ilustrasi huruf cetak (unsplash.com/kaori kubota)
Dikutip dari helloprint, teks tertua ditemukan di gua dekat kota Dunhuang, China berasal dari abad ke-8. Teks tersebut dibuat dengan mesin cetak yang menggunakan blok kayu, diukir tangan dengan karakter terbalik. Buku yang terbit dengan mesin cetak ini adalah buku “The Diamond Sutra”, terbit tahun 868 M. Pada 877 M, hasil cetak semakin bervariasi, ada kalender, bagan matematika, kamus, almanak, panduan pemakaman dan pernikahan, materi pendidikan hingga panduan kosakata.
Pada abad ke-11, ilmuwan Bi Sheng dari Yinshan, Hubei, China, membuat mesin cetak dengan konsep berbeda. Mesin cetak yang awalnya panel blok diganti menjadi karakter individual sehingga bisa dipindah dan digunakan kembali. Huruf tersebut dibuat dari tanah liat yang dibakar, disusun pada bingkai dan plat besi.
Pemilihan bahan dasar tanah liat, karena kayu memiliki beberapa kelemahan. Seperti tekstur tidak konsisten, mudah menyerap kelembapan hingga masalah tinta yang menempel. Berkat penemuan ini, buku menjadi hal umum bagi kalangan terpelajar dan menjadi simbol status kelas kaya pada masa tersebut.
Berlanjut sekitar 1297 hingga 1313, Wang Chen yang merupakan hakim China membuat mesin cetak yang bisa bergerak. Bahan yang digunakan kayu dan meja yang bisa diputar sehingga percetakan jadi lebih efisien. Mesin cetak dengan meja berputar ini mencetak buku pertanian dan praktik bercocok tanam bernama “Nung Shu”.