Mikel Arteta: Arsenal Harus Menerima Rasa Sakit Ini

- Arsenal gagal meraih gelar Liga Champions pertama setelah kalah adu penalti dari PSG di final musim 2025/26, meski sempat unggul lebih dulu.
- Mikel Arteta meminta timnya menerima rasa sakit kekalahan ini sebagai pelajaran berharga dan bukti perkembangan signifikan Arsenal sepanjang musim.
- Arteta menegaskan kegagalan ini harus jadi motivasi untuk bangkit, karena proyek jangka panjang Arsenal masih di jalur yang benar menuju kesuksesan Eropa.
Jakarta, IDN Times - Arsenal kembali harus menunda impian meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub. The Gunners gagal mengangkat trofi usai kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) pada final Liga Champions 2025/26 yang berlangsung Sabtu (30/5/2026) malam WIB.
Kekalahan tersebut terasa semakin menyakitkan karena Arsenal sempat berada di jalur kemenangan. Tim asuhan Mikel Arteta unggul lebih dahulu sebelum PSG bangkit dan memaksa pertandingan ditentukan melalui adu penalti.
Hasil ini membuat Arsenal kembali harus menunggu untuk mencatat sejarah sebagai juara Liga Champions UEFA. Sementara bagi PSG, kemenangan tersebut menjadi pencapaian besar setelah mampu menunjukkan mental kuat di laga paling penting musim ini.
1. Arteta minta Arsenal menerima rasa sakit kekalahan
Seusai pertandingan, Mikel Arteta tak menyembunyikan rasa kecewanya. Namun pelatih asal Spanyol itu meminta para pemainnya menerima hasil tersebut dan menjadikannya sebagai pelajaran berharga.
Menurut Arteta, tidak ada pencapaian besar yang diraih tanpa melalui kegagalan dan kekecewaan.
"Kami harus menerima rasa sakit ini. Tidak ada yang bisa menghilangkan perasaan tersebut saat ini," ujar Arteta, dalam wawancaranya bersama TNT Sport, dikutip BBC. .
Ia menilai Arsenal telah menunjukkan perkembangan signifikan sepanjang musim. Mencapai final Liga Champions merupakan pencapaian yang tidak bisa dianggap remeh mengingat klub tersebut jarang berada di tahap ini dalam dua dekade terakhir.
"Kami belum berada di posisi ini selama bertahun-tahun. Hanya untuk kedua kalinya dalam sejarah klub kami mencapai final Liga Champions. Itu menunjukkan perjalanan yang sudah kami tempuh," katanya.
Meski kecewa, Arteta tetap memberikan penghormatan kepada PSG yang dinilainya layak menjadi juara.
"Mereka tim yang luar biasa. Kualitas individu mereka sangat tinggi dan mereka dilatih dengan sangat baik. Saya mengucapkan selamat kepada PSG," lanjutnya.
2. Arsenal harus belajar dari kegagalan
Arteta menegaskan, Arsenal tidak boleh larut terlalu lama dalam kesedihan. Ia meminta para pemain menggunakan pengalaman pahit di final Liga Champions sebagai motivasi kembali lebih kuat musim depan.
Menurutnya, setiap tim besar harus melewati fase kegagalan sebelum akhirnya mampu meraih trofi bergengsi.
"Jalani emosinya, rasakan rasa sakitnya, lalu belajar dari sana. Setelah itu, lihat ke depan dan tunjukkan lagi ambisi yang ingin kami miliki," kata Arteta.
Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan sang pelatih, proyek jangka panjang Arsenal masih berada di jalur yang tepat meski kembali gagal di panggung terbesar Eropa.
3. Penantian Arsenal masih berlanjut
Kekalahan dari PSG membuat Arsenal kembali gagal mengakhiri penantian panjang mereka di Liga Champions. Sebelumnya, The Gunners juga pernah mencapai final pada 2006, tetapi harus mengakui keunggulan Barcelona.
Meski demikian, perjalanan Arsenal sepanjang musim 2025/26 menunjukkan mereka semakin kompetitif di level tertinggi sepak bola Eropa. Dengan skuad yang relatif muda dan fondasi yang terus berkembang di bawah Mikel Arteta, harapan kembali bersaing memperebutkan gelar Liga Champions masih terbuka lebar.
Kini Arsenal harus menelan kekecewaan dan belajar dari kegagalan tersebut. Bagi Arteta, rasa sakit akibat kalah di final bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bahan bakar untuk mengejar mimpi yang belum berhasil diwujudkan musim ini.
















