Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal B-52, Bomber Ikonik AU AS yang Crash Saat Take Off  di California
potret B-52H Stratofortress yang sedang mengudara (commons.wikimedia.org/Senior Airman Keifer Bowes)
  • Sebuah B-52H Stratofortress milik AU AS jatuh sesaat setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Edwards, California, menewaskan delapan awak dalam misi latihan rutin.
  • B-52 dikenal sebagai bomber strategis legendaris yang menjadi bagian penting dari kekuatan nuklir AS, mampu membawa hingga 20 rudal jelajah berhulu ledak nuklir AGM-86B.
  • Pesawat ini memiliki sistem kursi lontar dua tingkat untuk lima awak utama, dengan mekanisme pelontaran ke atas dan ke bawah sesuai posisi di kokpit.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Beberapa hari yang lalu beredar kabar sebuah kecelakaan fatal yang menimpa pesawat pengebom strategis atau yang lebih dikenal dengan sebutan bomber, B-52H Stratofortress milik US Air Force (AU) Amerika Serikat (AS). Sebagaimana dilansir oleh CNN, pada hari Senin (15/6/2026), sebuah bomber B-52 mengalami crash sesaat setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Edwards, California untuk misi latihan rutin. Insiden tersebut merenggut nyawa 8 orang awak pesawat yang sedang bertugas di atas satu-satunya bomber bermesin 8 buah jet ini.

B-52 adalah bomber ikonik dan legendaris milik AU AS, merupakan pesawat pengembom strategis antar benua pertama yang dimiliki oleh AU AS yang ditenagai seluruhnya oleh mesin jet. B-52 mulai operasional pada tahun 1955 dan telah memiliki sejumlah varian, dari varian A hingga varian H.

Varian H merupakan satu-satunya varian B-52 yang masih aktif dan operasional hingga saat ini. Produksi terakhir pesawat B-52 varian H terjadi di tahun 1962 yang berarti usia termuda armada ini adalah 64 tahun sehingga tak berlebihan jika bomber ini juga mendapatkan julukan sang "jago tua".

1. Platform pembawa senjata nuklir AU AS

B-52 mampu mengangkut bom dan rudal hingga sekitar 31 ton

Selain kemampuannya membawa rudal dan bom-bom konvensional, B-52 adalah salah satu platform pembawa senjata nuklir militer AS yang dikenal dengan The U.S. nuclear triad. Menurut laman US Department of War, The U.S. nuclear triad adalah 3 cabang kekuatan nuklir militer AS yang terdiri atas rudal balistik antar benua (ICBM) berbasis darat Minuteman-III, rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam kelas Ohio AL AS (SLBM) Trident-II dan rudal jelajah nuklir yang diluncurkan dari pesawat pengebom strategis B-2 Spirit dan B-52 AU AS.

Sebagai platform senjata nuklir, bomber buatan pabrikan Boeing yang memiliki dimensi panjang 48,5 m dan rentang sayap 56,4 m ini dapat membawa dan meluncurkan rudal jelajah berhulu ledak nuklir yang diluncurkan dari udara (ALCM) AGM -86B. Rudal jelajah udara tersebut didesain untuk dapat membawa hulu ledak nuklir W-80 dengan kekuatan antara 5 hingga 150 kiloton TNT. Sebagai perbandingan kekuatan ledakan bom atom di Hiroshima tahun 1945 adalah sekitar 15 kiloton dan setiap B-52H saat ini mampu membawa sekitar 20 buah AGM -86B.

2. Pernah siaga 24/7 di era Perang Dingin

potret B-52H yang tengah melakukan pengisian bahan bakar di udara dari pesawat tanker AU Italia (commons.wikimedia.org/USAF)

Terdapat salah satu fakta menarik mengenai kiprah dari B-52 ini di era Perang Dingin dengan Uni Soviet di masa silam. Air and Space Force Magazine melansir pada tahun 1961-1968, militer AS menggelar operasi bertajuk "Chrome Dome" di mana sejumlah armada B-52 berada dalam status kesiagaan tinggi dengan bergantian terbang selama 24 jam penuh, 7 hari seminggu dengan membawa senjata termonuklirnya di wilayah Atlantik hingga Mediterania, Kanada dan Alaska.

Hal tersebut dilakukan untuk memastikan kemampuan serangan nuklir balasan pihak militer AS jika terjadi serangan nuklir mendadak dari Uni Soviet terhadap wilayah AS. Operasi "Chrome Dome" dihentikan pada tahun 1968 setelah terjadi insiden kecelakaan B-52 yang membawa senjata nuklir tersebut.

Tak banyak pesawat militer AU AS seperti B-52 ini yang terlibat dalam berbagai konflik militer dalam rentang waktu puluhan tahun, dari tahun 1965 saat Perang Vietnam berkecamuk hingga hari ini. Terakhir B-52 terlibat dalam operasi militer bertajuk "Epic Fury" yang merupakan operasi militer AS terhadap target militer Iran yang memicu konflik militer berskala besar di Timur Tengah pada tahun 2026 ini.

3. memiliki sistem kursi lontar 2 tingkat

potret B-52 H yang sedang demo terbang bersama bomber ikonik dari era PD II, B-17 Flying Fortress (atas) dan B-29 Superfortress (kiri bawah) di tahun 2017 silam (commons.wikimedia.org/Curt Beach)

Sejatinya untuk fitur keselamatan, B-52 memiliki sistem kursi lontar dengan konfigurasi yang unik dan canggih untuk kokpit 2 tingkatnya bila terjadi situasi darurat saat bomber tersebut mengudara. Normalnya sebuah B-52 diawaki oleh 5 orang dalam konfigurasi standar yang terdiri atas pilot, kopilot, navigator, navigator radar dan Electronic Warfare Officer. Jumlahnya masih bisa ditambah sekitar 3 orang untuk misi penelitian khusus.

Untuk konfirgurasi standar, saat terjadi kedaruratan, pilot, kopilot dan Electronic Warfare Officer (EWO) melontar ke atas (eject upwards) dari kokpit atas. Dibutuhkan ketinggian agar parasut dapat terbuka dengan aman. Untuk awak navigator dan navigator radar di bagian dek bawah kursi lontar akan melontar ke bawah (downward ejection) melalui bagian bawah pesawat. Dalam ketinggian rendah, para navigator tak dapat melontarkan diri dengan aman dari kokpit di bagian bawah pesawat dan harus memanjat manual ke bagian pesawat yang lebih tinggi dan keluar melalui pintu palkanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article