Satelit NASA memperlihatkan sebaran karbon monoksida (CO) di atmosfer Indonesia melalui visualisasi yang didominasi warna merah pekat. Data pengamatan pada 13 hingga 16 Oktober 2026 tersebut menunjukkan konsentrasi gas karbon monoksida di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Sebaran serupa juga terlihat di beberapa kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam cakupan pengamatan.
Visualisasi tersebut menarik perhatian karena warna merah dan oranye tampak mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Karbon monoksida merupakan gas yang dapat dihasilkan dari berbagai proses pembakaran, termasuk kebakaran hutan dan lahan serta aktivitas yang menggunakan bahan bakar fosil. Namun, warna merah pada peta satelit tidak otomatis menunjukkan adanya kebakaran atau kondisi udara berbahaya di seluruh wilayah yang ditampilkan.
Data tersebut dapat diamati melalui platform Eyes on the Earth milik NASA yang menyediakan visualisasi berbagai kondisi atmosfer Bumi. Peta karbon monoksida yang ditampilkan menggunakan tingkat tekanan sekitar 500 milibar, sehingga tidak secara langsung menggambarkan konsentrasi gas di permukaan tanah. Informasi ini penting karena hasil pengamatan satelit perlu dipahami berdasarkan ketinggian atmosfer dan karakteristik data yang digunakan.
