Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

4 Fakta Unik Shali Fortress, Benteng Kokoh yang Meleleh Kena Hujan

4 Fakta Unik Shali Fortress, Benteng Kokoh yang Meleleh Kena Hujan
Shali Fortress (Ibrahim El-Mezayen, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Shali Fortress di Oasis Siwa, Mesir, dibangun abad ke-13 oleh suku Berber menggunakan material alami bernama karsheef yang terbuat dari lumpur, tanah liat, pasir halus, dan garam.
  • Dinding tebal benteng dari karsheef berfungsi sebagai pengatur suhu alami, menjaga ruangan tetap sejuk di siang hari dan hangat saat malam tanpa bantuan teknologi modern.
  • Badai hujan besar tahun 1926 melarutkan garam pada struktur benteng hingga meleleh, memaksa warga meninggalkan Shali Fortress yang kini menyisakan masjid kuno tertua berbahan karsheef.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Mesir tidak hanya menyimpan misteri piramida dan mumi Firaun yang megah di sepanjang Sungai Nil. Di bagian barat laut negeri ini, tepatnya di tengah sunyinya Oasis Siwa yang terisolasi, berdiri sebuah struktur kuno yang sangat menakjubkan bernama Shali Fortress. Benteng kota yang dibangun pada abad ke-13 ini memiliki sejarah panjang yang sangat unik sekaligus tragis bagi masyarakat suku Berber setempat.

Sejak ratusan tahun lalu, benteng raksasa tersebut didirikan oleh warga lokal untuk berlindung dari serangan suku nomaden gurun yang gemar menjarah wilayah oasis. Arsitektur benteng pertahanan ini sangat berbeda dari bangunan bersejarah lainnya karena menggunakan material alam yang tak biasa dari danau garam sekitar. Sayangnya, ketangguhan benteng kokoh ini harus runtuh secara perlahan akibat sebuah fenomena alam yang sangat jarang terjadi di wilayah gurun pasir yang gersang.

1. Warga lokal membangun benteng ini dengan material karsheef

Shali Fortress
Shali Fortress (Khaled E. Ahmed, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Masyarakat kuno di Oasis Siwa menggunakan bahan lokal yang melimpah di sekitar mereka untuk mendirikan benteng pertahanan. Bahan utama yang legendaris tersebut dikenal luas dengan nama karsheef oleh penduduk setempat. Material ramah lingkungan ini merupakan campuran unik antara lumpur, pasir halus, tanah liat, dan bongkahan garam alami. Mereka juga menambahkan batang serta pelepah pohon kurma sebagai kerangka penguat struktur bangunan agar tidak mudah roboh.

Garam yang digunakan untuk membuat karsheef diambil langsung dari tepi danau garam yang tersebar di wilayah oasis. Ketika adonan lumpur garam basah tersebut mengering diterpa panas matahari, ia akan mengeras seperti batu semen dengan kekuatan yang sangat luar biasa. Penggunaan karsheef membuat seluruh bangunan benteng ini tampak menyatu dengan warna pasir gurun di sekelilingnya. Hal ini membuat Shali Fortress dinobatkan sebagai salah satu mahakarya arsitektur ramah lingkungan paling genius di dunia.

2. Dinding garam benteng ini berfungsi sebagai pengatur suhu alami

Shali Fortress
Shali Fortress (Ibrahim El-Mezayen, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Suhu ekstrem di wilayah Gurun Sahara sering kali menjadi tantangan berat bagi kelangsungan hidup manusia di sana. Pada siang hari yang terik, cuaca bisa menjadi sangat panas dan membakar kulit para penduduk. Sebaliknya, suhu udara akan turun dengan sangat drastis hingga terasa sangat dingin ketika malam hari mulai tiba. Struktur dinding tebal Shali Fortress ternyata mampu mengatasi masalah perbedaan suhu yang ekstrem tersebut dengan sangat baik.

Dinding tebal yang terbuat dari material karsheef ini bertindak sebagai insulator udara alami yang sangat luar biasa. Saat matahari bersinar terik pada siang hari, ruangan di dalam benteng akan tetap terasa sejuk dan nyaman untuk ditinggali. Ketika malam yang dingin melanda gurun, dinding tersebut akan melepaskan kembali energi hangat yang diserapnya sepanjang siang hari. Kehebatan teknologi arsitektur tradisional ini membuat para penghuninya bisa hidup dengan sangat nyaman tanpa memerlukan alat pendingin ruangan modern.

3. Badai hujan dahsyat membuat benteng megah ini meleleh

Shali Fortress
Shali Fortress (Vojife, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons)

Sebagai wilayah gurun pasir yang sangat gersang, Oasis Siwa memang dikenal sangat jarang diguyur oleh hujan deras. Namun, sebuah petaka besar yang tak terduga melanda wilayah terisolasi ini pada tahun 1926 silam. Badai hujan lebat yang sangat tidak biasa mengguyur kota kuno tersebut selama tiga hari berturut-turut tanpa henti. Peristiwa cuaca langka ini menjadi awal mula kehancuran dari benteng garam yang selama ini dikenal sangat tangguh.

Air hujan yang mengguyur deras perlahan melarutkan kandungan garam yang berfungsi mengikat seluruh dinding karsheef benteng tersebut. Akibatnya, struktur bangunan kokoh yang telah bertahan selama ratusan tahun itu perlahan-lahan melunak dan meleleh seperti es. Banyak rumah penduduk yang hancur seketika sehingga kondisi di dalam kompleks benteng menjadi sangat tidak aman. Kejadian tragis ini akhirnya memaksa warga untuk meninggalkan Shali Fortress dan membangun permukiman modern di luar area benteng kuno.

4. Kompleks benteng ini menyimpan masjid tertua dari bahan karsheef

Shali Fortress
Shali Fortress (Doaa Adel, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Di dalam labirin dinding Shali Fortress yang berliku, terdapat sebuah bangunan suci bersejarah yang bernilai sangat tinggi. Bangunan bersejarah tersebut adalah Masjid Kuno Shali yang selesai dibangun bersamaan dengan berdirinya benteng pada tahun 1203 Masehi. Tempat ibadah ini dinobatkan sebagai masjid tertua di dunia yang seluruh strukturnya terbuat dari campuran karsheef. Meskipun usianya sudah sangat tua dan sempat mengalami kerusakan, keindahan arsitektur aslinya tetap bisa dirasakan hingga kini.

Masjid unik ini sengaja dibangun di atas bukit kecil yang terletak di dalam area kompleks pertahanan benteng. Tujuannya adalah agar kumandang suara azan dari muazin bisa menjangkau seluruh sudut permukiman warga dengan sangat mudah. Pada bagian dinding masjid yang bertekstur kasar, Anda bahkan masih bisa melihat bekas cetakan telapak tangan asli dari para pembangun pertamanya. Situs suci ini menjadi simbol spiritualitas yang kuat sekaligus saksi bisu ketangguhan komunitas Muslim di Oasis Siwa.

Meskipun Shali Fortress kini sebagian besar telah berubah menjadi reruntuhan yang perlahan larut kembali ke bumi, pesona sejarahnya tidak pernah pudar bagi dunia. Keunikan arsitektur ramah lingkungan dan kisah ketangguhan masyarakat adat di tengah kerasnya Gurun Sahara akan selalu menginspirasi siapa saja yang datang berkunjung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More