Sejarah Formula 1 penuh dengan pelajaran mahal bagi tim-tim baru yang mencoba peruntungan tanpa persiapan matang. Tim seperti Super Aguri dan US F1 menjadi contoh nyata bagaimana kurangnya perencanaan dan eksekusi bisa mengakibatkan kegagalan total. Di sisi lain, tim-tim seperti Haas (2016), Jordan (1991), dan Sauber (1993) memperlihatkan keberhasilan dapat diraih bila didukung kombinasi pengalaman, investasi, dan strategi yang terukur.
Cadillac sudah menunjukkan langkah bijak dengan menggandeng sosok-sosok berpengalaman dari tim-tim besar. Sebut saja Nick Chester (mantan Performance Engineer Renault), Pat Symonds (mantan Chief Technical Officer Williams), serta John McQuilliam (mantan Chief Designer Jordan) menjadi bagian penting dalam membentuk fondasi tim. Selain membawa reputasi, kehadiran mereka juga menjamin transfer pengetahuan teknis yang krusial bagi tim yang sedang dibangun dari nol.
Terlebih lagi, dukungan penuh dari General Motors (GM) menjamin kestabilan finansial dan integrasi teknologi jangka panjang, terutama karena GM juga berencana memproduksi mesin F1-nya sendiri pada akhir dekade. TWG Global, melalui figur Mark Walter, memiliki rekam jejak investasi di klub-klub olahraga, seperti Los Angeles Lakers, Los Angeles Dodgers, dan Chelsea. Kombinasi ini memberikan Cadillac kredibilitas lebih dalam membangun tim dengan standar manajemen olahraga kelas dunia.
Meski demikian, modal dan koneksi saja belum cukup. Tim harus menghindari jebakan kepercayaan diri berlebih yang pernah menjerumuskan tim-tim seperti BAR-Honda dan Virgin Racing. Kesalahan umum seperti ketergantungan kepada sponsor fiktif, perekrutan pembalap tanpa kualitas kompetitif, serta pengembangan mobil yang terlalu cepat tanpa validasi teknis menjadi risiko nyata. Keputusan Cadillac belum merilis sponsor utama atau livery resmi, terutama setelah apa yang menimpa tim-tim masa lalu, patut dipandang sebagai strategi cerdas, bukan tanda ketidakmampuan.