Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa Itu Godzilla El Niño dan Kenapa Bikin Kemarau Lebih Panjang?

Apa Itu Godzilla El Niño dan Kenapa Bikin Kemarau Lebih Panjang?
Ilustrasi kekeringan (pexels.com/Kritsada Seekham)
Intinya Sih
  • Fenomena El Niño terjadi akibat pemanasan suhu laut di Samudra Pasifik yang mengubah arah angin pasat, membuat wilayah Indonesia kehilangan suplai air hangat dan pembentukan awan hujan berkurang.
  • Julukan 'Godzilla El Niño' digunakan untuk menggambarkan versi El Niño yang sangat kuat, yang dapat memperpanjang musim kemarau dan menurunkan curah hujan secara ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.
  • Dampak El Niño meliputi kekeringan panjang, penurunan hasil pertanian, krisis air bersih, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan suhu udara panas di sejumlah daerah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang memiliki dua musim utama, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat sering merasakan bahwa musim kemarau berlangsung lebih lama dan terasa lebih ekstrem dari biasanya. Kondisi ini tidak terjadi tanpa sebab, tapi dipengaruhi oleh fenomena iklim global yang dikenal sebagai El Niño.

Fenomena El Niño menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pola cuaca di Indonesia. Saat terjadi, El Niño dapat menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan, sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada lingkungan, tetapi juga pada berbagai sektor kehidupan manusia, seperti pertanian dan ketersediaan air bersih.

Lalu, apa itu Godzilla El Niño? Kenapa fenomena ini bisa membuat musim kemarau dan kekeringan jadi lebih panjang?

1. Apa itu Godzilla El Niño dan bagaimana terjadinya?

Ilustrasi Laut dan Pembentukan Awan
Ilustrasi Laut dan Pembentukan Awan (pexels.com/Alexey Demidov)

El Niño adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, khususnya di sekitar garis khatulistiwa. Fenomena ini merupakan bagian dari sistem iklim global yang disebut ENSO atau El Niño Southern Oscillation, yang berperan besar dalam mengatur pola cuaca dunia.

Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat dan mendorong air hangat ke wilayah Indonesia. Hal ini membuat perairan Indonesia menjadi hangat, sehingga meningkatkan penguapan dan pembentukan awan hujan. Namun, saat El Niño terjadi, angin pasat melemah atau bahkan berubah arah. Akibatnya, air hangat berpindah ke tengah Pasifik dan meninggalkan wilayah Indonesia. Perubahan distribusi suhu laut inilah yang menjadi kunci utama mengapa pola cuaca di Indonesia ikut berubah secara signifikan.

Lalu, kenapa ada fenomena El Niño yang dijuluki "Godzilla"? Sebenarnya, pemberian nama "Godzilla" ini merujuk pada El Niño yang sangat kuat. Istilah ini pertama kali dilontarkan oleh ahli klimatologi NASA pada 2015.

2. Mengapa El Niño menyebabkan curah hujan menurun?

Ilustrasi Langit dengan awan tipis
Ilustrasi Langit dengan awan tipis (pexels.com/Stephen Leonardi)

Curah hujan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh suhu permukaan laut. Semakin hangat suhu laut, semakin tinggi tingkat penguapan yang terjadi, sehingga peluang terbentuknya awan hujan juga semakin besar. Saat El Niño berlangsung, suhu permukaan laut di sekitar Indonesia menjadi lebih rendah dibanding kondisi normal. Hal ini menyebabkan penguapan air laut berkurang, sehingga jumlah uap air di atmosfer juga menurun. Akibatnya, pembentukan awan hujan menjadi lebih sedikit.

Selain itu, pusat konveksi atau wilayah pembentukan awan hujan berpindah ke tengah Samudra Pasifik. Kondisi ini membuat wilayah Indonesia kehilangan tempat sebagai mesin utama pembentuk hujan, sehingga curah hujan pun menurun secara signifikan. Oleh sebab itu, wilayah Indonesia dapat mengalami kemarau dikarenakan kurangnya pembentukan awan ini.

3. Dampak El Niño terhadap musim kemarau di Indonesia

Ilustrasi dampak kekeringan
Ilustrasi dampak kekeringan (pexels.com/Long Bà Mùi)

Penurunan curah hujan akibat El Niño secara langsung berdampak pada panjangnya musim kemarau. Dalam kondisi ini, musim kemarau tidak hanya berlangsung lebih lama, tetapi juga menjadi lebih kering dan panas.

Beberapa wilayah di Indonesia, seperti Sumatra, Kalimantan, dan sebagian Jawa, sering mengalami kekeringan saat El Niño terjadi. Tanah menjadi lebih kering, debit air sungai menurun, dan cadangan air tanah berkurang. Kondisi ini juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang memiliki ekosistem gambut.

Selain itu, suhu udara cenderung meningkat karena berkurangnya tutupan awan yang biasanya berfungsi menahan radiasi matahari. Hal ini membuat kondisi lingkungan terasa lebih panas dan tidak nyaman.

4. Dampak El Niño bagi Kehidupan Sehari-hari

Ilustrasi kekeringan
Ilustrasi kekeringan (pexels.com/Pyae Phyo Aung)

Fenomena El Niño tidak hanya berdampak pada kondisi cuaca, tetapi juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Di sektor pertanian, misalnya, kekurangan air dapat menyebabkan tanaman gagal tumbuh atau mengalami penurunan hasil panen.

Di sisi lain, ketersediaan air bersih juga menjadi masalah serius, terutama di daerah yang bergantung pada air hujan sebagai sumber utama. Masyarakat di beberapa wilayah bahkan harus menghadapi krisis air saat musim kemarau berkepanjangan.

Tidak hanya itu, peningkatan kebakaran hutan akibat kondisi kering juga dapat menyebabkan kabut asap yang berdampak pada kesehatan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa El Niño memiliki efek berantai yang cukup luas dalam kehidupan sehari-hari.

El Niño merupakan fenomena iklim global yang memiliki dampak besar terhadap pola cuaca di Indonesia. Melalui perubahan suhu permukaan laut dan melemahnya angin pasat, fenomena ini menyebabkan penurunan curah hujan yang berujung pada musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

Memahami bagaimana El Niño bekerja menjadi hal yang krusial, terutama dalam menghadapi dampaknya di masa depan. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat dan pemerintah dapat mengambil langkah mitigasi yang tepat, seperti pengelolaan sumber daya air dan perencanaan pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Science

See More