Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Di Balik Layar Pemecatan Xabi Alonso oleh Real Madrid, Penuh Friksi
Ilustrasi logo Real Madrid. (pexels.com/simonreza)

  • Perubahan radikal dalam gaya pelatihan dan aturan baru memicu perlawanan pemain

  • Vinicius Junior mengamuk tanpa denda, membuat Alonso kehilangan ruang ganti

  • Alonso dipecat secara tiba-tiba setelah kekalahan dari Barcelona tanpa pemberitahuan sebelumnya

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemecatan Xabi Alonso dari kursi pelatih Real Madrid datang seperti petir di siang bolong. Meski sudah bisa diprediksi, tapi tetap saja keputusan memecat Alonso dianggap begitu terburu-buru dan kontroversial.

Sebab, secara statistik, Alonso merupakan salah satu pelatih Madrid dengan persentase kemenangan terbesar, 71 persen. Ketika datang ke Santiago Bernabeu, Alonso juga disambut dengan baik, bahkan dielu-elukan seluruh pihak.

Namun, ternyata akhir dari Alonso begitu tragis. Dia dipecat secara tidak hormat dan penuh dengan friksi. Seperti apa?

1. Perubahan yang picu perlawanan pemain

Alonso direkrut sebagai pengganti Carlo Ancelotti dengan mandat jelas, membawa disiplin baru. Akhirnya, Alonso melakukan perubahan radikal dan menciptakan aturan-aturan baru yang dianggap para pemain kaku. Intensitas latihan juga tinggi, karena ingin menerapkan tekanan agresif dalam permainan. Kemudian, Alonso juga berfokus pada taktik dan menuntut pada presisi momentum di setiap laga.

"Staf kepelatihan baru menginginkan intensitas yang lebih tinggi dalam latihan dan pertandingan. Lebih banyak tekanan, instruksi, dan analisis taktik. Mereka menuntut ketepatan waktu yang lebih baik serta privasi lebih besar di sekitar tim," begitu laporan The Athletic.

Namun, pendekatan ini justru memicu resistensi internal. Pada Oktober 2025, mulai muncul rasa tidak puas yang signifikan di balik layar. Sejumlah pemain berontak, merasa kebebasannya direnggut oleh Alonso saat berlatih dan bermain. Menurut sejumlah pemain, Alonso menerapkan aturan kaku. Selain itu, Alonso terlalu eksklusif, tak seperti Carlo Ancelotti yang mau membaur dengan pemain.

2. Amukan Vinicius Junior yang jadi bukti

Momen krusial terjadi Vinicius Junior mengamuk ketika diganti dalam El Clasico kontra Barcelona jilid I pada musim 2025/26. Amukan Vinicius ternyata tak ditanggapi dengan keras oleh manajemen Madrid, termasuk Presiden Florentino Perez. Vini meminta maaf, hingga akhirnya tak menjatuhkan denda.

Ketika Vini meminta maaf, justru Alonso yang mulai tersudut. Posisinya saat itu langsung rawan karena ternyata Perez lebih berpihak kepada pemain. Apalagi, saat menggelar negosiasi kontrak baru dengan Vini, ada tendensi baru mau tanda tangan jika Alonso cabut.

"Madrid memutuskan untuk tidak mendenda Vinicius Jr atas ledakan emosinya. Menurut berbagai sumber, inilah momen ketika Alonso mulai benar-benar kehilangan ruang ganti,” tulis The Athletic.

3. Didepak tanpa diberi tahu

Momen paling menyakitkan adalah ketika Alonso dipecat usai kalah dari Barcelona di final Piala Super Spanyol. Setelah kekalahan itu, Alonso bersama staf kepelatihannya sedang menganalisis penyebab kekalahan dari Barcelona.

Tiba-tiba, dia diminta datang ke Valdebebas, kamp latihan Madrid.

"Alonso diminta datang ke tempat latihan. Di sana, sang pelatih diberi tahu telah dicopot dari jabatannya, dalam sebuah pertemuan dengan Jose Angel Sanchez, Direktur Umum Madrid," tulis The Athletic.

Pemecatan itu menjadi sebuah tanda jika tradisi lama di Madrid belum berubah. Pemain lebih berkuasa dan pelatih selalu jadi kambing hitam. Bahkan, sumber dalam Madrid menyatakan Alonso hanyalah korban dari para pemain yang selalu main di bawah performa terbaiknya.

Di sisi lain, Alonso merasa keputusan manajemen memecatnya salah dan tidak adil. Dia menyatakan semua bermula dari kultur di Madrid yang tak kunjung berubah dalam waktu lama.

Editorial Team