Penggundulan Hutan Bikin Nyamuk Makin Haus Darah Manusia

- Studi di sisa Hutan Atlantik menemukan 18 dari 24 sampel darah nyamuk berasal dari manusia, meski penelitian dilakukan di kawasan hutan lindung.
- Deforestasi dan perluasan permukiman mengurangi fauna lokal sebagai inang, sehingga nyamuk beradaptasi mencari darah manusia yang lebih mudah tersedia.
- Peralihan nyamuk ke manusia dikhawatirkan meningkatkan risiko penularan demam kuning, dengue, Zika, Mayaro, Sabia, dan chikungunya di wilayah terdampak.
Merasa gak, sih, kalau nyamuk rasanya makin ganas dari tahun ke tahun? Jumlah nyamuk makin banyak dan nyamuk juga lebih sering menggigit. Well, ada kemungkinan penggundulan hutan jadi salah satu penyebabnya.
Ya, tim peneliti baru saja menemukan fakta kalau penggundulan hutan bikin nyamuk makin haus darah manusia. Terdapat banyak darah manusia di perut-perut nyamuk yang diteliti di kawasan hutan yang mengalami deforestasi parah. Memangnya, apa hubungan penggundulan hutan dengan pola makan nyamuk? Benarkah penggundulan hutan bikin nyamuk mengincar darah manusia?
1. Nyamuk-nyamuk di Hutan Atlantik mulai menyasar darah manusia

Nyamuk makan darah manusia. (pexels.com/shyamli-kashyap-13140263) Di dalam studi itu, tim peneliti mengamati kebiasaan makan beberapa spesies nyamuk di Hutan Atlantik. FYI, Hutan Atlantik ini hutan berdaun lebar dan lembap yang membentang di sepanjang pesisir timur Amerika Selatan. Sekarang, ukurannya sudah mengecil jadi 29 persen dari ukuran aslinya gara-gara penggundulan hutan.
Nah, tim peneliti berniat mencari tahu hewan lokal mana saja yang jadi sumber makanan favorit beberapa spesies nyamuk. Setelah dianalisis, terlihatlah spesies mamalia mana yang paling disukai. Nyamuk-nyamuk yang hidup di sisa-sisa Hutan Atlantik itu punya preferensi jelas mengisap darah manusia, ungkap Dr. Jeronimo Alencar, penulis utama studi sekaligus pakar biologi dari Institut Oswaldo Cruz, pada laman Science Daily. Temuannya dimuat dalam jurnal Frontiers pada awal 2026 lalu.
Dari 24 individu nyamuk, sumber darah diidentifikasi berasal dari 18 manusia, satu amfibi, enam burung, satu hewan dari keluarga anjing, dan satu tikus. Temuan ini tentu gak disangka-sangka. Pasalnya, nyamuk-nyamuk yang diteliti berada di kawasan hutan lindung. Tim peneliti mengira bakal menemukan lebih banyak DNA dari hewan vertebrata setempat, bukan dari manusia.
2. Apa hubungan penggundulan hutan dengan pola makan nyamuk?

Pemandangan udara sisa-sisa Hutan Atlantik. (commons.wikimedia.org/Jarbas Yurasseck Junior) Lantas, kenapa nyamuk-nyamuk ini menyasar manusia? Tim peneliti yakin ada beberapa faktor yang menjelaskan perubahan pola makan ini. Meski beberapa spesies nyamuk punya preferensi bawaan, ketersediaan dan kedekatan inang jadi faktor yang sangat berpengaruh.
Kemungkinan besar, perubahan lingkungan di Hutan Atlantik mendorong nyamuk-nyamuk ini untuk mengincar darah manusia. Ini masalah kesempatan akibat tidak adanya sumber makanan pilihan, jelas Dr. Sérgio Lisboa Machado, pakar mikrobiologi dan imunologi dari Universitas Federal Rio de Janeiro yang jadi salah satu penulis studi. Bila nyamuk gak bisa menemukan sumber darah yang biasa diincar, mereka bakal mencari apa saja yang tersedia, tambahnya pada laman Popular Science.
Seiring berlanjutnya penggundulan hutan dan meluasnya permukiman manusia ke kawasan hutan, banyak fauna asli yang musnah. Alhasil, sumber makanan favorit nyamuk juga ikut hilang. Hebatnya, nyamuk ini hewan yang pandai beradaptasi. Akhirnya mereka memilih darah manusia yang lebih mudah didapat, mengingat manusia makin merambah ke kawasan hutan. Begitu nyamuk dapat sumber makanan baru, mereka mengembangkan preferensi terhadap jenis darah tersebut.
3. Risiko penularan penyakit yang dibawa nyamuk dikhawatirkan meningkat

Nyamuk mengisap darah manusia. (pixabay.com/fotoshoptofs-2171839) Meski ini kabar baik bagi keberlangsungan nyamuk, ini jadi kabar buruk bagi kita manusia. Makin banyak spesies nyamuk yang haus darah manusia, makin tinggi risiko penyakit yang timbul. Di wilayah yang diteliti, nyamuk-nyamuk menyebarkan berbagai virus seperti demam kuning, demam berdarah, Zika, Mayaro, Sabia, dan Chikungunya.
Di dalam studi, tim peneliti merujuk studi terdahulu mengenai penggundulan hutan terhadap populasi nyamuk. Mengutip laman ABC News, kawasan dengan tingkat penggundulan hutan tinggi punya populasi nyamuk yang lebih banyak, serta tingkat penyakit menular nyamuk lebih tinggi. Habitat yang terganggu menguntungkan spesies nyamuk yang berbiak di dekat permukiman manusia. Pada saat yang sama, berkurangnya keanekaragaman hayati memusnahkan hewan-hewan yang bisa meredam penularan penyakit.
Hutan Atlantik bukan satu-satunya kawasan alam yang hilang. Dari tahun ke tahun, makin banyak wilayah hutan di dunia yang hilang akibat perluasan aktivitas manusia, terlebih lagi di nusantara. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Auriga Nusantara, penggundulan hutan di Indonesia pada 2026 melonjak hingga 66 persen dari tahun 2024.
Lalu, apa solusinya? Untuk mengatasi dampak penggundulan hutan terhadap perubahan pola makan nyamuk, tentu saja kita perlu menghentikan penggundulan hutan. Setelah itu, barulah memulai upaya untuk memulihkan bioma dan habitat yang rusak supaya nyamuk kembali ke target aslinya. Bagaimana kalau menurutmu?






















