Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

4 Fakta Unik Ani, Kota Kuno Megah di Turki dan Armenia

4 Fakta Unik Ani, Kota Kuno Megah di Turki dan Armenia
potret sisa reruntuhan Kota Ani (Engin Tavlı, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Ani adalah kota kuno di perbatasan Turki dan Armenia yang pernah menjadi ibu kota Kerajaan Armenia abad ke-10, kini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2016.
  • Kota ini dikenal dengan julukan 'kota seribu satu gereja' karena banyaknya bangunan suci megah, serta pernah menyaingi kejayaan Konstantinopel berkat posisinya di jalur Sutra.
  • Reruntuhan Ani berdiri di zona perbatasan militer sensitif namun kini terbuka untuk wisatawan, menampilkan arsitektur batu vulkanis lokal yang eksotis dan bernilai sejarah tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sebuah dataran tinggi berangin di perbatasan timur Turki dan Armenia menyimpan sisa-sisa kemegahan masa lalu yang kini sunyi senyap. Wilayah ini merupakan tempat berdirinya reruntuhan Ani, sebuah kota metropolitan abad pertengahan yang pernah menjadi ibu kota Kerajaan Armenia pada abad ke-10. Reruntuhan megah tersebut kini berdiri membisu di tepi Sungai Akhuryan yang memisahkan wilayah administratif kedua negara bertetangga tersebut. Tempat bersejarah ini memancarkan pesona magis sekaligus melankolis bagi siapa saja yang mengunjunginya secara langsung.

Kota mati yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2016 ini perlahan ditinggalkan oleh penduduknya setelah diguncang gempa dahsyat dan diserbu oleh pasukan Mongol. Kejayaan jalur perdagangan Sutra yang berpindah rute juga mempercepat kepunahan kehidupan sosial di dalam benteng kokoh tersebut. Kini, bangunan-bangunan batu yang tersisa hanya menjadi saksi bisu dari sejarah panjang peradaban manusia yang sempat bersinar terang sebelum akhirnya redup ditelan zaman.

1. Kota ini menyandang julukan unik sebagai kota seribu satu gereja

potret bangunan katedral di Ani
potret bangunan katedral di Ani (Hansm, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Julukan ini melekat karena saking banyaknya bangunan suci di dalam kompleks kota. Catatan sejarah menyebutkan bahwa raja dan bangsawan Armenia berlomba-lomba mendirikan gereja yang indah. Walaupun jumlah aslinya tidak sampai seribu satu, kemegahannya tetap tak terbantahkan. Para arkeolog sejauh ini baru berhasil mengeksplorasi sekitar lima puluh gereja di sana.

Setiap bangunan ibadah ini memiliki desain arsitektur yang sangat maju pada zamannya. Salah satu yang paling terkenal adalah Katedral Ani dengan kubahnya yang megah. Ada pula Gereja Penebus Suci yang kini hanya tersisa setengah bagian akibat tersambar petir. Sisa-sisa bangunan tersebut menggambarkan betapa tingginya nilai religius masyarakat setempat kala itu.

2. Kemegahan kota kuno ini pernah menyaingi kota Konstantinopel

potret sisa reruntuhan Kota Ani
potret sisa reruntuhan Kota Ani (Engin Tavlı, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Pada masa keemasannya, Ani dihuni oleh lebih dari seratus ribu jiwa. Angka tersebut sangat fantastis untuk ukuran sebuah kota di abad pertengahan. Jumlah ini bahkan mampu bersaing ketat dengan kota metropolitan besar seperti Bagdad. Banyak pedagang dari berbagai penjuru dunia menetap dan bertransaksi di sana secara aktif.

Pertumbuhan pesat ini didorong oleh posisi strategisnya yang berada di jalur Sutra. Kota ini menjadi pusat perdagangan bulu, rempah-rempah, hingga logam mulia yang sangat ramai. Keamanan kota juga sangat terjamin berkat sistem benteng ganda yang melingkar sepanjang empat kilometer. Tidak heran jika banyak saudagar kaya yang memilih untuk menimbun harta mereka di sini.

3. Situs bersejarah ini berdiri tepat di atas perbatasan militer yang sensitif

potret sisa reruntuhan kota Ani
potret sisa reruntuhan kota Ani (Ggia, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Reruntuhan Ani berada langsung di garis batas negara antara Turki modern dan Armenia. Kedua negara tersebut diketahui memiliki sejarah hubungan diplomatik yang sangat rumit dan tegang. Sungai Akhuryan menjadi pembatas fisik alami yang membelah area situs bersejarah tersebut. Wisatawan yang berkunjung ke sini dapat melihat menara pengawas militer Armenia dari kejauhan.

Meskipun berada di zona militer yang dijaga ketat, akses bagi wisatawan kini sudah jauh lebih mudah. Pengunjung tidak memerlukan izin khusus lagi dari pihak kepolisian setempat untuk masuk. Anda hanya perlu membeli tiket resmi di gerbang masuk utama yang terletak di wilayah Turki. Suasana sunyi di tengah penjagaan ketat ini memberikan sensasi petualangan yang sangat mendebarkan.

4. Arsitek bangunan menggunakan batu vulkanis lokal untuk mempercantik dinding

potret sisa reruntuhan kota Ani
potret sisa reruntuhan kota Ani (Ggia, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Hampir seluruh struktur bangunan di Ani memanfaatkan batu tuf vulkanis yang melimpah di sekitarnya. Batu alam ini memiliki karakteristik yang sangat unik dan mudah untuk dipahat secara detail. Warna alami batu tersebut didominasi oleh rona kemerahan, cokelat tua, hingga hitam pekat. Kombinasi warna ini memberikan gradasi visual yang sangat eksotis pada setiap dinding bangunan.

Para pengrajin batu abad pertengahan berhasil menciptakan teknik konstruksi yang tahan terhadap guncangan gempa. Mereka memahat motif geometris dan relief keagamaan yang sangat rumit pada permukaan batu. Sayangnya, banyak mahakarya seni pahat ini yang mulai terkikis oleh cuaca ekstrem setempat. Meskipun demikian, sisa-sisa keindahan arsitektur tersebut masih memancarkan pesona magis yang luar biasa.

Mengunjungi reruntuhan Ani seperti melakukan perjalanan melintasi mesin waktu ke masa kejayaan abad pertengahan. Meskipun kini hanya menyisakan tumpukan batu yang membisu, keindahan arsitektur dan nilai sejarahnya akan selalu abadi. Destinasi wisata sejarah ini sangat layak masuk ke dalam daftar rencana perjalanan masa depan Anda.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More