Luka Modric, Casemiro, dan Toni Kroos saat merayakan trofi UEFA Super Cup 2022 (twitter.com/realmadriden)
Skema dasar 4-3-3 yang acap diterapkan Zidane, membentuk trio Kroos-Casemiro-Modric ini jadi trio yang cair. Alih-alih main elegan, mereka bermain lebih simpel dengan sirkulasi bola cepat. Ketiganya juga mampu saling mengisi.
Casemiro, selain jadi pelindung bek, memberikan cover juga bagi Kroos dan Modric. Di sisi lain, Kroos dan Modric jadi duo metronom permainan, dengan jangkauan dan aliran bola yang super luas. Mereka bisa mengcover seluruh area lapangan.
Daya jelajah Modric dan Kroos di lini tengah juga layak diapresiasi. Mereka mampu mengeksploitasi semua sisi lapangan dengan umpan-umpan mereka, plus permainan kombinasi dengan bek atau winger. Mereka nyaman melakukan itu karena Casemiro.
Casemiro selalu mengikut Modrid dan Kroos dari jarak dekat, memastikan bahwa bola selalu berada dalam kuasa mereka. Ketika serangan balik, Kroos, Modric, dan Casemiro juga bisa menerapkan permainan direct.
Tak bisa dimungkiri, fleksibilitas taktik Madrid hingga kini merupakan buah dari fleksibilitas Modric, Casemiro, dan Kroos. Ketiganya mampu beradaptasi dengan skema permainan apa pun, sehingga ketika Cristiano Ronaldo pergi, Madrid tetap ciamik.
Tak heran juga, trio ini sudah menyumbangkan banyak gelar untuk Madrid. Tercatat, ketiganya menyumbangkan dua trofi LaLiga, tiga trofi Liga Champions, tiga trofi Piala Super Eropa, tiga trofi Piala Super Spanyol, dan empat trofi Piala Dunia Antarklub.