Comscore Tracker

Dari Mesir-Thailand, 7 Peradaban Ini Pernah Melakukan Praktik Inses

Demi menjaga garis keturunan dan posisi politik mereka

Inses, atau hubungan seksual antara anggota keluarga dekat, adalah sesuatu yang dianggap tabu oleh umat manusia. Namun sepanjang sejarah, praktik inses sempat dilegalkan di berbagai peradaban besar dunia. Di masa lampau, para bangsawan sering melakukan inses untuk menjaga garis keturunan sekaligus melindungi kekuatan politik dan ekonomi mereka.

Pandangan budaya terhadap hubungan inses juga bervariasi. Satu kelompok mungkin takut akan hukuman supernatural dari inses, sementara kelompok lain melihat inses sebagai bentuk kedekatan spiritual dengan Tuhan mereka. Artikel ini akan membahas beberapa peradaban yang pernah menerapkan praktik inses. Berikut daftarnya.

1. Mesir kuno 

Dari Mesir-Thailand, 7 Peradaban Ini Pernah Melakukan Praktik Insesarchive.ph

Di Mesir kuno, adalah hal wajar bagi pewaris kerajaan untuk menawarkan takhtanya sebagai mas kawin. Tak hanya itu, mereka juga percaya kalau garis keturunan mereka dapat diperkuat dengan persatuan kakak-adik. Kita tahu kalau beberapa firaun dinasti ke-18 menikahi saudara perempuan atau tirinya, di mana Ramses II dari dinasti ke-19 juga melakukannya.

Akhenaten (alias Amenhotep IV) juga menikahi kerabat dekatnya, Nefertiti. Tak heran kalau anak mereka, Tutankhamun, memiliki banyak cacat bawaan sehingga meninggal pada usia muda. Setelah melalukan analisis genetik, para peneliti percaya kalau kondisi Raja Tut dipengaruhi oleh tradisi inses dalam garis keturunan bangsawan Mesir kuno.

Ketika Romawi menguasai Mesir, mereka masih mempertahankan tradisi inses. Sebaliknya, orang Romawi justru sangat menentang praktik tersebut. Diketahui kalau keluarga Cleopatra, Dinasti Ptolemy, sudah melakukan praktik inses dalam jangka waktu yang lama. Seperti dilansir dari History, Cleopatra menikahi kedua saudara laki-lakinya yang saat itu masih remaja.

2. Eropa 

Dari Mesir-Thailand, 7 Peradaban Ini Pernah Melakukan Praktik Insesbalto-slavica.org

Dari abad ke-15 hingga ke-19, seluruh keluarga kerajaan di Benua Eropa menikahi sepupunya sendiri. Kita dapat melihat praktik ini di dalam Wangsa Habsburg di Spanyol, Hohenzollern di Prusia, Bourbon di Prancis, Romanov di Rusia, dan keluarga kerajaan Inggris.

Hubungan kekerabatan ini bahkan terlihat di tengah Perang Dunia I, di mana Raja George V dari Inggris masih memiliki hubungan sebagai sepupu pertama dengan Kaiser Wilhelm II dari Jerman dan Tsar Nicholas II dari Rusia.

Beberapa sejarawan percaya kalau kehancuran Wangsa Habsburg di Spanyol disebabkan oleh praktik inses. Menurut National Geographic, praktik inses yang telah mereka lakukan seara turun temurun melahirkan masalah mental dan fisik yang dapat terlihat dalam diri Raja Charles II yang memiliki "rahang Habsburg."

3. Afrika kuno 

Dari Mesir-Thailand, 7 Peradaban Ini Pernah Melakukan Praktik Insesblackhistorymonth.org.uk

Dikisahkan kalau seorang raja Kerajaan Mutapa atau Mwenemutara, sebuah kerajaan kuno di Zimbabwe, memiliki lebih dari 300 istri, di mana istri "utamanya" adalah kerabat dekatnya. Beberapa sumber menyebutkan kalau mereka adalah saudari atau anak perempuannya sendiri.

Hanya raja yang dapat melakukan inses "eksklusif" ini, di mana para bangsawan non-kerajaan akan dieksekusi jika berani mencobanya.

Inses dalam lingkungan kerajaan juga terjadi di Kerajaan Dahomey yang terletak di wilayah Benin modern, di mana raja dapat kawin dengan wanita mana pun yang dia sukai: lajang atau menikah, asing atau pribumi, merdeka atau budak. Bahkan, ia juga diizinkan untuk menikahi sepupunya sendiri.

Baca Juga: 10 Olahraga Paling Berbahaya di Peradaban Kuno 

4. Polinesia 

Dari Mesir-Thailand, 7 Peradaban Ini Pernah Melakukan Praktik Insesdiscover.hubpages.com

Penulis Hawaii abad ke-19, David Malo, menggambarkan hierarki kekuasaan di dalam keluarga Kerajaan Hawaii. Untuk menjaga garis keturunannya setinggi mungkin, mereka menganggap kalau pasangan yang cocok untuk seorang kepala suku adalah saudari kandungnya sendiri. Jika tidak ada, maka saudara tiri atau keponakannya sendiri.

Praktik inses ini dianggap sakral sampai-sampai keturunannya akan disebut sebagai penjelmaan "ilahi." Dengan cara ini, anak itu pantas untuk menjadi pemimpin berikutnya. Tentunya, tanpa harus bersaing dengan sanak keluarga lainnya mengingat klaim absolut yang dimilikinya.

5. Inca 

Dari Mesir-Thailand, 7 Peradaban Ini Pernah Melakukan Praktik Inseskuodatravel.com

Suku Inca menganggap diri mereka sebagai keturunan langsung dari para dewa langit. Para keluarga kerajaan selalu mengutip kisah Dewa Matahari yang menikahi saudara perempuannya, Bulan.

Ketika raja Inca, Topa Inca Yupanqui, menikahi saudara perempuannya, dia telah menggabungkan semua klaim takhta yang ada di keluarganya untuk diwariskan kepada keturunannya. Jika saudarinya tidak memberikan anak, raja Inca akan menikahi saudari keduanya, kemudian saudari ketiganya sampai menghasilkan seorang ahli waris.

Jika tidak ada saudari yang bisa dipilih lagi, raja dapat memilih sepupunya untuk mendapatkan penerus yang murni. Praktik inses ini baru berhenti ketika Spanyol menaklukkan Inca.

6. Persia

Dari Mesir-Thailand, 7 Peradaban Ini Pernah Melakukan Praktik Insesiranian.com

Zoroastrianisme adalah agama yang dianut oleh masyarakat Persia sampai pasukan Muslim menaklukkan mereka. Sebelum pengaruh Islam masuk, mereka masih melegalkan pernikahan inses yang disebut xwēdōdah. Menurut mereka, pernikahan itu disukai oleh para dewa di mana tindakannya disamakan dengan ibadah.

Pernikahan ibu-anak, saudara laki-laki dan perempuan, serta ayah-anak perempuan diuraikan dalam teks-teks Pahlavi abad ke-6 sampai 9 M. Para Zoroastrian percaya kalau inses dapat menghapus dosa mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga.

7. Thailand 

Dari Mesir-Thailand, 7 Peradaban Ini Pernah Melakukan Praktik Inseslib.umich.edu

Sepanjang sejarah, para bangsawan di Kerajaan Thailand memiliki lebih banyak istri daripada rakyatnya sendiri. Mereka memiliki "harem" yang berisi banyak perempuan dari berbagai kelas sosial, termasuk dari kerabat mereka sendiri.

Pada tahun 1907, raja yang berkuasa saat itu, Phra Chulachomklao Chaoyuhua alias Chulalongkorn alias Rama V, memiliki dua ratu yang tidak lain adalah saudari tirinya sendiri. Ayah Raja Paramindr sendiri memiliki 84 anak dari 35 istri selama hidupnya. 

Sama seperti kerajaan lainnya, inses hanya diperbolehkan di dalam lingkaran kerajaan Thailand, dan secara tegas dilarang bagi mereka yang berada di luar keluarga kerajaan. Inses antara paman dan keponakan atau dengan saudara tiri adalah hal biasa di Thailand. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan legitimasi politik untuk generasi berikutnya.

Meskipun sempat dipraktikkan oleh beberapa peradaban di atas, bukan berarti kalau inses adalah hal yang dibenarkan. Seperti yang kita ketahui, anak yang lahir dari hubungan inses seringkali memiliki cacat fisik atau mental yang akan menghancurkan garis keturunan itu sendiri.

Baca Juga: 5 Peradaban Ini Melakukan Pengorbanan Anak di Masa Lampau, Kejam!

Shandy Pradana Photo Verified Writer Shandy Pradana

"I don't care that they stole my idea. I care that they don't have any of their own." - Tesla // I am a 20% historian, 30% humanist and 50% absurdist // For further reading: linktr.ee/pradshy

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Tania Stephanie

Berita Terkini Lainnya