Gebug Ende (commons.wikimedia.org/Manik Agung)
Tradisi Gebug Ende di Desa Seraya, Kabupaten Karangesem, Bali serupa dengan Ujungan, yaitu berupa pertarungan. Dilansir Disbudpar Karangasem, petarung Gebug Ende akan dipersenjatai dengan masing-masing satu tameng dan pemukul rotan sepanjang 1,5—2 meter.
Gebug Ende dilaksanakan untuk meminta hujan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Waktu pelaksanaannya pada musim kemarau, tepatnya pada Oktober hingga November. Berkat keunikannya, tradisi tersebut juga menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik lokal atau mancanegara.
Berbagai tradisi minta hujan di Indonesia menjadi bagian dari keanekaragaman budaya Tanah Air. Karena itu, perlu adanya pelestarian agar semua tradisinya tidak termakan oleh modernisasi dan akhirnya menghilang. Pelestarian sendiri baru bisa terwujud jika ada kerja sama yang kuat antara pemerintah dan masyarakat lokal.
Referensi:
"BMKG: Puncak Musim Kemarau Agustus 2026, Perkuat Kesiapan Hadapi Dampak El Nino". BMKG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Diakses Oktober 2026.
"Tradisi Minta Hujan, Kearifan Lokal Masyarakat Nusantara yang Bertahan". Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Diakses Oktober 2026.
"Tari Gundala Gundala". Karo Erlajar. Diakses Oktober 2026.
"Gebug Ende". Dispudpad Karangasem. Diakses Oktober 2026.