Comscore Tracker

7 Miskonsepsi Umum tentang Luar Angkasa dan Fakta Ilmiahnya

Ternyata tidak seperti di film-film fiksi ilmiah lho!

Banyak kesalahpahaman tentang luar angkasa, dan produk fiksi seperti film atau komik malah membenarkan fakta salah tersebut. Padahal ada banyak hal yang harus dipelajari sebelum kita benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi di atas sana.

Berikut 7 kesalahpahaman umum tentang luar angkasa dan fakta ilmiah di baliknya.

1. Kita akan meledak ketika berada di luar angkasa tanpa setelan khusus

7 Miskonsepsi Umum tentang Luar Angkasa dan Fakta Ilmiahnyabbc.co.uk

Mungkin salah satu kesalahpahaman yang paling umum adalah bahwa kita akan meledak jika berada di ruang hampa udara. Logikanya di sini adalah, karena tidak ada tekanan kita hanya akan menggembung dan meletus, seperti balon yang terbang terlalu tinggi.

Pada kenyataannya, kita tidak akan "meletus" di luar angkasa — karena tubuh kita terlalu kuat untuk itu. Mungkin kita akan sedikit kembung, tetapi tulang, kulit, dan organ-organ lain kita cukup kuat untuk menahan tekanan tersebut, kecuali ada sesuatu yang secara aktif merobek tubuh kita.

Bahkan, beberapa orang pernah terpapar di lingkungan bertekanan sangat rendah saat mengerjakan misi luar angkasa. Pada tahun 1966, seorang pria menguji pakaian luar angkasa ketika didekompresi pada ketinggian 120.000 kaki. Dia kehilangan kesadaran, tetapi tidak meledak, dan kembali pulih setelah mendapatkan cukup istirahat.

2. Kita akan membeku jika berada di luar angkasa tanpa setelan khusus

7 Miskonsepsi Umum tentang Luar Angkasa dan Fakta Ilmiahnyatwitter.com

Ini juga menjadi salah satu kesalahpahaman yang sering diabadikan oleh film. Banyak film berlatar luar angkasa yang akan memiliki adegan di mana salah satu karakter berada di luar pesawat tanpa pakaian khususnya. Dia dengan cepat mulai membeku dan, kecuali berhasil kembali ke dalam, berubah menjadi es dan mengapung.

Kenyataannya adalah kebalikannya, karena kita tidak akan membeku jika terkena ruang hampa udara, melainkan akan kepanasan. Kita semua mungkin ingat diagram arus konveksi di kelas sains. Air di atas sumber panas akan memanas, naik ke atas, menjadi dingin, tenggelam ke dasar, lalu mengulangi proses ini dari awal lagi.

Hal itu terjadi karena air mentransfer panasnya ke udara di sekitarnya, yang menyebabkan air berkontraksi, sehingga menjadi lebih padat dan tenggelam. Di luar angkasa, tidak ada yang bisa memindahkan panas tubuh kita, sehingga tubuh akan terus bekerja dan menghasilkan panas.

Namun tentu saja, sebelum tubuh kita menjadi sangat panas, kita akan mati terlebih dahulu.

Baca Juga: 7 Penjelajahan Luar Angkasa Terbesar yang Pernah Dilakukan Manusia

3. Matahari mengeluarkan api

7 Miskonsepsi Umum tentang Luar Angkasa dan Fakta Ilmiahnyapopsugar.com

Matahari adalah salah satu hal pertama yang kita pelajari tentang luar angkasa. Matahari adalah bola api besar yang diputari oleh semua planet, terletak cukup jauh dari Bumi sehingga membuat kita hangat, bukannya terbakar.

Mengingat bahwa kita tidak akan pernah ada jika bukan karena panas dan cahaya yang dilepaskan oleh Matahari, mengejutkan bahwa begitu banyak dari kita memiliki kesalahpahaman mendasar bahwa Matahari itu terbakar.

Dilansir dari laman Pop Sugar, Matahari adalah bola gas besar yang mengeluarkan energi cahaya dan panas melalui fusi nuklir, yang terjadi ketika dua atom hidrogen bergabung dan membentuk helium. Jadi, Matahari memang memancarkan cahaya dan panas, tetapi tidak ada api konvensional di dalamnya.

4. Lubang hitam berbentuk terowongan

7 Miskonsepsi Umum tentang Luar Angkasa dan Fakta Ilmiahnyaquora.com

Lubang hitam pada dasarnya "tidak terlihat", tetapi film sering memperlihatkan mereka seperti pusaran malapetaka yang tidak berujung. Di dalam film, lubang hitam sering ditampilkan sebagai objek 2D, berbentuk terowongan, dan menjadi pintu masuk ke dalam kehampaan lewat satu sisi saja.

Namun dalam kehidupan nyata, representasi ini tidak dapat dibenarkan. Lubang hitam sebenarnya adalah sebuah bola, dan tidak hanya satu sisi yang akan menarik kita — karena itu seperti sebuah planet dengan banyak gravitasi. Jika kita mendekatinya di sisi mana pun, maka kita akan langsung ditarik masuk ke dalamnya.

5. Pesawat yang masuk melewati atmosfer akan terbakar

7 Miskonsepsi Umum tentang Luar Angkasa dan Fakta Ilmiahnyacellcode.us

Kita semua pernah melihat cuplikan tentang pesawat luar angkasa yang memasuki kembali atmosfer Bumi. Terlihat seperti perjalanan yang sulit, dan segala sesuatunya cenderung menjadi sangat panas di permukaan pesawat tersebut.

Sebagian besar dari kita akan berpikir bahwa hal ini disebabkan karena gesekan antara pesawat dan atmosfer, dan tampaknya menjadi penjelasan yang masuk akal. Namun yang benar adalah, bahwa gesekan tersebut hanya mempengaruhi kurang dari satu persen pada panas yang membakar pesawat tersebut. 

Meskipun merupakan faktor penyebab, sebagian besar panas tersebut berasal dari kompresi. Dilansir dari situs resmi NASA, saat pesawat meluncur kembali ke Bumi, udara yang dilaluinya akan dikompresi dan terkumpul di sekitar pesawat.

Hal ini dikenal sebagai haluan busur. Udara di haluan busur terperangkap oleh pesawat luar angkasa dan mendorongnya. Kecepatan yang tinggi menyebabkan udara memanas, sehingga tidak ada waktu untuk dekompresi atau pendinginan.

Sebagian dari panas itu dipindahkan ke pesawat dan diserap oleh perisai panas. Bara yang kita lihat dalam momen "masuk kembali" adalah udara di sekitar pesawat, bukan api yang membakar pesawat.

6. Merkurius bukanlah planet terpanas di sistem tata surya kita

7 Miskonsepsi Umum tentang Luar Angkasa dan Fakta Ilmiahnyapics-about-space.com

Merkurius adalah planet yang terdekat dengan Matahari, jadi wajar untuk mengasumsikan bahwa itu adalah planet terpanas sistem tersebut. Hal itu bukan hanya tidak benar, karena nyatanya Merkurius juga bisa menjadi sangat dingin.

Suhu terpanas di Merkurius bisa mencapai sekitar 427 derajat Celsius. Jika ini adalah suhu konstan untuk seluruh planet sepanjang waktu, maka itu akan lebih dingin daripada Venus, yang bersuhu 460 derajat Celcius di saat terpanasnya.

Universe Today menuliskan alasan mengapa Venus jauh lebih panas meskipun berada lebih jauh dari Merkuris adalah, karena Venus memiliki atmosfer CO2 untuk menangkap panas, sedangkan Merkurius tidak. Lalu alasan mengapa Merkurius bisa menjadi begitu dingin bukan dikarenakan kurangnya atmosfer, tetapi karena rotasi dan orbitnya. 

Untuk mengelilingi Matahari, Merkurius membutuhkan sekitar 88 hari Bumi, sedangkan rotasi planet ini sekitar 58 hari Bumi. Itu berarti bahwa malam berlangsung 58 hari di planet ini, memberi cukup banyak waktu untuk menurunkan suhu planet hingga -173 derajat Celsius.

7. Gravitasi nol di luar angkasa

7 Miskonsepsi Umum tentang Luar Angkasa dan Fakta Ilmiahnyascienceabc.com

Fakta ini memang terlihat benar, walau pada kenyataannya satelit, pesawat luar angkasa, astronot, dan sebagainya tidak mengalami gravitasi nol. Gravitasi-nol sejati atau gravitasi-mikro, nyaris tidak ada di mana pun di luar angkasa, dan tentu saja tidak ada manusia yang pernah mengalaminya.

Kebanyakan manusia berpikir bahwa astronot dan segala sesuatu yang ada di antariksa akan mengambang ketika sudah begitu jauh dari Bumi, karena mereka tidak lagi terpengaruh oleh tarikan gravitasi. Padahal kenyataannya, keberadaan gravitasi lah yang membuat mereka mengambang.

https://www.youtube.com/embed/qtQchbUgeLE

Ketika mengorbit Bumi atau benda langit lain yang memiliki gravitasi yang signifikan, sebuah benda sebenarnya akan jatuh. Tetapi karena Bumi terus bergerak, hal-hal seperti wahana antariksa tidak jatuh dan tetap mengambang.

Menurut NASA, hal ini dikarenakan gravitasi Bumi yang sedang mencoba untuk menarik pesawat itu ke permukaan, tetapi Bumi terus bergerak, sehingga pesawat itu akan terus "tertolak." Hal inilah yang menghasilkan ilusi gravitasi nol.

Para astronot juga akan jatuh di dalam pesawat, tetapi karena mereka bergerak dengan kecepatan yang sama, mereka jadi terlihat mengambang. Fenomena yang sama bisa dialami di lift atau pesawat yang jatuh.

Bahkan, adegan tanpa bobot untuk Apollo 13 difilmkan dalam sebuah pesawat jatuh yang digunakan untuk melatih para astronot. Pesawat tersebut naik sampai ketinggian 30.000 kaki sebelum "terjun bebas" yang memungkinkan untuk mengalami 23 detik "gravitasi nol."

Meskipun berlangsung kurang dari satu menit, hal itu persis seperti yang dialami astronot saat berada di luar angkasa.

Nah, itu tadi 7 miskonsepsi umum tentang luar angkasa dan fakta ilmiah di baliknya. Ternyata luar angkasa selalu menyimpan banyak misteri dan pengetahuan baru yang bisa kita pelajari secara ilmiah

Baca Juga: 9 Gagasan di Ruang Angkasa yang Sedang Dikembangkan

Shandy Pradana Photo Community Writer Shandy Pradana

"Verba volant, scripta manent." Rock n' Roll enthusiast. Cinephile.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You