Seberapa Cepat Kebakaran Hutan Bisa Menyebar? Ini Penjelasan Ahli

- Kebakaran hutan dapat menyebar hingga 16–22 kilometer per jam, dengan laju dipengaruhi angin, cuaca, jenis bahan bakar, kelembapan, dan medan.
- Rumput, daun, dan ranting kecil menjadi bahan bakar paling cepat terbakar, sementara ranting besar, cabang, dan batang kayu membutuhkan waktu penyebaran lebih lama.
- Pengamatan langsung bisa menyesatkan karena persepsi manusia terhadap gerak api tidak akurat; angin kencang, lereng curam, dan cuaca lokal dapat mempercepat kobaran.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah salah satu gangguan ekologis di Bumi. Baik dipicu oleh petir, aliran lava, kelalaian manusia, atau pemicu lainnya, kobaran api ini bisa membawa malapetaka bagi banyak orang yang berada di jalurnya. Sisi baiknya, kebakaran hutan yang terkontrol justru membantu membentuk dan memelihara ekosistem tertentu seperti sabana, padang rumput, dan semak belukar. Namun, jika kebakarannya ekstrem, kobaran api di hutan bisa menyebar dengan kecepatan yang mengerikan.
Kecepatan penyebaran api secara alami dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama angin dan kondisi cuaca lainnya, jenis dan kondisi bahan bakar, serta medan. Sulit bagi manusia untuk memperkirakan secara akurat kecepatan kebakaran hutan yang mendekat. Faktor-faktor seperti kecepatan angin, jenis bahan bakar, dan medan bisa memengaruhi kecepatan penyebaran kebakaran hutan. Kecepatan maksimum untuk kebakaran hutan diperkirakan sekitar sepuluh mil per jam. Lalu, seberapa cepat kebakaran hutan bisa menyebar? Begini penjelasannya.
1. Berapa kecepatan penyebaran api saat kebakaran hutan?

ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Matt Palmer) Dikutip SmokeD, kecepatan kebakaran hutan sering dinilai berdasarkan laju penyebarannya ke depan. Jadi, kecepatannya bergerak tegak lurus terhadap garis api. Kecepatan maksimum penyebaran api dari kebakaran hutan adalah antara 16 sampai 22 kilometer per jam (9 hingga 14 mph). Laju penyebaran api ke depan secara alami bergantung pada banyak faktor, terutama angin dan kondisi cuaca lainnya, jenis dan kondisi bahan bakar, serta medan.
Nah, bahan bakar kebakaran hutan bukan tumbuhan yang mudah terbakar saja, tetapi mencakup vegetasi hidup dan mati, yang masing-masing memengaruhi bagaimana api menyebar. Tingkat kelembapan, komposisi, dan susunan material ini juga punya peran besar dalam perilaku api.
Bahan bakar yang paling mudah terbakar dan hanya membutuhkan waktu satu jam dalam penyebarannya adalah rumput, daun, dan ranting kecil, baik itu yang kering atau lembab. Nah, ranting besar dan cabang pohon membutuhkan waktu lebih lama dalam penyebarannya, atau selama 10 jam. Adapun, cabang yang lebih besar dan batang kayu penyebarannya bisa beberapa hari.
2. Ilusi manusia saat mengamati kebakaran hutan secara langsung

ilustrasi orang yang berada dekat dengan kebakaran (unsplash.com/Issy Bailey) Sulit bagi manusia untuk mengamati dan memperkirakan secara akurat kecepatan kebakaran hutan yang mendekat saat berada di tempat kejadian. Seseorang bisa saja melebih-lebihkan laju penyebaran api karena cambukan api yang dramatis akibat hembusan angin kencang atau rute berliku yang harus ditempuh oleh pengendara yang mengamati dibandingkan dengan pergerakan api yang lurus. Nah, sama mudahnya bagi seseorang untuk meremehkan penyebaran kobaran api tersebut.
Lagipula, seperti yang dicatat oleh penulis Zixin Yong dan Po-Jang Hsieh, berjudul "Speed–Size Illusion Correlates with Retinal-Level Motion Statistics" (2017), dalam Journal of Vision, manusia cenderung menilai kecepatan suatu objek berdasarkan perubahan ukuran citranya di retina mata. Yap, otak manusia memproses persepsi gerak, terutama untuk objek yang bergerak mendekat (approaching) atau menjauh (receding). Hal ini bekerja lebih baik untuk objek dengan bentuk yang stabil, seperti pergeseran citra garis depan api yang konstan dan tidak menentu yang mengacaukan kemampuan manusia dalam mengukur penyebaran api. Beberapa bukti menunjukkan bahwa di hutan dan lahan berhutan, manusia cenderung melebih-lebihkan jarak antara diri mereka dengan api. Hal ini bisa menjadi kesalahan perhitungan yang fatal.
3. Angin dan medan bisa memengaruhi penyebaran kobaran api

ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Greg Webber) Angin kencang mempercepat penyebaran api bukan hanya dengan melemparkan bara api jauh di depan garis api utama dan memasok oksigen, tetapi juga dengan memiringkan lidah api ke arah bahan bakar yang belum terbakar. Nah, dengan demikian jarak antara panas api dan vegetasi di depannya menjadi lebih dekat. Hal ini menyebabkan tumbuhan atau bahan bakar di jalur api mengalami pemanasan awal (pre-heating) dan pengeringan yang sangat cepat, sehingga material tersebut mencapai titik nyala bahkan sebelum api benar-benar menyentuhnya serta membuatnya lebih mudah terbakar. Demikian pula, kobaran api bisa menyebar lebih cepat di lereng curam ketimbang di dataran datar. Sebab, di lereng curam api bisa memanaskan bahan bakar di atasnya.
Angin lembah—pergerakan udara ke atas lereng karena perbedaan panas di siang hari—bisa secara dramatis memengaruhi kebakaran melalui chimney effect (atau efek cerobong asap/efek tumpuk), yaitu ketika angin sepoi-sepoi yang tersedot ke dalam jurang atau mulut ngarai bisa dengan cepat mengipasi api di sepanjang jalurnya. Jenis pergerakan udara lainnya yang dipengaruhi medan, seperti angin lereng serta angin darat dan laut, juga bisa mempercepat atau memperlambat garis api.
4. Faktor-faktor lainnya

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Saravanan Narayanan) Kandungan kelembapan vegetasi suatu daerah memengaruhi kecepatan kebakaran hutan. Biasanya, rumput, semak, dan pohon yang lebih kering akan mudah terbakar. Jenis-jenis vegetasi juga penting. Hamparan hutan konifer yang lebat atau semak belukar yang kusut seringkali memicu kebakaran yang lebih besar dan lebih cepat menyebar ketimbang padang rumput yang jarang atau sabana yang berongga.
Selain itu, kebakaran hutan yang sangat besar dan intens menciptakan cuaca lokalnya sendiri, yang bisa meningkatkan kecepatannya. Konveksi di atas kobaran api tersebut bisa menarik angin atau membentuk awan pirokumulus dengan turbulensi yang hebat dan potensi petir, yang semuanya bisa dengan cepat menyebarkan api atau memicu kebakaran kecil yang baru.
Karhutla yang terjadi di Kalimantan masih membara hingga saat ini. Kabut asapnya pun terasa hingga ke negara tetangga. Semoga kebakaran hutan di Indonesia segera padam dan segala macam masalahnya bisa teratasi, ya.




















