Rio Haryanto, pembalap Indonesia di Formula 1 2016, tetap berupaya menjalankan ibadah puasa pada Grand Prix Kanada meskipun ada kekhawatiran tentang dampak fisik yang ditimbulkan. Piers Hunnisett, manajernya, mengungkapkan bahwa kekurangan asupan makanan dan cairan bisa memengaruhi tingkat konsentrasinya saat membalap dalam kecepatan 350 km/jam. Terlebih lagi, dehidrasi merupakan perhatian serius bagi tim medis, mengingat durasi balapan yang panjang dan tuntutan fisik yang sangat berat bagi pembalap.
Bagaimanapun, Rio Haryanto tidak memaksakan diri untuk berpuasa. Dirinya tetap mematuhi keputusan akhir mengenai pelaksanaan puasa pada hari balapan yang ditentukan oleh tim dan fisioterapis setelah mendapatkan saran yang ideal. Oleh karena itu, meskipun dia tetap mengusahakan beribadah sesuai agamanya saat melakoni Formula 1 Grand Prix Kanada 2016, faktor keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
Pada akhirnya, Ramadan merupakan bulan suci yang sangat dihormati di seluruh dunia, termasuk dalam penyelenggaraan Formula 1. Sejauh ini, tidak ada penolakan terhadap penyesuaian Formula 1 karena bulan suci itu. Harapannya, Ramadan tidak menurunkan semangat para petugas muslim di Formula 1 yang berpuasa.