Nyamuk mengisap darah manusia. (pixabay.com/fotoshoptofs-2171839)
Meski ini kabar baik bagi keberlangsungan nyamuk, ini jadi kabar buruk bagi kita manusia. Makin banyak spesies nyamuk yang haus darah manusia, makin tinggi risiko penyakit yang timbul. Di wilayah yang diteliti, nyamuk-nyamuk menyebarkan berbagai virus seperti demam kuning, demam berdarah, Zika, Mayaro, Sabia, dan Chikungunya.
Di dalam studi, tim peneliti merujuk studi terdahulu mengenai penggundulan hutan terhadap populasi nyamuk. Mengutip laman ABC News, kawasan dengan tingkat penggundulan hutan tinggi punya populasi nyamuk yang lebih banyak, serta tingkat penyakit menular nyamuk lebih tinggi. Habitat yang terganggu menguntungkan spesies nyamuk yang berbiak di dekat permukiman manusia. Pada saat yang sama, berkurangnya keanekaragaman hayati memusnahkan hewan-hewan yang bisa meredam penularan penyakit.
Hutan Atlantik bukan satu-satunya kawasan alam yang hilang. Dari tahun ke tahun, makin banyak wilayah hutan di dunia yang hilang akibat perluasan aktivitas manusia, terlebih lagi di nusantara. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Auriga Nusantara, penggundulan hutan di Indonesia pada 2026 melonjak hingga 66 persen dari tahun 2024.
Lalu, apa solusinya? Untuk mengatasi dampak penggundulan hutan terhadap perubahan pola makan nyamuk, tentu saja kita perlu menghentikan penggundulan hutan. Setelah itu, barulah memulai upaya untuk memulihkan bioma dan habitat yang rusak supaya nyamuk kembali ke target aslinya. Bagaimana kalau menurutmu?