Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Alasan MU Urung Memecat Carrick, Bukan Soal Percaya Proses
potret stadion Old Trafford, markas Manchester United (unsplash.com/Harry Walsh)
  • Manchester United mempertahankan Michael Carrick meski terpuruk di peringkat 16 setelah kalah dari Como dan Bournemouth, di tengah ketegangan internal yang melibatkan pemain, suporter, serta manajemen.
  • Pertimbangan finansial, utang klub, mahalnya kompensasi pelatih baru, dan belum adanya kandidat yang disepakati membuat manajemen menilai pergantian pelatih belum tentu menyelesaikan masalah struktural.
  • Nasib Carrick akan dievaluasi melalui laga melawan Chelsea, AS Roma, dan Aston Villa sebelum jeda internasional; manajemen juga menyiapkan kandidat pengganti sambil menargetkan posisi lima besar liga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ribuan suporter Manchester United meneriakkan nama Michael Carrick saat berjalan menuju terowongan Old Trafford usai dipermalukan 0-3 oleh AFC Bournemouth pada 25 Oktober 2026. Pemandangan itu ganjil sebab kekalahan telak di kandang biasanya mengakhiri karier pelatih, bukan jadi panggung penghormatan. Namun, Carrick dipertahankan dan membuat berbagai kalangan bertanya-tanya soal keputusan ini.

Kekalahan dari Bournemouth membuat MU terdampar di peringkat 16 klasemen English Premier League (EPL 2026/2027), hanya berjarak satu poin dari zona degradasi. Situasi itu kian pelik karena 4 hari sebelumnya, skuad Carrick dipermalukan 1-4 oleh Como 1907 di Liga Champions Eropa, hasil yang disebut sebagai penghinaan terhadap nama besar Setan Merah. Lantas, apa alasan MU mempertahankan Carrick usai hasil buruk?

1. Situasi internal Manchester United memanas usai kekalahan versus Como 1907 dan AFC Bournemouth

Krisis performa Manchester United kian disorot usai laga Liga Champions melawan Como pada 21 Oktober 2026. Kapten Bruno Fernandes buka suara mengkritik taktik timnya, wawancara pertamanya sejak Agustus 2026 yang jatuh tepat di titik terendah performa klub pada 2026/2027. Kritik itu muncul sepekan setelah Lisandro Martinez menyinggung kebijakan transfer dan kinerja direktur sepak bola MU, Jason Wilcox, usai kekalahan dari Atletico Madrid.

Situasi kian memburuk ketika MU dibungkam 0-3 oleh AFC Bournemouth di Old Trafford, hasil yang menjadi start terburuk dalam 40 tahun dari 8 laga awal musim. Pada momen yang sama, Fernandes hanya duduk 90 menit penuh sebagai penghangat bangku cadangan dengan alasan pertimbangan taktis. Di bagian tribun Stretford End, suporter membentangkan spanduk "Standards" bergambar siluet Eric Cantona, Bryan Robson, dan Roy Keane, sindiran bagi performa skuad saat ini.

Dilansir BBC Sport, Fernandes kedapatan menyukai unggahan Instagram berisi kalimat "Never push a loyal person to the point where they no longer care", sinyal ketidakpuasan yang memperlihatkan keretakan tim. Ironisnya, suporter tetap menyanyikan nama Carrick begitu laga usai, tetapi berbalik mencemooh para pemain begitu sang pelatih masuk ke lorong pemain. Pola dukungan itu menegaskan opini publik bahwa akar masalah performa buruk MU terletak pada skuad, bukan semata pada diri Carrick.

Di balik layar, kegelisahan melanda jajaran eksekutif klub. Salah satu mantan petinggi MU menyebut, dalam kondisi normal Carrick semestinya sudah dipecat karena disiplin tim telah rusak. Ketegangan itu memaksa Sir Jim Ratcliffe, keluarga Glazer, Omar Berrada, dan Wilcox menggelar rapat mendesak pada Senin (26/10/2026) untuk memutuskan nasib sang pelatih. Namun, keputusan tak kunjung muncul hingga hampir 44 jam berselang, yang menandakan betapa sulitnya manajemen Setan Merah bersikap tegas.

2. Manajemen Manchester United sadar, mengganti pelatih tak akan menyelesaikan masalah yang mengakar

Menurut The Athletic, pertimbangan finansial menjadi salah satu faktor utama di balik keputusan Manchester United mempertahankan Michael Carrick. Opsi merekrut Eddie Howe terbentur kompensasi besar kepada Newcastle United, ditambah gaji Howe dan asistennya, Jason Tindall, yang tidak sedikit. Beban itu kian berat mengingat MU masih menanggung utang 600 juta pound sterling, atau setara Rp14,49 triliun, peninggalan akuisisi Glazer pada 2005, di tengah pengeluaran lebih dari 50 juta pound sterling (Rp1,207 triliun) hanya untuk pesangon pemecatan pelatih sejak Sir Alex Ferguson pensiun.

Faktor lain yang menahan manajemen adalah belum adanya kandidat pengganti yang disepakati bersama. Nama Howe dan Julian Nagelsmann masuk radar, sementara Antonio Conte dikabarkan terbuka berdiskusi meski belum ada kontak langsung, tetapi petinggi klub belum satu suara. Sejumlah sumber menilai jeda internasional usai laga melawan AS Roma dan Aston Villa akan jadi momen lebih ideal bagi pelatih baru memulai kerja ketimbang di tengah jadwal padat saat ini.

Carrick sendiri menggelar pertemuan dengan para pemain dan staf pelatih di Carrington guna meredakan ketegangan internal, tanpa melibatkan direksi. Pertemuan itu disebut berjalan produktif, meski pembuktiannya baru terlihat di lapangan saat melawan Chelsea pada pekan ke-9 Premier League. Sejumlah petinggi klub meyakini, skuad Carrick mampu bersaing di papan atas, sehingga keterpurukan musim ini dinilai tidak sepenuhnya salahnya.

Preseden buruk pergantian pelatih turut jadi pertimbangan, mengingat MU telah berganti tujuh pelatih permanen sejak Ferguson mundur pada 2013 tanpa satu pun finis lebih baik dari runner-up. Pola itu memperkuat argumen bahwa mengganti pelatih bukan jaminan solusi instan bagi klub yang dibelit masalah struktural lebih dalam. Dukungan nyanyian suporter yang terus menggema di Old Trafford pun jadi sinyal tambahan, meski sebagian pihak menilainya lebih mencerminkan amarah terhadap Glazer dan INEOS ketimbang kepercayaan kepada Carrick

3. Nasib Michael Carrick di Manchester United ditentukan di tiga laga sebelum jeda internasional November 2026

Keputusan mempertahankan Michael Carrick jauh dari jaminan jangka panjang. Jurnalis Sky Sports, Rob Dorsett, dan mantan pemain, Alan Smith, menyebutnya sekadar menunda eksekusi ketimbang kepercayaan penuh manajemen. Carrick kini hanya dipastikan memimpin Manchester United pada laga tandang melawan Chelsea tanpa kejelasan soal nasibnya setelah itu. Ketiadaan pernyataan tegas dari jajaran direksi melemahkan otoritas Carrick di ruang ganti, sebab para pemain tidak sepenuhnya yakin sang pelatih akan bertahan lama.

Setelah laga Chelsea, jadwal MU kian berat dengan kedatangan AS Roma di Liga Champions disusul laga kandang melawan Aston Villa yang tengah on fire sebelum jeda internasional tiba. Rentetan laga itu diyakini jadi titik evaluasi berikutnya bagi performa Carrick sekaligus momentum klub mengeksekusi pergantian pelatih apabila hasil tak kunjung membaik. Telegraph melaporkan, manajemen diam-diam menyiapkan rencana suksesi dengan Eddie Howe, Julian Nagelsmann, Antonio Conte, dan Unai Emery sebagai kandidat cadangan.

Dalam jangka pendek, Carrick dituntut segera memperbaiki hasil sekaligus menuntaskan keretakan hubungannya dengan Bruno Fernandes yang kemungkinan besar kembali masuk starting XI menghadapi Chelsea. Dengan performa saat ini, manajemen mencoba realistis dengan memasang target finis di posisi lima besar Premier League, bukan sekadar lolos dari ancaman degradasi. Tuntutan itu menegaskan ruang gerak Carrick kian sempit meski baru saja diberi kelonggaran oleh manajemen klub.

Tekanan pun tidak hanya tertuju kepada Carrick, tetapi juga masa depan Jason Wilcox dan Omar Berrada, yang turut dipertanyakan sejumlah pihak internal MU. Sumber internal klub menyebut, Sir Jim Ratcliffe berpotensi mempertimbangkan perombakan staf senior lebih luas apabila situasi tak kunjung membaik. Kondisi ini menggambarkan krisis MU bukan lagi sekadar persoalan taktik, melainkan telah merambat kepada seluruh struktur kepengurusan.

Bertahannya Michael Carrick lebih menggambarkan masalah struktural dan finansial yang membelit Manchester United ketimbang bukti nyata atas kapasitas taktiknya. Nasibnya kini bergantung pada kemampuan merekatkan ruang ganti yang retak sebelum laga-laga berat berikutnya menjawab apakah ia layak dipertahankan atau sekadar menunda yang tak terhindarkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article