Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Perbedaan Kucing Himalaya dan Kucing Ragdoll, Matanya Biru!

6 Perbedaan Kucing Himalaya dan Kucing Ragdoll, Matanya Biru!
ilustrasi kucing (unsplash.com/Omar Al-Ghosson)
Intinya Sih
  • Kucing Himalaya berasal dari persilangan Persia dan Siam, sedangkan Ragdoll dikembangkan Ann Baker dari kucing domestik berbulu panjang dengan karakter santai pada tahun 1960-an.
  • Kucing Ragdoll berukuran lebih besar dengan berat hingga 9 kg dan umur 15–25 tahun, sementara Himalaya lebih kecil dengan umur sekitar 15 tahun.
  • Bulu Himalaya lebih tebal dan mudah rontok dibanding Ragdoll, serta perawatannya berbeda; sifatnya juga lebih vokal, sedangkan Ragdoll cenderung tenang dan lembut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kucing Himalaya dan Kucing Ragdoll merupakan dua jenis kucing yang memiliki karakteristik yang sangat mirip. Mulai dari bulunya yang sama-sama panjang hingga karakteristiknya yang sama-sama family friendly. Tapi, perlu diingat bahwa keduanya adalah dua jenis kucing yang berbeda.

Mengetahui perbedaan kucing himalaya dan kucing ragdoll menjadi sangat penting jika kamu ingin memelihara salah satunya. Karena beda karakteristik, tentu saja berbeda juga cara memeliharanya. Nah, biar gak semakin bingung sebaiknya ketahui dulu perbedaan kucing himalaya dan kucing ragdoll berikut ini.

1. Ras berdasarkan CFA

ilustrasi kucing
ilustrasi kucing (pixabay.com/natlas)

Sebelum mengetahui jenis ras kucing himalaya dan kucing ragdoll, kenalan dulu dengan CFA. Cat Fancier Association atau dikenal dengan CFA, merupakan badan registrasi dan pendaftaran silsilah kucing ras terbesar di dunia. CFA menetapkan standar resmi dan menerbitkan silsilah kucing termasuk kucing himalaya dan kucing ragdoll.

Berdasarkan CFA, kucing himalaya termasuk kucing ras murni yang merupakan variasi dari ras persia. Kucing ini merupakan perkawinan silang dari kucing persia dan kucing siam. Sedangkan kucing ragdoll termasuk distinct breed atau ras berbeda berasal dari kucing domestik.

2. Sejarah persilangan

ilustrasi kucing
ilustrasi kucing (unsplash.com/Omar Al-Ghosson)

Seperti telah disebutkan sebelumnya, kedua jenis kucing ini mengalami persilangan yang berbeda. Dikutip dari The Spruce Pets, persilangan kucing persia dan kucing siam dimulai pada tahun 1931. Persilangan tersebut dilakukan oleh Virginia Cobb dan Clyde Keeler. Akhirnya eksperimen yang dilakukan menghasilkan kucing himalaya dengan ciri berbulu panjang dengan colorpoint, pola warna gelap di bagian tertentu tubuh.

Eksperimen tersebut dilanjutkan oleh peternak Marguerita Goforth dengan tujuan mendapatkan pengakuan bahwa kucing tersebut adalah ras baru hasil persilangan kucing persia dan kucing siam. Akhirnya pada tahun 1957, CFA mengakui jenis tersebut sebagai ras baru. Namun, beberapa tahun kemudian CFA mencabut pengakuan tersebut dan mengkategorikan kucing himalaya sebagai bagian dari ras persia.

Sedangkan kucing ragdoll, dikutip dari cfa, mulai dikembangkan pada tahun 1960 oleh peternak bernama Ann Baker. Kucing yang disilangkan adalah Josephine, kucing domestik dengan colorpoint dan berbulu panjang. Josephine juga memiliki karakteristik santai saat digendong, tidak kaku seperti kucing lainnya.

Dengan sifat tersebut, Ann Baker kemudian mengawinkan Josephine dengan kucing domestik berbulu panjang lain. Ann Baker melakukan pemilihan kucing dengan cermat untuk mendapatkan karakteristik kucing yang diinginkan. Setelah beberapa generasi, akhirnya Ann Baker mendapatkan jenis kucing yang diinginkan disebut kucing ragdoll.

3. Kucing ragdoll lebih besar

ilustrasi kucing
ilustrasi kucing (pexels.com/Paweł Jankowski)

Walaupun asal usulnya berbeda, kucing himalaya dan kucing ragdoll memiliki beberapa persamaan. Seperti warna tubuh yang mirip yaitu tubuh berwarna terang dan pada bagian tertentu seperti wajah, kaki, ekor dan telinga berwarna gelap. Serta, memiliki warna mata yang sama yaitu mata biru. 

Namun secara fisik hingga rentang hidup, keduanya berbeda. Kucing himalaya memiliki tinggi rata-rata sekitar 20 cm dengan berat 3,6-5,4 kg. Sedangkan kucing ragdoll memiliki tinggi rata-rata 25,4 cm dengan berat 6,8-9,1 kg. Artinya secara bentuk kucing ragdoll lebih tinggi dan lebih berat.

Untuk rentang hidup, kucing himalaya diperkirakan bisa hidup lebih dari 15 tahun. Sedangkan kucing ragdoll diperkirakan bisa hidup sekitar antara 15-25 tahun.

4. Ketebalan bulu dan perawatan

ilustrasi kucing
ilustrasi kucing (pexels.com/ArWeltAtty)

Sekilas, bulu kucing himalaya dan kucing ragdoll terlihat mirip. Namun jika diperhatikan lebih detail, bulu kucing himalaya memiliki karakter panjang, lembut dan halus. Bulunya cenderung tebal dan lebat karena ada lapisan bulu ganda sehingga bulunya lebih sering rontok.

Berbeda sedikit dengan kucing himalaya, bulu kucing ragdoll lebih halus dan lembut diumpamakan seperti bulu kelinci. Bulunya tebal tapi tidak sepanjang dan setebal kucing himalaya karena tidak memiliki lapisan bulu ganda. Untuk itu, dibandingkan dengan kucing himalaya, kerontokan pada kucing ragdoll lebih sedikit.

Dengan perbedaan tersebut, berbeda juga cara merawat bulunya. Untuk kucing himalaya sebaiknya disisir setiap hari agar tidak menggumpal. Sedangkan kucing ragdoll cukup disisir 2-3 kali seminggu.

5. Sifat alami

ilustrasi kucing
ilustrasi kucing (pixabay.com/Jeannette1980)

Setelah mengenal karakter tubuh dan bulunya, saatnya mengenal lebih dalam sifat alami kucing himalaya dan kucing ragdoll. Secara garis besar, keduanya jenis kucing yang ramah, senang bermain dan termasuk hewan sosial yang mudah akur dengan hewan lain. Selain itu, keduanya juga jenis kucing yang butuh disayang dan diperhatikan.

Perbedaannya terletak pada cara berkomunikasi. Kucing himalaya dikenal lebih vokal dengan cara mengeong untuk menyampaikan kebutuhannya. Sedangkan kucing ragdoll lebih pendiam dan hanya mengeong saat kondisi berbahaya atau kondisi ekstrim lainnya.

Selain itu, kedua kucing ini termasuk kucing yang tidak bisa ditinggal sendirian dalam waktu yang lama. Walaupun begitu, kucing himalaya lebih bisa bertahan dibandingkan kucing ragdoll. Oleh karena itu, jika memelihara keduanya pertimbangkan untuk memelihara hewan lain untuk menemani mereka.

6. Rentan penyakit

ilustrasi kucing
ilustrasi kucing (pexels.com/Jenny Tran)

Untuk kondisi kesehatan, keduanya memiliki kecenderungan sakit yang berbeda. Kucing himalaya yang memiliki wajah datar berdampak pada kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan, sindrom obstruksi brachycephalic dan sakit mata, sekuestrum kornea okular. Selain itu, kucing himalaya juga rentan terkena kondisi bawaan seperti penyakit ginjal polikistik, batu ginjal atau kalkulus urin. Serta hernia diafragma peritoneioperikardinal.

Sedangkan masalah kesehatan kucing ragdoll diantaranya kondisi jantung, batu ginjal, penyumbatan saluran kemih. Serta rentan terkena virus peritonitis infeksius kucing yang bisa mengancam jiwa. 

Itu adalah perbedaan kucing himalaya dan kucing ragdoll. Walaupun keduanya sekilas mirip, tapi keduanya memiliki banyak perbedaan yang wajib diketahui pecinta kucing. Berbeda karakteristik maka beda juga cara memeliharanya, oleh karena itu kenali lebih dulu sebelum memelihara ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More