Comscore Tracker

9 Contoh Komponen Abiotik dalam Ekosistem, Ada Air hingga Udara

Makhluk hidup juga berinteraksi dengan benda mati di sekitar

Dalam sebuah ekosistem, makhluk hidup tidak hanya berinteraksi dengan sesamanya, tetapi juga dengan benda mati yang ada di lingkungan sekitar. Benda mati tersebut juga dikenal sebagai komponen abiotik.

Sederhananya, komponen abiotik adalah segala sesuatu yang tidak bernyawa yang berada di sekitar makhluk hidup. Komponen ini sangat krusial karena dapat memengaruhi keberlangsungan hidup organisme.

Ada beberapa hal yang termasuk ke dalam komponen ini. Merujuk buku Biologi oleh Syamsuri, dkk. (2007) dan buku Biologi oleh Nurhayati dan Nugraha (2015), berikut contoh-contoh komponen abiotik.

1. Udara

9 Contoh Komponen Abiotik dalam Ekosistem, Ada Air hingga Udarailustrasi langit (Unsplash.com/Rodion Kutsaev)

Di udara, terdarapat banyak gas yang dibutuhkan makhluk hidup. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

a. Nitrogen

Gas yang satu ini merupakan penyusun terbesar di atmosfer bumi karena kadarnya mencapai 78 persen. Makhluk hidup membutuhkan nitrogen untuk membentuk protein dan senyawa lainnya. Sayangnya, organisme, seperti tumbuhan, hewan, dan manusia, tidak mampu memanfaatkannya secara langsung dari udara.

Meskipun begitu, ada sejumlah organisme yang mampu menangkap nitrogen secara langsung dari udara. Mereka adalah bakteri Rhizobium dan alga biru Anabaena. Adapun hewan dan manusia memenuhi kebutuhan nitrogen dengan mengonsumsi tumbuhan maupun hewan lain dalam bentuk protein dan asam amino.

b. Oksigen

Oksigen sangat penting dalam proses pernapasan. Dari udara, gas ini masuk ke dalam paru-paru, lalu berdifusi dari alveolus ke pembuluh darah.

Nah, oksigen yang diangkut nantinya digunakan sebagai "bahan bakar". Bahan bakar untuk apa? Untuk membakar bahan makanan, misalnya karbohidrat, yang ada dalam sel sehingga makhluk hidup mendapatkan energi.

c. Karbon dioksida

Dari proses pernapasan sel, akan dihasilkan tiga produk, yakni karbon dioksida, uap air, dan kalori (energi). Bagi manusia, karbon dioksida hanyalah zat buangan. Namun, tidak bagi tumbuh-tumbuhan.

Gas yang satu ini berperan penting dalam proses fotosintesis. Karbon dioksida yang diserap akan bereaksi dengan air—dibantu dengan cahaya matahari dan klorofil—sehingga menghasilkan glukosa (gula) dan oksigen.

2. Angin dan kelembapan

9 Contoh Komponen Abiotik dalam Ekosistem, Ada Air hingga Udarailustrasi dandelion (Unsplash.com/Saad Chaudhry)

Terpaan angin memang begitu menyejukkan. Namun, tahukah kamu? Angin ternyata berkontribusi dalam membantu proses penyerbukan serta penyebaran biji dan spora. Selain itu, hembusan angin juga membantu menerbangkan hama tanaman hingga jauh.

Di sisi lain, kelembapan begitu diperlukan oleh mikroorganisme, seperti jamur dan bakteri, supaya tetap dapat hidup. Hal ini karena lingkungan kering memicu penguapan yang menyebabkan tubuh kehilangan air.

Baca Juga: 5 Fakta Hutan Boreal Kanada, Ekosistem Hutan Utuh Terbesar di Dunia!

3. Air

9 Contoh Komponen Abiotik dalam Ekosistem, Ada Air hingga Udarailustrasi air dan kehidupan (pexels.com/Monique Laats)

Tak bisa dimungkiri, air sangat diperlukan dalam kehidupan. Bahkan, sekitar 80–90 persen tubuh makhluk hidup tersusun atas komponen abiotik yang satu ini. Namun, bukan hanya untuk diminum agar tubuh tetap hidrasi, air juga memiliki peran lain bagi sebagian organisme.

Sebagai contoh, untuk hewan yang hidup di air, komponen ini berguna untuk melarutkan oksigen. Sementara itu, bagi tumbuh-tumbuhan, air diperlukan untuk proses fotosintesis serta melarutkan mineral supaya lebih mudah diserap akar.

4. Mineral

9 Contoh Komponen Abiotik dalam Ekosistem, Ada Air hingga Udarailustrasi tanaman (Unsplash.com/@synkevych)

Selain air, mineral juga tak kalah penting bagi tubuh makhluk hidup. Mineral, seperti zat besi (Fe), kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), berguna untuk proses metabolisme dan juga sebagai zat penyusun tubuh. Di samping itu, komponen ini berfungsi untuk menyeimbangkan kadar asam-basa dan mengatur fungsi fisiologis tubuh.

Hewan dan manusia umumnya memperoleh mineral dari makanan yang mereka konsumsi. Namun, untuk tumbuhan, mereka mendapatkannya dari ion mineral yang larut dalam air tanah.

5. Cahaya

9 Contoh Komponen Abiotik dalam Ekosistem, Ada Air hingga Udarailustrasi matahari (Unsplash.com/Jonathan Borba)

Seperti yang telah disinggung di bagian sebelumnya, cahaya matahari membantu proses fotosintesis tumbuhan. Tanpa cahaya, mereka tidak dapat melangsungkan proses tersebut dan akibatnya, zat makanan pun tidak dihasilkan.

Di samping itu, terlebih untuk manusia, cahaya matahari memiliki beragam keutamaan. Yang paling utama adalah bahwa sinar matahari membantu produksi vitamin D dalam tubuh. Bukan hanya itu, manfaatnya juga meliputi

  • meningkatkan kualitas tidur;
  • memperkuat sistem imun tubuh;
  • menurunkan risiko depresi;
  • mencegah terkena penyakit kulit; hingga
  • menjaga kesehatan jantung.

Baca Juga: Bagaimana Sinar Matahari Bantu Tubuh Hasilkan Vitamin D?

6. Suhu

9 Contoh Komponen Abiotik dalam Ekosistem, Ada Air hingga Udarailustrasi suhu ruangan (Unsplash.com/Bianca Ackermann)

Makhluk hidup hanya mampu bertahan di lingkungan dengan suhu tertentu. Umumnya, temperatur ideal bagi organisme agar bisa bertahan hidup berkisar antara 0–40 derajat Celsius. Kalaupun ada yang tetap hidup di luar kisaran tersebut, jumlahnya sangat sedikit.

Suhu sangat menentukan keberlangsungan hidup organisme di suatu tempat. Pasalnya, proses biokimia tubuh hanya bisa terjadi secara efisien pada rentang temperatur tertentu. Ini berarti, hanya organisme yang mampu beradaptasi di suhu tersebut yang tetap bisa hidup.

Perlu kamu ketahui pula, suhu yang ideal—dalam hal ini, tidak terlalu panas atau dingin—juga memiliki efek terhadap keanekaragaman hayati, lho. Contoh nyatanya adalah Indonesia.

Lokasinya yang terletak di garis khatulistiwa membuat suhu rata-rata di Indonesia mencapai 27 derajat Celsius: sangat ideal untuk kelangsungan hidup. Karena faktor ini, flora dan fauna di Tanah Air lebih beragam dibanding belahan bumi lain dengan iklim yang berbeda.

7. Keasaman (pH)

9 Contoh Komponen Abiotik dalam Ekosistem, Ada Air hingga Udarailustrasi tanah (Freepik.com/jcomp)

Komponen abiotik berikutnya adalah pH atau derajat keasamaan. Spesifiknya, ini berkaitan dengan pH air dan tanah. Makhluk hidup akan sulit menempati lingkungan dengan tingkat keasaman yang tidak netral.

Sebagai contoh, pada lahan gambut, organisme yang hidup di kawasan ini relatif lebih sedikit karena sifatnya yang asam. Hanya tanaman yang memang kuat dengan kondisi asam yang mampu bertahan.

Itulah mengapa, apabila hendak menanam tanaman tertentu, kondisi tanah harus diperhatikan terlebih dahulu. Kalau tanahnya asam, maka perlu dinetralkan dengan bubuk kapur. Sementara itu, kalau tanahnya basa, maka diberi bubuk belerang.

8. Salinitas

9 Contoh Komponen Abiotik dalam Ekosistem, Ada Air hingga Udarailustrasi kawasan mangrove (Unsplash.com/David Clode)

Tak jauh beda dengan derajat keasaman, salinitas atau kadar garam yang terlalu tinggi juga menyulitkan organisme untuk bertahan hidup. Terkhusus untuk tanaman, kadar garam yang tinggi memicu matinya sel-sel akar.

Akan tetapi, ada tumbuhan yang tetap bisa berdiri kokoh di kondisi dengan salinitas tinggi, lho. Salah satunya adalah pohon bakau. Meskipun akarnya terekspos dengan air laut yang asin, ia tetap dapat hidup untuk menahan terjangan ombak.

9. Topografi dan garis lintang

9 Contoh Komponen Abiotik dalam Ekosistem, Ada Air hingga Udarailustrasi area pegunungan (Unsplash.com/Maria)

Buat yang belum tahu, topografi merujuk pada tinggi-rendahnya suatu wilayah. Memangnya, ada pengaruh ketinggian daerah dengan keberlangsungan hidup organisme? Tentu saja ada!

Habitat di dataran tinggi dengan dataran rendah tentu berbeda dalam hal suhu, kelembapan, keadaan tanah, hingga banyaknya sinar mentari yang diterima. Akibatnya, biota yang menempati kedua daerah tersebut akan berbeda satu sama lain.

Selain tinggi-rendahnya tempat, garis lintang ternyata juga memengaruhi persebaran hayati, lho, Guys. Hal ini bisa dilihat pada keberadaan Garis Weber dan Garis Wallace.

Kedua garis tersebut membagi persebaran fauna di Indonesia menjadi tiga tipe, yakni tipe Asiatis (bagian barat), tipe peralihan (bagian tengah), dan tipe Australis (bagian timur). Pembagian tersebut menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati di Indonesia begitu beragam dari Sabang sampai Merauke.

Sekarang, sudah tahu apa-apa saja yang termasuk komponen abiotik, kan? Kalau begitu, jangan lupa bagikan artikel ini supaya teman-temanmu juga paham tentang materi ini, ya!

Baca Juga: Memahami Ekosistem: Definisi, Jenis, dan Komponen Lengkapnya

Topic:

  • Bunga Semesta Int
  • Fatkhur Rozi

Berita Terkini Lainnya