Jusraga gelar diskusi membahas ekosistem basket Indonesia. (Dok. Jusraga)
Salah satu topik yang dibahas dalam diskusi adalah dampak format kompetisi yang diterapkan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk sistem kandang dan tandang. Regulasi penggunaan pemain asing di IBL musim 2027 juga menjadi perhatian. Pada musim mendatang, setiap klub diperbolehkan menurunkan maksimal dua pemain asing di lapangan.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan ruang lebih besar bagi pemain lokal untuk mendapatkan menit bermain. Dengan kesempatan yang lebih banyak, pemain Indonesia diharapkan dapat berkembang melalui persaingan di kompetisi IBL.
Selain regulasi pemain asing, pembinaan kelompok usia muda turut menjadi perhatian. Pembinaan yang berkelanjutan dinilai penting agar semakin banyak pemain lokal masuk ke dalam ekosistem liga dan pada akhirnya memperbesar pilihan pemain untuk kebutuhan Timnas basket putra Indonesia.
Sejumlah legenda dan mantan pemain nasional, seperti Fictor Roring dan Wahyu Widayat Jati, juga memberikan pandangan mengenai pentingnya memberikan ruang lebih besar bagi pemain lokal.
Mereka berharap kompetisi basket nasional dapat berlangsung dalam periode yang panjang dan konsisten. Dengan begitu, pemain Indonesia memiliki kesempatan yang cukup untuk berkembang dan meningkatkan kualitasnya.
Pandangan serupa disampaikan pencinta dan pemerhati basket Indonesia, Augie Fantinus, Udjo Project Pop, serta Bima Marzuki selaku CEO Media Buffet.
"IBL dan Perbasi perlu mempelajari success story proteksi pemain lokal lewat regulasi di liga China, Korsel, Taiwan, bahkan liga Spanyol. Kalau mereka bisa, kenapa kita nggak bisa?" ujar Bima dalam paparannya.