Skill Unik Axolotl: Kemampuan Kognotifnya Luar Biasa Meski dalam Gelap

Penelitian menemukan axolotl mampu membedakan ukuran lubang dan cenderung memilih bukaan yang lebih besar saat berpindah.
Preferensi tersebut tetap terlihat dalam kondisi gelap, meski axolotl memiliki penglihatan yang relatif buruk.
Eksperimen melibatkan 24 axolotl muda, dengan 22 individu menunjukkan preferensi signifikan terhadap lubang lebih besar.
Axolotl ternyata memiliki kemampuan kognitif yang lebih menarik daripada yang selama ini diketahui para ilmuwan. Penelitian terbaru menemukan bahwa amfibi asal Meksiko ini mampu membedakan ukuran lubang dan cenderung memilih bukaan yang lebih besar ketika berpindah tempat. Menariknya, kemampuan tersebut tetap muncul ketika axolotl berada dalam kondisi gelap, meskipun hewan ini memiliki penglihatan yang relatif buruk.
Temuan ini memberikan gambaran baru mengenai cara axolotl memahami lingkungan di sekitarnya. Selama ini, hewan bernama ilmiah Ambystoma mexicanum tersebut lebih dikenal karena kemampuannya meregenerasi bagian tubuh yang hilang atau mengalami kerusakan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa axolotl juga memiliki kemampuan membedakan ukuran ruang yang berperan penting dalam aktivitas sehari-hari.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Animal Behaviour ini melibatkan 24 axolotl muda berusia sekitar tujuh bulan. Para peneliti menguji bagaimana hewan tersebut memilih jalan ketika dihadapkan pada dua lubang dengan ukuran berbeda, baik dalam kondisi terang maupun gelap. Hasilnya menunjukkan bahwa axolotl memiliki kecenderungan kuat untuk memilih lubang yang lebih besar, sehingga membuka pertanyaan baru mengenai kemampuan sensorik dan kognitif hewan tersebut.
1. Axolotl ternyata mampu membedakan ukuran lubang

Seekor Axolotl di akuarium (pexels/Shreya Menon) Axolotl merupakan salah satu hewan yang cukup menarik perhatian ilmuwan karena kemampuan regenerasinya. Hewan ini dapat menumbuhkan kembali bagian tubuh yang hilang atau rusak, termasuk anggota geraknya. Namun, dibandingkan kemampuan regenerasi tersebut, pengetahuan mengenai cara axolotl berpikir dan mengambil keputusan masih relatif terbatas.
Peneliti perilaku hewan Oxána Bánszegi dari National Autonomous University of Mexico dan Péter Szenczi dari National Institute of Psychiatry Ramón de la Fuente Muñiz bersama timnya mencoba mempelajari kemampuan tersebut melalui sebuah eksperimen. Mereka ingin mengetahui apakah axolotl dapat membedakan ukuran ruang, sebagaimana kemampuan membedakan kuantitas yang sebelumnya telah ditemukan pada beberapa jenis amfibi lain.
Dalam penelitian ini, kemampuan yang diuji bukanlah berhitung seperti manusia, melainkan membedakan besaran secara spasial. Axolotl perlu menentukan bukaan mana yang lebih sesuai untuk dilewati ketika bergerak di lingkungannya. Kemampuan tersebut penting karena tubuh axolotl yang lunak membuatnya perlu menghindari celah yang berpotensi menyebabkan hewan ini tersangkut atau terluka.
2. Peneliti menguji 24 axolotl menggunakan dua lubang
Untuk menguji kemampuan tersebut, para peneliti menggunakan 24 axolotl muda yang ditempatkan dalam akuarium. Setiap akuarium kemudian dipasangi sekat plastik berwarna abu-abu yang membagi ruang menjadi dua bagian. Pada sekat tersebut terdapat dua lubang berbentuk lingkaran yang memungkinkan axolotl berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya.
Kedua lubang sebenarnya memiliki ukuran yang cukup besar untuk dilewati axolotl tanpa kesulitan. Namun, salah satu lubang dibuat lebih besar daripada lubang lainnya untuk mengetahui apakah hewan tersebut memiliki preferensi tertentu. Peneliti kemudian mengamati jalur yang dipilih axolotl ketika bergerak melintasi sekat.
Eksperimen berlangsung selama 18 hari dengan enam kombinasi ukuran lubang yang berbeda. Setiap kombinasi diuji selama tiga hari, sementara posisi lubang ditukar pada pertengahan pengujian untuk memastikan hasilnya tidak sekadar dipengaruhi kebiasaan memilih sisi tertentu. Melalui metode ini, peneliti dapat membandingkan pilihan axolotl ketika perbedaan ukuran lubang relatif kecil maupun cukup besar.
3. Sebanyak 22 axolotl lebih sering memilih lubang besar
Hasil eksperimen memperlihatkan pola yang cukup konsisten. Axolotl cenderung memilih lubang yang lebih besar ketika berpindah dari satu bagian akuarium ke bagian lainnya. Preferensi tersebut tetap muncul meskipun kedua lubang sebenarnya dapat dilewati tanpa menyebabkan tubuh hewan tersangkut.
Dari 24 axolotl yang digunakan dalam penelitian, sebanyak 22 individu cukup aktif untuk dimasukkan ke dalam analisis. Menariknya, seluruh 22 axolotl tersebut menunjukkan preferensi yang signifikan secara statistik terhadap lubang berukuran lebih besar. Temuan ini menunjukkan bahwa pilihan tersebut bukan sekadar kecenderungan acak selama pengamatan.
Peneliti juga menemukan bahwa semakin besar perbedaan ukuran kedua lubang, semakin kuat kecenderungan axolotl memilih bukaan yang lebih besar. Namun, ketika kedua lubang sama-sama berukuran relatif besar, preferensi tersebut menjadi tidak terlalu kuat. Kondisi ini mengindikasikan bahwa keputusan axolotl kemungkinan dipengaruhi lebih dari sekadar perbandingan ukuran kedua lubang, meskipun mekanisme pastinya masih belum diketahui.
4. Kemampuan tersebut tetap bekerja dalam kondisi gelap

Axolotl (unsplash.com/Lutz Stallknecht) Bagian paling menarik dari penelitian ini adalah kemampuan axolotl membedakan ukuran lubang ternyata tidak bergantung sepenuhnya pada cahaya. Para peneliti menemukan bahwa preferensi terhadap lubang yang lebih besar tetap muncul ketika hewan tersebut bergerak dalam kondisi gelap. Artinya, axolotl kemungkinan memiliki cara lain untuk memperoleh informasi mengenai ruang di sekitarnya.
Selama pengamatan, axolotl memang terlihat lebih jarang bergerak pada malam hari dibandingkan siang hari. Jumlah perpindahan melalui sekat menjadi lebih sedikit, tetapi pola pemilihan lubangnya tidak berubah secara berarti. Ketika memutuskan untuk bergerak, axolotl tetap menunjukkan kecenderungan memilih lubang yang lebih besar dengan kekuatan preferensi yang sebanding dengan kondisi siang hari.
Temuan tersebut cukup mengejutkan bagi para peneliti karena banyak eksperimen sebelumnya mengenai kemampuan membedakan kuantitas pada hewan bergantung pada penglihatan. Sementara itu, axolotl secara alami hidup di perairan keruh dengan jarak pandang terbatas. Kondisi habitat tersebut membuat hewan ini perlu mengandalkan informasi sensorik lain untuk bergerak, menghindari predator, dan mencari mangsa.
5. Axolotl mungkin menggunakan sensor gerakan dan tekanan air
Salah satu kemungkinan yang diajukan peneliti adalah keterlibatan sistem lateral line atau gurat sisi. Sistem sensorik ini memungkinkan axolotl mendeteksi gerakan air serta perubahan tekanan yang sangat kecil di lingkungan sekitarnya. Informasi tersebut diduga membantu hewan ini mengenali kondisi ruang tanpa harus mengandalkan penglihatan.
Dalam habitat alaminya di kanal Xochimilco, Meksiko, axolotl hidup di lingkungan perairan berlumpur yang membatasi kemampuan melihat. Karena itu, penggunaan sensor selain mata menjadi penting untuk membantu hewan tersebut bergerak dan mendeteksi kondisi lingkungan. Sistem gurat sisi menjadi salah satu kandidat yang mungkin berperan ketika axolotl menentukan bukaan mana yang lebih besar.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa eksperimen ini belum dirancang untuk mengidentifikasi secara pasti bagaimana axolotl membedakan ukuran lubang dalam kegelapan. Keterlibatan sistem gurat sisi masih berupa dugaan yang perlu diuji melalui penelitian lanjutan. Untuk saat ini, hasil penelitian baru memastikan adanya kemampuan membedakan ukuran bukaan, bukan mekanisme sensorik spesifik yang digunakan.
6. Temuan ini membuka pemahaman baru tentang kecerdasan axolotl

Axolotl, salamander unik asal Meksiko yang terkenal dengan kemampuan meregenerasi bagian tubuhnya. Sumber: pixabay.com Kemampuan axolotl memilih lubang yang lebih besar memberikan informasi baru mengenai perilaku hewan yang selama ini lebih sering dipelajari dari sisi regenerasi tubuh. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa axolotl mampu membedakan besaran spasial dalam situasi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan bergerak di lingkungannya. Namun, hasil ini tidak membuktikan bahwa axolotl dapat menghitung angka atau memiliki kemampuan matematika seperti manusia.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa kecerdasan hewan sebaiknya dipahami berdasarkan kebutuhan ekologis masing-masing spesies. Kemampuan yang terlihat sederhana bagi manusia bisa memiliki peran penting bagi hewan yang hidup di lingkungan tertentu. Dalam kasus axolotl, kemampuan memilih celah yang sesuai dapat membantu mengurangi risiko cedera ketika bergerak di habitatnya.
Penelitian ini juga memiliki potensi manfaat yang lebih luas, terutama untuk memahami kebutuhan axolotl dalam konservasi dan pemeliharaan di penangkaran. Pengetahuan mengenai cara hewan tersebut merasakan lingkungan dapat membantu meningkatkan kesejahteraannya, sekaligus mendukung penelitian lain yang berkaitan dengan perilaku dan regenerasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa masih banyak aspek kehidupan axolotl yang belum sepenuhnya dipahami, bahkan pada kemampuan dasar seperti menentukan jalan yang aman untuk dilewati.





















