ilustrasi kucing (unsplash.com/Omar Al-Ghosson)
Seperti telah disebutkan sebelumnya, kedua jenis kucing ini mengalami persilangan yang berbeda. Dikutip dari The Spruce Pets, persilangan kucing persia dan kucing siam dimulai pada tahun 1931. Persilangan tersebut dilakukan oleh Virginia Cobb dan Clyde Keeler. Akhirnya eksperimen yang dilakukan menghasilkan kucing himalaya dengan ciri berbulu panjang dengan colorpoint, pola warna gelap di bagian tertentu tubuh.
Eksperimen tersebut dilanjutkan oleh peternak Marguerita Goforth dengan tujuan mendapatkan pengakuan bahwa kucing tersebut adalah ras baru hasil persilangan kucing persia dan kucing siam. Akhirnya pada tahun 1957, CFA mengakui jenis tersebut sebagai ras baru. Namun, beberapa tahun kemudian CFA mencabut pengakuan tersebut dan mengkategorikan kucing himalaya sebagai bagian dari ras persia.
Sedangkan kucing ragdoll, dikutip dari cfa, mulai dikembangkan pada tahun 1960 oleh peternak bernama Ann Baker. Kucing yang disilangkan adalah Josephine, kucing domestik dengan colorpoint dan berbulu panjang. Josephine juga memiliki karakteristik santai saat digendong, tidak kaku seperti kucing lainnya.
Dengan sifat tersebut, Ann Baker kemudian mengawinkan Josephine dengan kucing domestik berbulu panjang lain. Ann Baker melakukan pemilihan kucing dengan cermat untuk mendapatkan karakteristik kucing yang diinginkan. Setelah beberapa generasi, akhirnya Ann Baker mendapatkan jenis kucing yang diinginkan disebut kucing ragdoll.