Tampil Impresif, 3 Alasan Prancis Bisa Jadi Juara Piala Dunia 2018

Prancis secara heroik mampu mengalahkan Argentina dengan skor 4-3 pada laga knock out Piala Dunia 2018 Sabtu Malam (30/6/2018). Meskipun sempat tertinggal 2-1 di babak kedua, mereka mampu membalikkan keadaan melalui gol Pavard dan brace Kylan Mbappe.
Hasil ini merupakan sebuah pencapaian yang sangat luar biasa bagi pasukan Didier Deschamps, notabene diisi oleh para pemain muda yang belum memiliki pengalaman di kompetisi sebesar Piala Dunia.
Kemenangan ini sendiri mampu membawa optimisme bagi Les Blues untuk mengulangi sejarah Piala Dunia 1998, di mana saat itu mampu menjadi juara Piala Dunia yang pertama kalinya.
Meskipun terhitung masih dini untuk menentukan siapa yang akan menjadi juara Piala Dunia 2018, namun Prancis memang layak untuk menjadi tim yang potensial menjadi juara. Berikut alasannya.
1. Memiliki deretan striker berbahaya

Prancis memang tampil tak terkalahkan di fase grup dengan mengkoleksi 7 poin dari dua kemenangan dan sekali hasil imbang, namun ada satu hal yang jadi kritikan yaitu striker mereka tampil tumpul.
Dari 3 laga di fase grup, Prancis hanya mampu mencetak tiga gol. Itupun hanya melalui sebuah gol bunuh diri, penalti dan satu gol Kylan Mbappe.
Namun saat menghadapi Argentina, para striker Prancis menunjukan tajinya. Trio striker Mbappe-Griezmann-Giroud mampu tampil sangat apik dan efektif. Bahkan Mbappe mampu mencetak dua gol dan menjadi aktor utama atas penalti yang berhasil dieksekusi oleh Antoine Griezmann, yang menjadi gol keduanya di Piala Dunia 2018.
Khusus bagi Mbappe, dia memecahkan rekor sebagai pemain termuda yang mampu mencetak dua gol dalam satu pertandingan di Piala Dunia, yang terakhir kalinya dilakukan oleh Pele pada Piala Dunia 1958.
Oliver Giroud sendiri tampil konsisten dan efektif. Meskipun belum mencetak satu gol pun, pergerakannya di lini depan Prancis mampu menjadi pembuka jalan bagi striker lainnya menjebol gawang lawan.
Deretan striker muda ini tentunya mengingatkan kita akan skuad Prancis di Piala Dunia 1998. Saat itu mereka diisi oleh pemain muda seperti Zinedine Zidane (25 tahun), Thiery Henry (20), David Trezeguet (20), dan Patrick Viera (21 tahun).
Jika mereka mampu tampil konsistern seperti yang dipertunjukkannya saat mengalahkan Argentina, bukan tak mungkin Paul Pogba dkk bisa menjadi juara.
2. Hadir dengan sebuah generasi emas

Pasukan Didier Deschamps yang dibawa ke Rusia memanglah didominasi oleh peman-pemain muda. Hanya ada 6 pemain yang merupakan alumni dari Piala dunia 2014. Griezmann, Pogba dan Hugo Lloris menjadi satu di antaranya. Sedangkan sisanya merupakan debutan dan masih belum memiliki pengalaman di ajang empat tahunan ini.
Namun hal tersebut bukan berarti mereka merupakan pemain yang biasa saja. Justru generasi Prancis saat ini bisa disebut sebagai generasi emas. Les Blues diisi oleh nama-nama seperti Kylan Mbappe, Paul Pogba dan Ousmane Dembele yang merupakan salah satu pemain termahal dunia saat ini.
Tak cukup itu, mereka pun memiliki pemain-pemain yang tampil gemilang dan menjadi pemain terbaik di level klubnya masing-masing. Griezmann berhasil membawa Atletico Madrid juara Liga Eropa musim 2017/2018.
Kante yang merupakan pemain terbaik Liga Inggris musim 2016/2017 sekaligus peraih French Player of The Year, serta Varane dan Umtiti yang berhasil membawa klubnya masing-masing yaitu Real Madrid dan Barcelona menjadi juara di Liga Champions dan La Liga.
Kedalaman pemain skuad Prancis saat ini sangatlah luar biasa. Hal ini menjadi modal yang sangat baik bagi Didier Deschamps untuk meraih gelar juara Dunia. Mereka hanya butuh konsistensi untuk tetap bermain baik seperti yang ditunjukannya saat menghadapi Argentina.
3. Faktor Didier Deschamps

Didier Deschamps merupakan kapten Prancis di Piala Dunia 1998 yang berhasil memimpin rekan-rekannya untuk menjuarai Piala Dunia. Kini dia hadir kembali ke timnas dengan sebuah posisi yang berbeda, sebagai manajer tim.
Menangani Prancis sejak 2012, dia berhasil membawa tim ayam jantan kembali menjadi sebuah tim yang disegani, setelah sebelumnya Prancis harus terpuruk di Piala Dunia 2010 dan menyisakan sebuah permasalahan internal di dalam tubuh tim.
Piala Dunia 2010 menjadi masa terkelam Prancis dalam sejarah Piala Dunia karena gagal lolos dari fase grup dan berada di dasar klasemen dengan 1 poin. Namun yang menjadi ironi adalah perselisihan yang terjadi diantara pemain dan pelatih yang terjadi saat itu.
Namun berkat kehadiran Deschamps, Prancis kembali bangkit setahap demi setahap. Piala Dunia 2014 menjadi ajang Piala Dunia pertama Deschamps menjadi pelatih Prancis. Hasilnya pun tak terlalu buruk, mereka mampu melangkah hingga perempat final sebelum ditaklukan Jerman dengan skor 1-0.
Ajang Euro 2016 menjadi pembuktian selanjutnya tangan dingin Deschamps, Prancis mampu tampil luar biasa hingga babak final, setelah berhasil membalasakan dendamnya dengan mengalahkan Jerman di semifinal dengan skor 2-0. Sayangnya, dewi fortuna tak berpihak kepada mereka, di babak final mereka harus menyerah di tangan Portugal dengan skor 1-0.
Kini Piala Dunia 2018 akan menjadi langkah selanjutnya Deschamps untuk memberikan sebuah trofi bagi Prancis. Langkah pertama telah berhasil dilalui setelah mengalahkan Argentina di babak knock out. Lalu mampukah dia meimpin kembali pasukan Prancis untuk meraih Piala Dunia? Let's see.

















