Bulan sebenarnya mengelilingi Bumi dengan cepat. Satu kali orbit terhadap bintang-bintang berlangsung sekitar 27,3 hari, sedangkan siklus fase Bulan dari satu Bulan baru ke Bulan baru berikutnya berlangsung sekitar 29,5 hari.
Namun, kedua siklus tersebut belum cukup untuk membuat gerhana terjadi setiap bulan. Ada syarat tambahan yang harus terpenuhi, yaitu posisi Bulan harus berada dekat dengan salah satu simpul orbit ketika terjadi Bulan purnama.
Dengan kata lain, Bulan purnama saja belum cukup untuk menghasilkan gerhana Bulan. Posisi Bulan terhadap bidang orbit Bumi juga harus tepat.
Karena itu, sebagian besar Bulan purnama hanya berlalu seperti biasa. Pada beberapa tahun, tidak ada gerhana Bulan total sama sekali. Pada tahun lainnya, bisa terjadi lebih dari satu gerhana Bulan total.
Jadi, meskipun Bulan purnama memiliki jadwal yang relatif teratur, gerhana Bulan membutuhkan kebetulan posisi yang jauh lebih spesifik. Kemiringan orbit Bulan sekitar 5 derajat dan keberadaan simpul orbit membuat Bulan biasanya “melintas” di atas atau di bawah bayangan Bumi.
Itulah sebabnya gerhana Bulan tidak terjadi setiap bulan. Fenomena ini baru muncul ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan benar-benar berada pada konfigurasi yang tepat.
Referensi
Discover Wildscience. Diakses pada September 2026. Why Lunar Eclipses Don’t Happen Every Month
Phys.org. Diakses pada September 2026. Why aren't There Eclipses Every Month?
Rice Space Institute. Diakses pada September 2026. Lunar Eclipse FAQ
The Weather Network. Diakses pada September 2026. What is a Lunar Eclipse and Why Don't We See Them Every Month