Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Mencegah Virus Zika, Bukan Cuma Menghindari Nyamuk

Cara Mencegah Virus Zika, Bukan Cuma Menghindari Nyamuk
Nyamuk Aedes aegypti. (commons.wikimedia.org/CDC/James Gathany)
  • Pencegahan utama Zika adalah menghindari gigitan nyamuk Aedes dan mengurangi tempat perkembangbiakannya.

  • Zika juga dapat menular melalui hubungan seksual, bahkan dari orang yang tidak mengalami gejala.

  • Pencegahan perlu lebih ketat selama kehamilan karena infeksi Zika dapat menyebabkan kelainan bawaan pada janin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Nyamuk Aedes aegypti lebih dikenal masyarakat Indonesia sebagai pembawa dengue. Namun, nyamuk yang sama juga merupakan vektor utama virus Zika.

Bedanya, Zika memiliki satu jalur penularan lain, yaitu dapat berpindah melalui hubungan seksual. Infeksi selama kehamilan bahkan dapat ditularkan kepada janin dan menyebabkan mikrosefali serta berbagai kelainan yang termasuk dalam sindrom Zika kongenital.

Sampai saat ini belum ada vaksin yang disetujui untuk mencegah Zika, sehingga pencegahan masih berfokus pada memutus kontak antara manusia dan nyamuk serta mencegah penularan seksual.

  1. 1. Gunakan repelan nyamuk

    Langkah pertama adalah mencegah Aedes menggigit kulit. Repelan yang direkomendasikan adalah yang mengandung DEET, icaridin atau picaridin, serta IR3535, dan digunakan sesuai petunjuk pada kemasan.

    Repelan tersebut juga dapat digunakan selama kehamilan jika digunakan sesuai aturan.

    Tinjauan sistematis terhadap 16 penelitian mengenai perlindungan terhadap Aedes aegypti dan Aedes albopictus menemukan produk berbahan DEET memberikan perlindungan yang efektif dan dalam beberapa perbandingan bertahan lebih lama daripada repelan berbahan citronella atau eucalyptus.

    Repelan perlu digunakan terutama pada bagian kulit yang tidak tertutup pakaian. Ikuti petunjuk mengenai seberapa sering produk harus diaplikasikan kembali karena durasi perlindungan berbeda menurut bahan dan konsentrasinya.

  2. 2. Waspada nyamuk sepanjang hari

    Tidak seperti nyamuk malaria yang identik dengan malam hari, Aedes aktif menggigit terutama pada siang hari, dengan aktivitas tinggi pada pagi serta sore hingga awal malam. Meski begitu, nyamuk tetap bisa menggigit baik siang maupun malam.

    Gunakan baju berlengan panjang dan celana panjang jika berada di wilayah dengan risiko Zika. Pasang kasa pada pintu dan jendela serta kelambu, khususnya ketika bayi, anak kecil, atau ibu hamil tidur pada siang hari.

  3. 3. Hilangkan tempat nyamuk berkembang biak

    Tangan memakai sarung tangan membuang air tergenang dari wadah plastik untuk mencegah sarang nyamuk di lingkungan rumah.
    ilustrasi membuang genangan air sarang nyamuk (pexels.com/cottonbro studio)

    Melindungi diri dari gigitan tak cukup kalau jumlah nyamuk di sekitar rumah banyak.

    Aedes dapat berkembang biak pada genangan air berukuran kecil di sekitar rumah, sekolah, dan tempat kerja. Jadi, tutup wadah penyimpanan air, buang air yang menggenang pada pot atau wadah lain, serta bersihkan sampah dan ban bekas yang dapat menampung air.

    Ingat selalu Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutupnya, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Juga, lakukan pengawasan jentik secara rutin.

    Satu tindakan sederhana tidak dapat menghilangkan seluruh risiko. Namun, studi terhadap intervensi tingkat rumah tangga menemukan bahwa pengendalian stadium nyamuk yang belum dewasa serta pendekatan terpadu sering menurunkan indikator jumlah Aedes, meski dampaknya terhadap kasus penyakit pada manusia lebih sulit dibuktikan dan sangat dipengaruhi kepatuhan masyarakat.

    Artinya, pemberantasan sarang nyamuk paling masuk akal dilakukan secara rutin dan bersama-sama, bukan hanya ketika sudah muncul kasus.

  4. 4. Orang yang terinfeksi juga perlu menghindari gigitan nyamuk

    Ketika seseorang terinfeksi Zika, nyamuk Aedes yang menggigitnya dapat memperoleh virus tersebut. Nyamuk kemudian berpotensi menularkannya kepada orang lain.

    Karena itu, orang yang kemungkinan terpapar atau terinfeksi Zika dianjurkan tetap melindungi diri dari gigitan nyamuk. Pelancong yang kembali dari daerah berisiko juga disarankan mencegah gigitan nyamuk selama tiga minggu setelah pulang untuk mengurangi peluang virus berpindah kembali ke populasi nyamuk lokal.

  5. 5. Gunakan kondom setelah kemungkinan terpapar Zika

    Zika dapat bertahan dalam cairan tubuh dan menular melalui hubungan seksual, termasuk dari orang yang tidak mengalami gejala. Virus diketahui bertahan lebih lama dalam semen dibandingkan cairan tubuh lainnya.

    Setelah bepergian ke wilayah dengan risiko Zika atau setelah infeksi:

    • Laki-laki: gunakan kondom atau tidak melakukan hubungan seksual selama sedikitnya 3 bulan.
    • Perempuan: gunakan kondom atau tidak berhubungan seksual selama sedikitnya 2 bulan.

    Periode tersebut dihitung sejak kembali dari perjalanan, sejak gejala dimulai, atau sejak diagnosis jika infeksi terkonfirmasi.

    Pencegahan seksual penting karena seseorang dapat menularkan Zika sebelum gejala muncul, ketika sakit, setelah gejala hilang, bahkan ketika sama sekali tidak merasa sakit.

  6. 6. Kehamilan membutuhkan perlindungan ekstra

    Ilustrasi bertema ibu hamil yang menggambarkan kondisi kehamilan dan perhatian terhadap kesehatan ibu selama masa kandungan.
    ilustrasi ibu hamil (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Pada sebagian besar orang dewasa, Zika menimbulkan penyakit ringan atau bahkan tanpa gejala. Namun, risikonya berbeda ketika infeksi terjadi selama kehamilan.

    Zika dapat berpindah dari ibu ke janin dan menyebabkan mikrosefali, gangguan perkembangan otak dan mata, serta komplikasi kehamilan seperti keguguran, lahir mati, dan kelahiran prematur.

    Karena itu, WHO merekomendasikan pasangan seksual dari ibu hamil yang tinggal di atau baru kembali dari daerah dengan transmisi Zika untuk menggunakan kondom secara konsisten atau tidak berhubungan seksual sepanjang kehamilan.

    Ibu hamil juga perlu ekstra disiplin menggunakan repelan, pakaian tertutup, serta perlindungan terhadap nyamuk di rumah. Jika akan bepergian ke wilayah dengan wabah Zika aktif, risiko perjalanan sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu dengan dokter.

    Karena Aedes juga menularkan dengue dan chikungunya, banyak tindakan pencegahan Zika juga memberi perlindungan terhadap beberapa penyakit sekaligus. Namun, satu perbedaan penting, Zika juga dapat menular melalui hubungan seksual.

    Karena belum ada vaksin, strategi terbaik adalah menggabungkan perlindungan diri dengan pengendalian nyamuk: pakai repelan, menutup kulit, memasang kasa atau kelambu, memberantas genangan air, dan melakukan pencegahan seksual setelah kemungkinan terpapar.

    Untuk ibu hamil, langkah-langkah tersebut makin penting karena ada risiko yang lebih serius bagi janin.

    Referensi

    World Health Organization, “Zika Virus,” diakses Agustus 2026.

    World Health Organization, “How to Prevent Zika,” diakses Agustus 2026.

    Mariana Rodrigues Fernandes et al., “Efficacy and Safety of Repellents Marketed in Brazil against Bites from Aedes aegypti and Aedes albopictus: A Systematic Review,” Travel Medicine and Infectious Disease 44 (2021): 102179.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Preventing Zika,” diakses Agustus 2026.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Penyakit Virus Zika (Zika Fever),” Infeksi Emerging, diakses Agustus 2026.

    Carlos Alberto Montenegro-Quiñonez et al., “Interventions against Aedes/Dengue at the Household Level: A Systematic Review and Meta-analysis,” eBioMedicine 93 (2023): 104660, https://doi.org/10.1016/j.ebiom.2023.104660.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Sexual Transmission of Zika Virus,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More