Mark Eaton dan Seni Bertahan, Kisah Center Utah Jazz Era 1980-an

Tidak ada yang membayangkan bahwa seorang laki-laki setinggi 224 sentimeter akan menghabiskan hidupnya dengan berdiri diam, menjadi batas, menjadi sosok yang seolah selalu mengatakan, “tidak boleh lewat!”. Dalam imajinasi populer, raksasa harus berlari, melompat, memecahkan ring, dan membuat kerumunan berteriak. Mark Eaton melakukan kebalikannya. Dia berdiri, menunggu, dan membuat orang lain berpikir dua kali. Dari sanalah kisahnya bermula. Bukan dari sorak-sorai, melainkan dari keheningan yang menakutkan.
Utah sendiri bukan kota besar. Jazz juga bukan tim glamor. Eaton bukan nama yang dijual di kaus anak-anak. Namun, justru di ruang sunyi itu, di antara pegunungan dan udara tipis, sebuah karier aneh tumbuh perlahan, seperti pohon tua yang akarnya tidak pernah dipedulikan orang, sampai suatu hari bayangannya menutupi seluruh halaman.
1. Terlambat menemukan takdir
Mark Eaton tidak dibesarkan bola basket. Dia dibesarkan bengkel mobil serta bau oli dan logam panas. Ayahnya seorang mekanik dan Eaton muda lebih akrab dengan baut dan mesin daripada bola oranye. Tingginya terus bertambah, seperti kesalahan pencetakan pada tubuh manusia, tetapi tidak ada yang segera berkata: "Ini dia masa depan NBA."
Dia baru benar-benar bermain basket dengan serius ketika sebagian besar calon profesional sudah memikirkan draf. Di tim basket junior college, lalu University of California, Los Angeles (UCLA), Eaton bukan bintang. Dia lebih seperti proyek tubuh raksasa yang dicoba dipahat agar berguna. Gerakannya kaku, langkahnya berat, dan sering tampak seperti orang yang datang ke pesta yang salah di lapangan.
Kendati demikian, keterlambatan itu justru yang membentuknya. Eaton tidak pernah menganggap basket sebagai hak alami. Tiap menit di lapangan terasa seperti pinjaman. Ada rasa syukur yang kasar di sana. Bercampur dengan kesadaran tentang tubuhnya yang bisa sewaktu-waktu menolak bekerja sama. Dari rasa itulah kedisiplinan lahir, bukan dari ambisi menjadi legenda. Eaton bekerja keras, bukan mengandalkan bakat.
2. Menguasai seni berdiri di tempat yang tepat
Utah Jazz memilihnya di putaran keempat NBA Draft 1982 nyaris seperti catatan kaki. Tidak ada kamera, tidak ada janji. Salt Lake City menyambut pemain yang sudah berusia 26 tahun itu dengan tenang, hampir acuh. Kota itu seolah berkata: "Kalau kamu berguna, tinggal. Kalau tidak, salju akan menelanmu."
Di sinilah Eaton menemukan perannya. Dia tidak diminta mencetak poin. Dia hanya diminta menjaga wilayahnya, seperti penjaga mercusuar yang tidak pernah meninggalkan pos. Pelatih mengajarinya hal sederhana yang sulit: berdiri di tempat yang benar. Tidak perlu melompat lebih tinggi dari siapa pun, cukup ada di sana.
Perlahan, lawan belajar membaca peta tidak kasatmata di area cat. Ada daerah terlarang bernama Mark Eaton. Drive yang biasanya masuk berubah menjadi pull-up ragu-ragu. Sementara, layup berubah menjadi umpan keluar yang tampak dipaksakan. Bahkan, sebelum blok tercatat, keputusannya sudah memenangkan Jazz satu penguasaan bola. Pertahanan Utah bersamanya dibangun bukan di atas agresi, melainkan intimidasi pasif, yang seringnya membuat lawan gentar. Eaton adalah arsiteknya.
3. Statistik yang tidak masuk akal pada masanya
Musim 1984/1985 datang seperti gangguan dalam statistik. Mark Eaton mencatat 5,6 blok per pertandingan. Angka itu tidak terasa nyata, bahkan hari ini. Dia seperti bilangan dari dunia lain, muncul di buku rekor tanpa penjelasan memadai.
Tiap malam, dia berdiri di bawah ring seperti jam tua yang berdetak pelan, tetapi pasti. Bola datang, tangan naik, dan mimpi orang lain runtuh. Tidak ada selebrasi berlebihan. Eaton jarang tersenyum setelah blok. Dia akan mengembalikan bola ke permainan, seperti tukang bangunan yang menyingkirkan puing, lalu kembali bekerja.
Menariknya, makin dominan bertahan, makin tidak terlihat dia dalam narasi besar NBA. Eaton tidak cocok untuk iklan. Tidak ada kisah kenaikan dramatis atau kejatuhan tragis. Dia terlalu stabil untuk jadi legenda populer. Terlalu efektif untuk diabaikan sepenuhnya. Dua kali Defensive Player of the Year terasa seperti pengakuan formal yang canggung, yang kemudian terasa seperti medali yang disematkan kepada tembok. Sementara, enam kali triple-double untuk Utah Jazz--dengan salah satu statistiknya berupa blok berdigit ganda--seperti urban legend yang kerap dilupakan orang.
4. Kesetiaan tiada batas untuk Utah Jazz
Mark Eaton memainkan seluruh kariernya untuk Utah Jazz. Tidak ada saga kepindahan, tidak ada drama kontrak besar. Dia datang, bekerja, dan pergi ketika tubuhnya tidak lagi sanggup. Dalam liga yang makin berisik, kesetiaan semacam itu terasa hampir kuno.
Setelah pensiun pada usia 36 tahun, dia juga tidak mengejar nostalgia. Dia berbicara, melatih, dan menjalani hidup dengan ritme yang sama seperti permainannya: tenang dan terukur. Dia tahu dirinya bukan ikon populer. Dia adalah bagian dari struktur. Struktur tidak menuntut tepuk tangan.
Ketika orang-orang mengenang era itu, nama Eaton sering muncul belakangan, seperti bangunan penting yang baru disadari setelah runtuh. Dia tidak pernah menjadi pusat cerita, tetapi tanpanya, banyak cerita tidak akan terjadi. Dia adalah alasan mengapa jalur tertentu tidak pernah diambil. Mengapa momen tertentu tidak pernah ada.
Mark Eaton mengajarkan banyak orang satu pelajaran yang jarang disukai: kehebatan tidak selalu bersuara. Dalam dunia yang memuja ledakan dan kecepatan, dia menunjukkan kekuatan dari diam dan posisi yang tepat. Dia tidak menaklukkan permainan dengan kehendak, tetapi dengan keberadaan yang konsisten.
Jika basket adalah cerita tentang ruang dan waktu, maka Eaton adalah penjaga ruang itu sendiri. Dia penentu batas. Mungkin, dalam hidup seperti dalam olahraga, orang-orang seperti itulah yang paling dibutuhkan. Mereka yang tidak ingin menjadi pusat perhatian, tetapi tanpanya, semua yang lain kehilangan bentuk.


















