Keputusan mempertahankan Michael Carrick jauh dari jaminan jangka panjang. Jurnalis Sky Sports, Rob Dorsett, dan mantan pemain, Alan Smith, menyebutnya sekadar menunda eksekusi ketimbang kepercayaan penuh manajemen. Carrick kini hanya dipastikan memimpin Manchester United pada laga tandang melawan Chelsea tanpa kejelasan soal nasibnya setelah itu. Ketiadaan pernyataan tegas dari jajaran direksi melemahkan otoritas Carrick di ruang ganti, sebab para pemain tidak sepenuhnya yakin sang pelatih akan bertahan lama.
Setelah laga Chelsea, jadwal MU kian berat dengan kedatangan AS Roma di Liga Champions disusul laga kandang melawan Aston Villa yang tengah on fire sebelum jeda internasional tiba. Rentetan laga itu diyakini jadi titik evaluasi berikutnya bagi performa Carrick sekaligus momentum klub mengeksekusi pergantian pelatih apabila hasil tak kunjung membaik. Telegraph melaporkan, manajemen diam-diam menyiapkan rencana suksesi dengan Eddie Howe, Julian Nagelsmann, Antonio Conte, dan Unai Emery sebagai kandidat cadangan.
Dalam jangka pendek, Carrick dituntut segera memperbaiki hasil sekaligus menuntaskan keretakan hubungannya dengan Bruno Fernandes yang kemungkinan besar kembali masuk starting XI menghadapi Chelsea. Dengan performa saat ini, manajemen mencoba realistis dengan memasang target finis di posisi lima besar Premier League, bukan sekadar lolos dari ancaman degradasi. Tuntutan itu menegaskan ruang gerak Carrick kian sempit meski baru saja diberi kelonggaran oleh manajemen klub.
Tekanan pun tidak hanya tertuju kepada Carrick, tetapi juga masa depan Jason Wilcox dan Omar Berrada, yang turut dipertanyakan sejumlah pihak internal MU. Sumber internal klub menyebut, Sir Jim Ratcliffe berpotensi mempertimbangkan perombakan staf senior lebih luas apabila situasi tak kunjung membaik. Kondisi ini menggambarkan krisis MU bukan lagi sekadar persoalan taktik, melainkan telah merambat kepada seluruh struktur kepengurusan.
Bertahannya Michael Carrick lebih menggambarkan masalah struktural dan finansial yang membelit Manchester United ketimbang bukti nyata atas kapasitas taktiknya. Nasibnya kini bergantung pada kemampuan merekatkan ruang ganti yang retak sebelum laga-laga berat berikutnya menjawab apakah ia layak dipertahankan atau sekadar menunda yang tak terhindarkan.