Mengapa Mesin Baling-Baling Masih Digunakan di Penerbangan Modern?

- Pesawat turboprop efisien dalam konsumsi bahan bakar untuk rute jarak pendek dan ketinggian rendah, lebih efisien daripada pesawat jet untuk rute tersebut.
- Pesawat turboprop banyak dioperasikan oleh maskapai penerbangan untuk melayani rute regional jarak dekat, serta masih diproduksi oleh sejumlah pabrikan terkenal.
- Mesin turboprop tidak hanya digunakan untuk pesawat kecil, tetapi juga digunakan pada pesawat angkut militer berat seperti Airbus A400M, dengan emisi CO2 yang lebih rendah.
Pesawat turboprop atau pesawat bermesin baling-baling mungkin memiliki penampilan yang kontras bila dibandingkan dengan pesawat bermesin turbofan atau yang lebih dikenal oleh khalayak umum sebagai pesawat jet yang terlihat lebih cangih dan futuristik tanpa adanya bilah baling-baling. Menurut laman Skybrary-Aero, mesin turboprop bekerja dengan prinsip yang berbeda dengan mesin jet pada umumnya (turbofan), mesin turboprop menggunakan turbin gas untuk memutar baling-baling.
Alih-alih mengubah energinya menjadi daya dorong yang keluar dari pipa jet sebagaimana prinsip kerja pada mesin jet, mesin turboprop mengubah energinya menjadi tenaga yang menggerakkan baling-baling untuk menciptakan daya dorong yang akan menggerakkan pesawat baik di udara maupun di darat. Sejumlah maskapai penerbangan masih menggunakan pesawat turboprop ini untuk melayani rute regionalnya. Baik pesawat bermesin turboprop maupun mesin jet memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang dapat saling melengkapi.
Ingin tahu, mengapa mesin baling-baling atau turboprop ini masih digunakan di dunia penerbangan modern? Simak lima fakta menariknya berikut ini, yuk!
1. Efisien dalam konsumsi bahan bakar untuk jarak pendek

Tak dapat dipungkiri, berbeda dengan pesawat bermesin jet, visual pesawat bermesin turboprop memang terlihat seperti pesawat tradisional yang old style, namun pesawat ini memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh pesawat bermesin jet. Dilansir laman Key Aero, untuk rute jarak dekat, yang biasanya sekitar 500-an km dan tak mensyaratkan ketinggian di atas 30.000 kaki (9000-an m), untuk kelas yang sama, pesawat turboprop jauh lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar dibandingkan dengan pesawat bermesin jet.
Namun jika sebuah penerbangan adalah penerbangan jarak jauh seperti penerbangan lintas benua, maka pesawat bermesin jet akan lebih efisien karena pesawat bermesin jet dapat bergerak lebih cepat pada ketinggian sekitar 42.000 kaki (12.000-an m), yang jauh tinggi dibandingkan ketinggian maksimum pesawat bermesin turboprop. Sejumlah informasi menuliskan pada ketinggian tinggi, kepadatan udara yang lebih rendah mengurangi hambatan aerodinamis pada badan pesawat sehingga pesawat jet dapat bergerak lebih cepat dengan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien.
2. Dioperasikan maskapai untuk penerbangan regional

Karena mesin turboprop yang efektif dan efisien untuk jarak dekat dan ketinggian yang lebih rendah, pesawat-pesawat bermesin turboprop ini, utamanya dari jenis pesawat penumpang komersial masih banyak digunakan oleh sejumlah maskapai untuk melayani penerbangan regional jarak dekatnya. Maskapai-maskapai terkenal yang mengoperasikan pesawat turboprop ini seperti: HOP, maskapai anak perusahaan Air France, kemudian ada JSX airline dari Amerika Serikat (AS), dan Croatioa Arlines. Perusahaan kurir terkenal Fedex pun juga mengoperasikan pesawat dari keluarga ATR untuk operasionalnya. Untuk dalam negeri Indonesia dikenal Wings Air dan Citilink yang mengoperasikan keluarga pesawat ATR.
Dilansir laman Aerosociety, sejumlah pabrikan terkenal masih memproduksi pesawat bermesin turboprop ini seperti: ATR yang merupakan pabrikan joint venture antara Italia dn Prancis yang terkenal dengan produk pesawatnya ATR-42 dan ATR-72, Bombardier Aviation dengan produksi pesawat komersial keluarga CRJ, Airbus, Piaggio Aerospace yang memproduksi pesawat privat untuk para eksekutif, Pilatus Aircraft, Cessna, dan Textron Aviation.
3. Teknologi yang masih digunakan oleh pesawat angkut militer berat
Apakah mesin turboprop hanya digunakan untuk pesawat berukuran kecil saja? fakta menjawab tidak. Kita ambil contoh salah satu pesawat angkut militer modern buatan pabrikan aviasi terkenal Airbus yakni: A400M. Sebagaimana diinformasikan dalam laman Airbus, A400M adalah pesawat angkut militer dengan 4 buah mesin turboprop yang menggabungkan kemampuan untuk terbang jauh dengan membawa muatan yang lebih besar dibandingkan dengan yang mampu dibawa pesawat angkut menengah lainnya. A400M memiliki kapasitas angkut antara 37 hingga 41 ton.
Dalam medan operasi yang berat, mesin turboprop memberikan perlindungan yang lebih baik dari FOD (Foreign Object Debris/ serpihan benda asing) serta memampukan pesawat untuk lepas landas dan mendarat dari landasan pacu taktis yang pendek, tak beraspal serta tak diperkeras yang menyulitkan pesawat angkut berat bermesin jet untuk beroperasi. Selain itu mesin turbopropnya memberikan keunggulan ketika ia harus terbang rendah (low level) dan dalam kecepatan yang rendah utamanya ketika melakukan operasi militer di daerah musuh. TNI AU telah memiliki pesawat angkut militer canggih ini.
4. Memiliki emisi CO2 yang lebih rendah

Menurut laman Atr-Aircraft, salah satu fakta dari pesawat turboprop adalah memiliki emisi CO2 yang lebih rendah karena konsumsi bahan bakar yang lebih rendah dibandingkan dengan pesawat bermesin jet dalam kelasnya sehingga menjadikannya lebih ramah lingkungan.
Pesawat turboprop beroperasi pada ketinggian yang lebih rendah dibandingkan dengan pesawat bermesin jet, karenanya pesawat tersebut tidak menghasilkan contrail atau jejak uap air terkondensasi yang muncul dari sisa pembakaran bahan bakar pesawat sebagaimana biasa terlihat di pesawat bermesin jet. Berkat emisi yang lebih rendah, mesin turboprop memainkan peran penting dalam penerbangan ramah lingkungan yang berkelanjutan.
5. Lima pesawat turboprop tercepat di dunia

Sejumlah pesawat bermesin turboprop diketahui memiliki kecepatan yang cukup tinggi dan hampir menyamai kecepatan jelajah pesawat bermesin jet. Sebagai informasi, kecepatan jelajah pesawat penumpang bermesin jet adalah sekitar 840 hingga 975 km/jam, pesawat jet pribadi sekitar 700 hingga 1.100 km/ jam. Menurut laman Simple Flying, terdapat 5 pesawat bermesin turboprop tercepat yang didominasi oleh pesawat angkut militer. Dari yang terendah, posisi ke-5 ditempati oleh pesawat angkut militer asal Italia Alenia C-27J Spartan, yang memiliki kecepatan jelajah maksimum sekitar 602 km/jam.
Posisi ke-4 ditempati pesawat penumpang buatan pabrikan Bombardier: De Havilland Canada Dash 8 Q400, yang memiliki kecepatan jelajah maksimum sekitar 667 km/jam. Posisi ke-3 adalah pesawat angkut militer legendaris C-130J Super Hercules, yang memiliki kecepatan jelajah maksimum sekitar 670 km/jam, posisi ke-2 ditempati Piaggio P-180 Avanti, sebuah pesawat privat yang memiliki kecepatan jelajah maksimum sekitar 745 km/jam dan yang paling cepat adalah pesawat angkut militer A400M yang memiliki kecepatan jelajah maksimum yang hampir menyamai kecepatan jelajah pesawat bermesin jet , yaitu sekitar 889 km/jam
Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu mengenai mengapa mesin baling-baling masih digunakan dalam dunia penerbangan modern saat ini, ya!

















