Kalahkan Rekor Mesir, Ini 4 Fakta Unik Pyramids Of Meroë di Sudan

- Kompleks Meroë di Sudan memiliki lebih dari 200 piramida peninggalan Kerajaan Kush, jumlahnya bahkan melampaui koleksi piramida Mesir dan menjadi simbol kejayaan peradaban Afrika kuno.
- Piramida Meroë berukuran lebih kecil dengan sudut kemiringan sekitar 70 derajat karena teknik konstruksi tradisional menggunakan alat pengungkit shadouf yang membentuk struktur curam dan runcing.
- Berbeda dari Mesir, makam raja Kush berada di bawah tanah sementara piramidanya berfungsi sebagai penanda megah; sayangnya banyak puncak rusak akibat ledakan pemburu harta Giuseppe Ferlini pada abad ke-19.
Mesir sering kali dianggap sebagai satu-satunya rumah bagi piramida megah di dunia. Namun, ribuan kilometer di sebelah selatan, tepatnya di wilayah kuno Nubia yang sekarang dikenal sebagai Sudan, berdiri ratusan piramida yang tidak kalah menakjubkan. Di sebuah situs bernama Meroë, peradaban kuno Kerajaan Kush mendirikan bangunan-bangunan ini sekitar tahun 300 Sebelum Masehi hingga 350 Masehi sebagai simbol kejayaan mereka.
Kompleks pemakaman kuno ini menyimpan sejarah luar biasa tentang kemakmuran para firaun hitam yang pernah menguasai lembah Sungai Nil. Meskipun saat ini situs Meroë harus berjuang melawan ancaman badai pasir gurun dan konflik wilayah, pesonanya tetap memikat para peneliti dunia karena keunikan struktur yang berbeda jauh dari piramida Giza.
1. Jumlah piramida di kompleks Meroë melampaui koleksi milik Mesir

Situs kuno Meroë menyimpan kejutan besar bagi para pencinta sejarah dunia. Banyak orang mengira Mesir adalah negara dengan piramida terbanyak di bumi. Padahal, wilayah Sudan memiliki jumlah piramida yang jauh lebih melimpah secara keseluruhan. Kompleks Meroë sendiri menampung lebih dari 200 struktur piramida yang berdiri anggun di tengah gurun pasir.
Jumlah fantastis ini menjadikannya salah satu konsentrasi piramida terbesar dalam sejarah kuno. Bangunan ini didirikan oleh para penguasa Kerajaan Kush yang sangat makmur pada masanya. Mereka membangun makam-makam megah tersebut sebagai simbol kekuasaan spiritual yang tidak tertandingi. Keberadaan ratusan piramida ini membuktikan betapa dinamisnya peradaban Afrika kuno di masa lalu.
2. Desain arsitektur piramida ini memiliki sudut kemiringan yang sangat curam

Piramida Nubia di Meroë memiliki tampilan fisik yang sangat khas dan unik. Ukurannya relatif jauh lebih kecil dibandingkan dengan Piramida Agung Giza di Mesir. Tinggi piramida ini rata-rata hanya berkisar antara 6 hingga 30 meter saja. Namun, yang paling mencolok adalah sudut kemiringannya yang sangat tajam dan runcing ke atas.
Sudut kemiringan piramida di situs ini bisa mencapai sekitar 70 derajat. Hal ini terjadi karena teknik pembangunan yang menggunakan alat pengungkit bernama shadouf. Alat derek tradisional ini ditempatkan tepat di bagian tengah struktur selama proses konstruksi. Akibat keterbatasan jangkauan alat tersebut, fondasi piramida terpaksa dibuat sempit sehingga menghasilkan dinding yang curam.
3. Makam raja tidak berada di dalam bangunan melainkan terkubur di bawah tanah

Piramida di Mesir umumnya berfungsi sebagai makam dengan ruangan kubur di dalam struktur utama. Namun, arsitek Kerajaan Kush menerapkan konsep yang sepenuhnya berbeda di Meroë. Bangunan piramida di sini sebenarnya berfungsi seperti batu nisan raksasa yang padat di bagian dalamnya. Ruang pemakaman yang asli justru digali jauh ke dalam batuan keras di bawah tanah.
Para arkeolog menemukan bahwa jenazah anggota kerajaan diletakkan di kamar bawah tanah tersebut. Setelah proses pemakaman selesai, barulah struktur piramida batu pasir dibangun tegak tepat di atasnya. Di bagian timur setiap piramida, mereka juga membangun kapel persembahan kecil untuk ritual doa. Konsep unik ini menunjukkan perkembangan tradisi keagamaan yang sangat mandiri di wilayah Nubia.
4. Pemburu harta karun asal Italia menghancurkan bagian puncak piramida dengan dinamit

Jika kamu melihat foto-foto piramida Meroë, banyak puncaknya yang tampak terpotong atau rusak. Kerusakan tragis ini bukanlah disebabkan oleh faktor alam atau usia bangunan yang menua. Pelakunya adalah seorang penjelajah sekaligus pemburu harta karun asal Italia bernama Giuseppe Ferlini. Pada tahun 1834, ia melakukan penggalian liar di situs bersejarah ini demi mencari emas.
Ferlini menggunakan bahan peledak dinamit untuk menghancurkan bagian atas piramida demi menembus ruang rahasia. Metode kasar ini berhasil membuatnya menemukan koleksi perhiasan emas berharga milik Ratu Amanishakheto. Sayangnya, tindakan serakah tersebut meninggalkan luka permanen pada puluhan struktur piramida yang kini kehilangan puncaknya. Koleksi emas hasil jarahan itu pun akhirnya tersebar di berbagai museum di Eropa hingga saat ini.
Meskipun sempat dijarah dan kini harus bertahan di tengah konflik yang melanda Sudan, Pyramids of Meroë tetap berdiri kokoh sebagai saksi bisu kejayaan peradaban kuno Afrika. Warisan luar biasa ini layak mendapatkan perhatian dunia agar kisahnya yang sarat akan sejarah tidak tenggelam begitu saja ditelan badai pasir gurun.




![[QUIZ] Dari Jenis Bintang Favoritmu, Ini Cara Kamu Menghadapi Tantangan](https://image.idntimes.com/post/20250519/reign-abarintos-ckxtsjwu-i-unsplash-4c4e0935346233c8fec14261a45ff371-007b40cbd707b51771f718b1af252a2c.jpg)













