Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dampak Taktis Hattrick Eberechi Eze bagi Kreativitas Serangan Arsenal

jersey Arsenal
potret jersey Arsenal (unsplash.com/Nelson Ndongala)
Intinya sih...
  • Eberechi Eze menjadi motor serangan Arsenal ketika Martin Odegaard absen
  • Fleksibilitas posisi Eze menghadirkan ancaman yang tak terduga bagi lawan
  • Eberechi Eze jadi pemain keempat yang mencatatkan hattrick dalam Derbi London Utara
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Arsenal memasuki English Premier League (EPL) 2025/2026 dengan ambisi besar setelah perburuan gagal meraih gelar juara pada musim sebelumnya. Cedera yang menimpa Martin Odegaard sempat memunculkan kekhawatiran tentang hilangnya kendali kreativitas di lini tengah. Namun, kedatangan Eberechi Eze dari Crystal Palace langsung menawarkan solusi yang menghidupkan kembali permainan ideal Arsenal.

Performa Eze menunjukkan aspek magis yang telah lama dicari Mikel Arteta untuk membongkar pertahanan lawan yang bermain rapat. Setiap sentuhan, pergerakan, dan keputusan akhirnya memberikan alternatif baru dibandingkan pendekatan serangan The Gunners sebelumnya. Semua itu mencapai puncaknya ketika ia mencatatkan hattrick di Derbi London Utara melawan Tottenham Hotspur pada pekan ke-12 Premier League.

1. Eberechi Eze mampu menjadi motor serangan Arsenal ketika Martin Odegaard absen

Arsenal merekrut Eberechi Eze dengan agenda jelas sebagai pembeda yang bisa mengubah jalannya pertandingan ketika tim kesulitan menembus blok rendah lawan. Mikel Arteta menyebut, kualitas dan karakter Eze menjadi daya tarik utama yang membuat Arsenal berani menebusnya hingga 67,5 juta pound sterling (Rp1,473 triliun). Ia juga didatangkan sebagai pelapis ketika Martin Odegaard mengalami masalah kebugaran yang kemudian memaksanya absen cukup lama.

Absennya Odegaard karena cedera lutut membuat Eze mengambil alih tanggung jawab sebagai sumber kreativitas di area antarlini. Ia kini menempati peran number 10 dan menjadi motor serangan Arsenal dalam membangun peluang. Peran tersebut memberinya ruang untuk berkembang sebagai pengendali fase akhir serangan tim.

Statistik juga menunjukkan perbedaan gaya antara keduanya. Menurut laman resmi Premier League, Eze mencatat 3,85 tembakan per 90 menit, yang menempatkannya di peringkat ketiga di bawah Erling Haaland dan Anthony Gordon. Catatan ini menandai pendekatan yang lebih direct dan berorientasi kepada penyelesaian peluang dibanding Odegaard yang sering lebih fokus pada pengelolaan ritme dan kreativitas berbasis sirkulasi bola. Arteta pun menyatakan, Eze mampu mengeksekusi tembakan dengan kedua kaki, baik dari bola yang mengalir maupun memantul, sehingga ia ideal ditempatkan di area dekat kotak penalti lawan.

Eze tidak hanya menunjukkan kualitas teknis, tetapi juga motivasi yang mengesankan. Ia sering meminta tambahan sesi latihan bahkan ketika mendapat jatah libur 2 hari, sambil terus berdiskusi dengan Arteta tentang detail yang ingin ia kembangkan. Perpaduan antara keinginan berkembang dan kapasitas eksekusi menjadi landasan munculnya kontribusi instan yang kini dirasakan Arsenal.

2. Fleksibilitas posisi Eze menghadirkan ancaman yang tak terduga bagi lawan

Sejak tiba di Emirates Stadium, Eberechi Eze sudah memainkan 4 peran berbeda dalam 8 laga, yakni winger kiri, gelandang kanan, gelandang kiri, dan number 10 sentral, yang mengonfirmasi fleksibilitas taktisnya di bawah arahan Mikel Arteta. Ia memberi Arsenal kemampuan untuk berganti pendekatan tanpa harus mengganti susunan pemain secara drastis.

Kemampuan umpan progresifnya tampak dalam momen ketika ia mengirim umpan lambung terukur yang dimanfaatkan Gabriel Martinelli untuk menyamakan kedudukan menghadapi Manchester City pada pekan ke-5 Premier League. Selain itu, ia juga bisa menjadi sprinter yang menerima umpan jauh, seperti pada proses gol Viktor Gyokeres setelah memanfaatkan bola atas dari Riccardo Calafiori melawan Nottingham Forest pada pekan ke-4 liga. Kemampuan memberikan opsi pada dua fase tersebut membuat Eze menjadi pemain yang sulit diprediksi oleh lawan.

Secara defensif, Eze menunjukkan peningkatan yang menjawab keraguan awal. Salah satu contohnya terjadi saat Derbi London Utara, ketika ia berlari cepat mengejar bola untuk memutus serangan balik Tottenham Hotspur pada menit ke-75, yang mencerminkan komitmennya terhadap transisi negatif. Perpaduan visi bermain dan kerja defensif membuatnya berperan tidak hanya sebagai kreator serangan, tetapi juga selaku bagian penting dalam keseluruhan alur permainan tim.

Arteta membutuhkan sosok yang mampu merusak struktur pertahanan lawan yang menumpuk banyak pemain di area belakang, dan Eze memperlihatkan kapasitas untuk menciptakan gangguan di ruang sempit tersebut. Ia mencetak gol kemenangan 1-0 atas Crystal Palace pada pekan ke-9 melalui sepakan akrobatik setelah memanfaatkan bola rebound dari situasi bola mati. Aksi itu menegaskan perannya sebagai solusi Arsenal dalam menghadapi laga sulit.

Dengan kontribusi yang begitu nyata, peran Eze kini melampaui status sebagai pelapis Martin Odegaard semata. Ia menawarkan pendekatan berbeda yang memperkaya variasi serangan Arsenal. Kehadirannya membuat tim lebih dinamis, lebih berani menekan, dan jauh lebih sulit dibaca lawan.

3. Eberechi Eze jadi pemain keempat yang mencatatkan hattrick dalam Derbi London Utara

Puncak awal perjalanan Eberechi Eze di Arsenal terjadi pada Derbi London Utara melawan Tottenham Hotspur. Ia mencetak 3 gol dalam kemenangan 4-1 yang membuat Arsenal unggul 6 poin di puncak klasemen Premier League 2025/2026. Semua golnya tercipta melalui eksploitasi ruang di sekitar tepi kotak penalti, yang membuktikan ketajaman eksekusi dalam berbagai situasi penyelesaian.

Performa itu sekaligus menahbiskan dirinya dalam sejarah derbi. Dilansir Opta Analyst, Eze menjadi pemain keempat sepanjang sejarah yang mencetak hattrick pada North London Derby dalam kompetisi resmi, setelah Ted Drake (1934), Terry Dyson (1961), dan Alan Sunderland (1978). Dirinya bahkan nyaris mencetak gol keempat jika sepakannya tidak ditepis Guglielmo Vicario pada menit akhir laga.

Kisah personalnya menambah dramatisasi momen tersebut. Ia merupakan lulusan akademi Arsenal yang pernah dilepas, kemudian menolak Spurs dan memilih kembali ke Arsenal, klub masa kecilnya, melalui telepon langsung kepada Arteta. Sebelum laga, Pelatih Spurs, Thomas Frank sempat meremehkannya, tetapi jawaban Eze datang dalam bentuk tiga gol yang membungkam keraguan tersebut.

Arsenal kini memiliki dua otak permainan dengan karakter berbeda. Martin Odegaard sebagai pengatur tempo, dan Eberechi Eze sebagai pencipta momen penentu. Performa gemilangnya saat sang kapten absen membuktikan kedalamannya bukan lagi sekadar alternatif, melainkan pilar baru dalam struktur dominasi Arsenal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More

5 Pemain Brentford yang Selalu Tampil hingga Pekan Ke-21 EPL 2025/2026

12 Jan 2026, 10:28 WIBSport