Taufik Hidayat Jadi Lawan yang Paling Berkesan Buat Viktor Axelsen

- Viktor Axelsen mengenang laga melawan Taufik Hidayat di Denmark Open 2011 sebagai momen paling berkesan dalam kariernya, saat ia masih berusia 17 tahun.
- Pertandingan itu berlangsung sengit, Taufik sempat unggul di game pertama sebelum akhirnya Axelsen membalikkan keadaan dan menang dua game berikutnya dengan skor telak.
- Bagi Axelsen, kemenangan atas Taufik menjadi pengalaman penting yang membentuk mentalitasnya, karena ia menganggap sang legenda Indonesia sebagai pemain nyaris tanpa cela.
Jakarta, IDN Times - Legenda bulu tangkis Denmark, Viktor Axelsen, punya kenangan manis, khususnya saat menghadapi salah satu atlet asal Indonesia. Pertandingan masa lalu itu bahkan masih membekas kuat di ingatannya hingga saat ini.
Kenangan itu diceritakan sang penguasa tunggal putra yang baru saja gantung raket pada April tahun ini, saat menyapa fans di Jakarta, pada Minggu (24/5/2026). Dia datang sebagai brand ambassador Monitor ERP, perusahaan asal Swedia.
1. Pertandingan yang paling membekas bagi Axelsen

Sosok yang dimaksud Axelsen adalah legenda Indonesia, Taufik Hidayat. Momen epik dan berkesan itu tersaji dalam babak 16 besar Denmark Open di Odense, pada Oktober 2011 silam.
Kala itu, Axelsen yang masih 17 tahun harus menghadapi Taufik, peraih medali emas Olimpiade. Namun, fakta itu tak menciutkan nyali Axelsen, justru mendongkrak ambisinya untuk menang.
"Saya masih sangat ingat pertandingan itu, di kampung halaman, di depan keluarga dan teman-teman," kata Axelsen menjawab pertanyaan penggemar.
2. Pertemuan pertama dan terakhir

Pertandingan tersebut sama sekali tidak berjalan mudah bagi Axelsen. Taufik sempat menunjukkan kelasnya dengan merebut game pertama dengan kemenangan 21-16.
Namun, Axelsen muda menolak menyerah dan sukses membalikkan keadaan dengan mendominasi penuh pertandingan. Dominasi dan konsistensinya membuahkan kemenangan dalam dua game berikutnya secara telak, 21-9 dan 21-14.
Namun, Taufik yang sudah memasuki penghujung kariernya tidak sempat membalaskan kekalahannya. Pertemuan di Denmark menjadi yang pertama dan terakhir, karena pria yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga pensiun dua tahun setelahnya.
3. Anggap Taufik Hidayat sebagai pemain tanpa cela

Bagi Axelsen, kemenangan atas peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 itu memiliki arti mendalam bagi perkembangan mentalitasnya. Dia mengaku tidak merasa gentar, melainkan termotivasi untuk membuktikan diri di hadapan idolanya.
"Bisa bermain melawannya, meski dia sudah di penghujung kariernya, saya sangat termotivasi karena di masa jayanya adalah pemain yang nyaris tanpa cela," ujar Axelsen.


















