku sehingga transisi dari mendarat hingga kembali mendorong tubuh ke depan terasa lebih mulus. Namun, bukan berarti semua orang otomatis akan berlari lebih cepat dengan sepatu berpelat karbon. Efeknya tetap bergantung pada desain sepatu, teknik berlari, kecepatan, serta karakteristik masing-masing pelari.
5. Sepatu yang lebih empuk belum tentu selalu lebih baik

ilustrasi sepatu (pexels.com/Pixabay) Meski begitu, bukan berarti semakin tebal bantalan sepatu, semakin ringan pula larinya. Sepatu dengan bantalan sangat tebal dapat mengubah cara kaki berinteraksi dengan permukaan tanah. Pada kondisi tertentu, perubahan tersebut justru dapat memengaruhi pola langkah dan gaya benturan. Itulah mengapa pemilihan sepatu running sebaiknya tidak hanya berdasarkan seberapa empuk rasanya ketika dicoba.
Sepatu yang ideal bukan hanya soal bantalan yang empuk. Responsivitas foam, tingkat fleksibilitas atau kekakuan, serta bentuk sol juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan pelari. Sebab, sepatu yang terasa sangat nyaman bagi satu orang belum tentu memberikan sensasi yang sama bagi orang lain.
Akhir kata, sepatu running yang dirancang dengan baik dapat membantu meredam benturan, mengembalikan sebagian energi, serta membuat gerakan kaki menjadi lebih efisien. Namun, efek tersebut bukan berarti sepatu menggantikan tenaga yang seharusnya dikeluarkan tubuh. Sepatu hanya membantu tubuh menggunakan energi dengan lebih efisien. Karena itu, jika lari terasa jauh lebih ringan setelah berganti sepatu, sensasi tersebut bisa saja memang memiliki dasar biomekanis. Yang terpenting, pilih sepatu berdasarkan kebutuhan, permukaan lari, kenyamanan, dan karakter kaki sendiri, bukan hanya karena sepatu tersebut memiliki teknologi paling mahal.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















